Apakah Menggunakan Kemenyan Bidah? Ini Penjelasannya dalam Semiotika Hadis 

1
2189

BincangSyariah.Com – Menurut sebagian kelompok, menggunakan kemenyan bidah dilakukan sehingga terlarang. Jawabannya, betul memang dalam al-Qur’an dan Hadis tidak pernah disebutkan bahwa Nabi ataupun sahabat pernah menggunakan kemenyan.

Namun, bukan berarti penggunaan kemenyan dalam ritual ibadah menjadi terlarang sebab tidak pernah dilakukan oleh Nabi, sahabat dan tabiin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemenyan didefinisikan dengan “dupa dari tumbuhan Styrax Benzoin yang harum baunya ketika dibakar.”

Tiga tahap semiosis tanda menurut Pierce adalah proses pengindraan representamen (al-mumattsil) terhadap tanda, kaitan antara representamen dengan kognisi manusia sehingga menghasilkan object (al-maudhû’), dan cara pemaknaan tanda dengan mengaitkan representamen dan object yang disebut dengan interpretant (al-mufassir). Dalam proses pemaknaan yang terjadi dalam kognisi manusia yang berkaitan dengan object, Pierce (Hoed, 2014: 9-10) membagi tanda menjadi tiga, index, icon, dan symbol.

Index adalah tanda yang hubungan antara represantemen dan objectnya bersifat kausal. Dalam hal ini, kemenyan adalah represantemen dari bau wangi yang menjadi object-nya. Sedangkan icon adalah kategori tanda yang represantemennya memiliki keserupaan identitas dengan object yang ada dalam kognisi manusia yang bersangkutan.

Dalam hal ini, tumbuhan atau kayu adalah icon dari kemenyan. Dan symbol adalah tanda yang makna represantemennya diberikan berdasarkan konvensi sosial. Bau kemenyan tidak sekedar mewakili object ‘kemenyan’, tetapi dapat mempunyai makna sosial yang disepakati, yaitu misalnya, sedang ada pembacaan Manâqib Syaikh Abdul Qadir atau ritual istigatsah dalam tradisi pesantren salaf.

Dalam banyak hal, Nabi Muhammad saw. sering menganjurkan menggunakan wangi-wangian dalam beribadah atau pun dalam berinteraksi sosial. Paling tidak, saya menemukan dua icon yang dijadikan Nabi sebagai parfum, misk dan aluwwah. Misk adalah sejenis tumbuhan yang diolah sebagai alat pewangi, kata tersebut adalah bentuk mu’arrab dari bahasa Persia. Dalam kebudayaan Arab, misk disebut juga dengan masymus (Al-Jauhari, 1987: 4, 1608). Aluwwah pun adalah kata mu’arrab dari bahasa Persia, yaitu kayu yang dibakar dan dijadikan sebagai pewangi (Al-Jauhari, 1987: 6, 2271).

Baca Juga :  Etika Bercinta Suami Istri dalam Bingkai Sunah Nabi

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar ketika hendak mendupa, ia menggunakan kayu aluwwah murni atau kâfûr (semacam wewangian) yang dicampur dengan kayu aluwwah. “Seperti inilah yang Nabi lakukan ketika hendak mendupa,” jelas Ibnu Umar. (H.R. Muslim).

Al-Nawawi (1392: 15, 10) memperkuat anjuran menggunakan wewangian dalam berbagai situasi, di antaranya ketika hendak salat Jumat, salat Id, menghadiri pengajian, istigatsah, ziarah, dan lain sebagainya.Oleh karena itu, saya ingin menagaskan sekali lagi bahwa menggunakan wewangian dalam beribadah adalah sunah Nabi, tidak terlarang, termasuk menggunakan kemenyan. Itulah semiosis tanda kemenyan dalam tradisi Jawa yang berkaitan dengan ritual ibadah.

1 KOMENTAR

  1. Tersedia kemenyan asli sebagai bahan dupa.
    Kemenyan juga digunakan untuk fumigasi rumah dengan cara membakar kemenyan, sehingga rumah menjadi harum dan wangi serta sehat, bahkan penghuninya semakin diberkati.

    Bila anda membutuhkan kemenyan, hubungi kami:
    Whatsapp: +085372827066.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here