Kembalikan Semua kepada Allah!

0
820

BincangSyariah.Com – Hari-hari kemarin, dalam rentang waktu sekitar satu tahun, ibu kota Indonesia, Jakarta, berada dalam situasi menegangkan dan mencekam. Relasi antarkelompok, sebangsa, setanah air bahkan seagama mengalami retak.

Cacimaki, fitnah, saling tuduh, stigmatisasi, dan berbagai kekerasan verbal terus berhamburan sepanjang waktu, di ruang nyata dan ruang maya. Sejumlah tokoh besar, pemimpin yang dihormati jutaan orang, tak lepas dari serangan kekerasan verbal tersebut.

Etika dan kesantunan yang diajarkan oleh agama-agama, tradisi-tradisi lokal dan etika kemanusiaan selama berabad tak digubris, tak lagi berarti dan tak lagi berharga. Yang ada dalam pikiran masing-masing adalah kemenangan diri dan kekalahan lawan. Dan cara paling ampuh untuk mengalahkan lawan adalah menebarkan isu agama. Sebagian orang menyebutnya “mempermainkan agama”.

Terhadap keadaan ini, banyak orang bertanya dengan gelisah dan galau, “Bagaimana sebaiknya atau seharusnya kita bersikap?”

Saya mencoba mencari jawab atas pertanyaan penting ini dari khazanah Islam klasik. Saya menemukan bahwa situasi seperti ini sesungguhnya terjadi pada setiap periode dalam sejarah umat manusia, kapan pun dan di manapun. Lalu saya juga menemukan kisah ini.

Syekh Sya’rani menulis surat kepada gurunya di Maroko. Ia mengadu padanya soal kekerasan sekelompok massa terhadap dirinya. Sang guru membalas,

لَا تَشْتَغِلْ بِمَنْ يُؤْذِيكَ قَطّ. وَاشْتَغِلْ بِاللهِ، يَرُدُّهُ عَنْكَ. وَقَدْ غَلَطَ فِى هَذَا اْلاَمْرِ خَلْقٌ كَثِيرٌ وَاشْتَغَلُوا بِمَنْ آذَاهُمْ فَطَالَ اْلاَذَى مَعَ اْلإِثْمِ . وَلَو اَنَّهُمْ رَجَعُوا اِلَى اللِه لَكَفَاهُمْ اَمْرَهُمْ وَلَرَدَّهُمْ عَنْهُمْ. وَالسَّلَام.

Janganlah kau sibuk [meladeni] orang yang menyakitimu. Sibukkan dirimu dalam mengingat Allah. Dialah yang akan menjawab mereka. Banyak orang yang keliru mengenai soal ini. Orang-orang itu sibuk meladeni para pelaku kekerasan itu.

Baca Juga :  Kenapa Salat Id dilaksanakan tanpa Adzan dan Iqamat?

Maka kekerasan itu akan berlangsung makin lama, penderitaan makin panjang dan dosa akan terus menyertai mereka. Andaikata orang-orang itu memulangkannya kepada Allah, niscaya Dia akan menyelesaikan dan menjawab mereka.

Ini adalah cara yang ditempuh kaum sufi. Orang lain atau perspektif lain tentu bisa mengambil cara lain.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here