Kemaksiatan Terkadang Lebih Baik daripada Ketaatan Jika …

1
341

BincangSyariah.Com – Perbuatan maksiat memang perilaku yang dicela oleh Allah tapi kadang dari maksiat orang itu bisa menjadi baik bahkan bisa jadi kekasih Allah. Dia bisa jadi merasa hina di antara yang paling hina di dunia ini, sehingga dengan maksiatlah manusia berpikir seakan di dunia ini tidak ada gunanya maka dari inilah kadang ingin berhenti dari perbuatan maksiat (taubat) dan seketika itulah semua maksiat yang di lakukan sebelumnya dihapus oleh Allah.

Seperti contoh Imam Fhudail bin Iyadh yang awalnya menjadi begal atau penodong di zamannya, tetapi beliau berhenti (imsak) setelah tiga puluh tahun berprofesi sebagai begal. Dan beliau bisa menjadi kekasih Allah. Namum sebaliknya jika ada orang yang selalu melakukan kebaikan kemudian dia sombong dengan amalnya sekaan bangga karena punya amal seperti apa yang ia kerjakan maka pada hakekatnya dia rendah dan tidak ada nilainya manurut Allah.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari mengemukan dalam karyanya kitab Al-Hikam terkait pelaku maksiat yang meyesali perbuatan nya, dan ia butuh pada ampunan Allah.

معصية أورثت زلا وافتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا

Artinya:  Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan.”

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari memberi kesimpulan dalam konteks di atas.

فثمرة الطاعة هي الذل والأنكسار وثمرة المعصية هي القسوة والأستكبار فإذا أنقلبت الثمرات أنقلبت الحقائق صارت الطاعة معصية والمعصية طاعة

Artinya:

Buah dari ketaatan adalah rasa hina dan hati yang hancur, dan buah dari kemaksiatan adalah hati yang keras dan kesombongan. Oleh karena itu apabila buah tersebut terbalik, maka perkara yang hakiki pun akan terbalik hingga akhirnya ketaatan menjadi kemaksiatan dan kemaksiatan menjadi ketaatan.

Baca Juga :  Penjelasan Kiai Said Aqil Siradj Soal Sejarah Disyariatkan Kurban

Dari pemaparan Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari kita bisa mengambil hikmah, jika manusia ibadah kepada Allah tetapi malah tambah bangga dan sombong maka dia  hakikatnya maksiat, tetapi jika ada hamba yang maksiat kepada Allah tetapi tambah hina dan butuh kepada Allah maka pada hakikatnya dia beribadah kepada Allah.

Abul Abbas Al-mursi  selalu memuliakan orang lain tidak tergantung pada pangkatnya karena beliau melihat sesuatu dengan pandangan rahmat Allah. Suatu katika beliau kedatangan tamu yang mana tamu itu ahli taat kemudian dengan santainya Abul Abbas Al-mursi tidak menghormati sama sekali justru beliau perpaling darinya

Kemudian datang tamu lagi ternyata tamu itu sangat disambut oleh beliau dengan sambutan hangat dan sopan. Padahal tamu itu orang biasa, dan ahli maksiat. Kenapa beliau bertingkah demikian karena menurut beliau orang yang ahli taat kepada Allah selalu merendahkan dirinya sebagai natijah atau buah dari taat sendiri  maka jika ahli taat kemudian bangga dengan kelakuannya atau amalnya  secara tidak langsung dia bermaksiat kepada Allah.

Sedangkan tamu yang kedua itu datang dengan hina karena ia selalu bermaksiat kepada Allah, maka dari itulah beliau Abul Abbas Al-mursi memuliakan, karena tamu yang kedua merasa hina sedangkan hina itu natijah dari taat. Hidup sejati ialah orang yang selalu hidmah kepada Allah dan Rasulnya tampa membanggakan dirinya, “filosofinya jika ada pembantu merasa sombong dan bangga itu hakikatnya bukan pembantu”. Hal tersebut di kemukakan Oleh  Al-muhasibiy  yang bersifat universal, baik orang alim atau orang awam.

Keterangan tersebut kami sarikan dari kitab  Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam karya Ibnu Ajibah (juz I, Hlm. 143)

 

Baca Juga :  Menyentuh Saudara Ipar, Apakah Wudhu Batal?

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here