Kemaksiatan Bisa Jadi Lebih Baik dari Ketaatan, Mengapa Demikian?

0
1317

BincangSyariah.Com – Sudah masyhur bahwa dalam ilmu tasawuf diajarkan bagaimana memandang sebuah hal dari sudut pandang yang tidak mainstream. Dibanding sudut pandang formal teoritis, cara pandanh yang diajarkan dalam tasawuf cenderung menggunakan rasa serta memandang hakikat dari sebuah hal, tidak melihat bungkusnya. Maka wajar jika banyak ditemukan pandangan yang menarik dalam ilmu tasawuf. Salah satu yang masyhur adalah statement Al-Imam Ibn ‘Atha’illah dalam Al-Hikam-nya

معصية أورثت ذلا وافتقارا خير من طاهة أورثت عزا واستكبارا

Kemaksiatan yang melahirkan rasa hina dan butuh kepada Allah lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan kesombongan (merasa mulia dan agung)

Sangat menarik bahwa Ibn ‘Atha’illah mengunggulkan maksiat daripada ketaatan. Ini tentu samasekali berbeda dengan pandangan mainstream yang memandang maksiat sebagai suatu cela dan taat sebagai suatu anugerah. Lalu, apa maksud pernyataan Ibn ‘Atha’illah tersebut?

Menurut Syaikh ‘Ali Jum’ah, dalam memahami pernyataan tersebut, harus mengaitkannya dengan pernyataan sebelumnya agar melahirkan pemahaman yang tepat, karena pernyataan di atas adalah penegas dari pernyataan sebelumnya. Sebelumnya Ibn ‘Atha’illah mengatakan:

ربما فتح لك باب الطاعة و ما فتح لك باب القبول وربما قضى عليك بالذنب فكان سببا للوصول

Kadang kau dibukakan pintu taat namun tak dibukakan pintu qobul (amalnya tidak diterima) dan kadang kau ditakdirkan melakukan dosa namun menjadi sebab bagimu untuk wushul (sampai pada Allah)“.

Syekh Ibn ‘Abbad Al-Rundi -sebagaimana dikutip ‘Ali Jum’ah dalam Al-Bayan- menjelaskan makna pernyataan di atas bahwa kadangkala sebuah amal tidak diterima karena tercampuri “penyakit” seperti merasa ‘ujub, mengandalkan amalnya, memandang hina pada orang yang tidak melakukannya, dan sifat merasa paling pada diri. Sedangkan orang yang melakukan dosa bisa jadi memandang hina pada dirinya sendiri dan memandang orang lain lebih mulia, kemudian hal ini menjadi penyebab diampuni dosanya dan ia bisa wushul pada Allah.

Baca Juga :  Tiga Bekal dalam Berdakwah Menurut Imam Ibnu Taimiyah

Kita kembali pada pernyataan Ibn ‘Atha’illah yang disebutkan di awal tulisan. Dengan memahami pernyataan sebelumnya, menjadi jelas apa konteks dalam pernyataan ini. Masih menurut Al-Rundi, rasa hina dan butuh terhadap pertolongan adalah sifat atau karakteristik seorang hamba. Jika seseorang memilikinya, hal itu akan menjadi lantaran ia wushul (sampai/tersambung) pada tuhannya. Ia sadar bahwa dirinya benar-benar seorang hamba. Sedangkan mulia dan agung adalah sifat khusus Tuhan, maka memeliharanya akan menyababkan ia terlantar, tidak mendapat pertolongan dari Allah serta amalnya tidak diterima. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here