Buya Syakur Yasin: Kemajuan Bangsa Terlihat dari Bahasa Penggunanya

0
736

BincangSyariah.Com – Buya Syakur menjelaskan bahwa bahasa adalah ideologi dan makhluk hidup, bukan makhluk mati. Banyak Bahasa yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab, bahasa hidup bersama manusia. Ada fase lahir, tumbuh, berkembang, kemudian mati. Kita bisa mempelajari karakter suatu bangsa dengan mempelajari bahasanya.

“Kemajuan bangsa bisa dilihat dari bahasa penggunanya,” jelas kiai asal Indramayu ini.

Kemerdekaan perempuan di Indonesia bukan karena emansipasi tapi karena di Indonesia kita semua sudah hidup berdampingan dan setara sejak dulu. Laki-laki ke sawah membawa cangkul kecil dan perempuan membawa cangkul yang lebih besar. Bukan pengaruh emansipasi dari Eropa, tapi Indonesia telah memperlakukan perempuan dan laki-laki dengan setara. (Baca: Mengenal Buya Syakur Yasin: Kyai Berwawasan Luas asal Indramayu)

Dalam bahasa Arab, pengganti kata perempuan dan laki-laki dalam bahasa dibedakan, di Indonesia tidak. Kata ganti perempuan dan laki-laki sama saja, tidak berbeda. Kata kerja dalam bahasa Indonesia juga terikat oleh waktu.

“Saya masih akan sedang mulai belajar benar,” beliau mencontohkan.

Sampai di sini, Buya Syakur mengajak kita untuk menyimpulkan bahwa orang-orang Indonesia tidak menghargai waktu. Sebagai misal, terlambat datang saat rapat.

Beliau menambahkan bahwa orang yang dekat dengan literasi, rajin membaca, bukunya banyak, pasti kosa katanya banyak. Orang yang malas membaca menjadi tidak berilmu dan bahasanya sangat sederhana sekali. Di negara Inggris, membaca sastra dilakukan sejak dini. Di Eropa, ada gerakan latinisasi bahasa Arab, alasannya karena banyak huruf dalam kata bahasa Arab yang tidak dibaca.

Bahasa Arab adalah bahasa yang sulit. Tapi jika kita belajar bahasa Arab dan matang nahwu serta sorofnya, maka dijamin akan cerdas. Apabila ada Kiai yang bisa membaca kitab kuning, maka ia sudah pasti cerdas karena kalau tidak mungkin bisa membaca apabila tidak cerdas. Bahasa membuat manusia menjadi cerdas.

Baca Juga :  Nahdlatul Ulama dan Kontroversi Kata Kafir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here