Keistimewaan Nuzul al-Quran

0
384

Sesungguhnya orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, ber­tambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS Al-Anfâl [8]: 2)

 

 

BincangSyariah.Com- Eksistensi kitab suci Al-Quran sesungguhnya berkaitan sangat kuat dengan bahasa Arab. Bahasa ini dinyata­kan dan diakui banyak ahli di dunia sebagai bahasa yang memiliki keistimewaan dan kelebihan luar biasa diban­ding­kan dengan bahasa-bahasa lain dunia. Di antara keisti­me­waan bahasa Arab adalah kekayaannya sangat hebat, ba­­­ik dari segi kata (al-mufradât) maupun ungkapan (uslûb) atau idiomatic expression.

Perkembangan bahasa Arab di sisi lain juga ternyata me­miliki pertalian yang kuat dengan sejarah perkembangan peta politik dunia Islam pada masa lalu. Ketika kekuatan Islam bersentuhan dengan bangsa-bangsa non-Arab, bahasa Arab dipakai dan dijadikan bahasa mereka.

Contohnya, bangsa Mesir yang memakai bahasa Arab. Bahasa bangsa Mesir yang asli malah tergeser karena ber­ha­sil diarabkan. Kasus yang sama terjadi pula dengan Libia, di Afrika Utara. Mu’ammar Qadhafi yang sebenarnya adalah da­ri bangsa Kartago, juga mengklaim atau mengaku sebagai bangsa Arab. Begitu pula wilayah-wilayah lain yang jumlah­nya cukup banyak yang berha­sil diislamkan. Kecuali, ba­rang­­kali, bangsa Persia atau Iran yang meskipun berhasil di­­­­islamkan dari keyakinan lamanya Zoroaster atau Majusi, mereka tidak mau diarabkan.

Perkembangan yang spektakuler itu, di antaranya, di­se­­bab­kan oleh pengaruh bahasa Arab. Bersamaan dengan meluasnya wilayah politik dunia Islam, kemudian timbul pu­la problem, bagaimana agar mereka dapat memahami Al-Quran sebagai kitab suci mereka. Dan sejak saat itulah ma­sa­lah menerjemahkan Al-Quran memulai per­annya. Jadi, ma­salah terjemahan Al-Quran sesungguhnya adalah masa­lah klasik yang timbul pada awal masa sejarah penyebaran Islam.

Oleh karena Al-Quran adalah kitab suci yang berfungsi seba­gai petunjuk dan sumber pandangan hidup bagi para pe­­meluknya, maka pesan-pesan Al-Quran harus dapat dipa­hami. Dari sini kemu­dian lahirlah tafsir-tafsir Al-Quran dan terjemahan, yang tidak lagi dipandang sebagai kitab suci Al-Quran berdasarkan pendapat para ulama. Yang dipan­dang kitab suci Al-Quran hanyalah yang berbahasa Arab.

Namun, tidak ada salahnya kalau kita memahami Al-Quran melalui terjemahan karena tidak semua orang dapat memahami bahasa Arab secara baik dan benar. Dalam kasus ini, tepat kiranya kalau para penafsir Al-Quran seperti Prof. Dr. Mahmud Yunus, juga mengatakan bahwa selain yang ber­­bahasa Arab—perlu diketahui bahwa ada Al-Quran yang ditulis dengan tulisan Latin, mis­alnya—dipandang bukan ki­tab suci Al-Quran dan dinamakan terjemah atau tafsir Al-Quran.

Baca Juga :  Dosa Pemberontak Pemerintahan yang Sah

Begitu juga Marmaduke Pickthall, seorang sastrawan Ing­gris yang kemudian masuk Islam dan menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Meaning of the Glorious Holy Qur’an, juga menyatakan bahwa karya­nya bukanlah kitab suci Al-Quran. Artinya, Al-Quran yang bu­kan berbahasa Arab tidak dipan­dang sebagai kitab suci, te­tapi merupakan tafsir Al-Quran saja.

Dan yang demikian itu sungguh sangat masuk akal ka­rena sudah pasti tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang mampu mener­jemahkan kitab suci Al-Quran. Itu ka­rena Al-Quran merupakan firman Allah Swt. Di samping, sekali lagi perlu diketahui bersa­ma, secara alamiah ternyata tidak ada bahasa di dunia ini yang memiliki kekayaan bahasa sama dengan bahasa Arab.

Barangkali, bahasa dunia yang mewakili untuk penerje­mahan Al-Quran adalah bahasa Inggris yang juga kaya akan ungkapan atau idiom. Akan tetapi, sekali lagi, bahasa Inggris pun diakui oleh para ahli bahasa belum mampu menampung makna-makna, kedalaman, dan ketajaman bahasa yang ada dalam Al-Quran.

Al-Quran sebagai kitab suci membutuhkan kesiapan ruhaniah untuk dapat dipahami dan dibaca. Al-Quran bukan kitab magis atau kumpulan mantra-mantra yang memiliki kekuatan magis dan dapat menimbulkan efek-efek tertentu se­hingga apabila dibaca atau dibawa akan dapat memberi­kan pengaruh atau perlindungan sebagai­mana yang diya­kini. Sikap-sikap yang demikian itu dapat dikate­gorikan si­kap religio-magis.

Namun, sebagaimana diketahui, Al-Quran sejalan de­ngan grand design Allah Swt. sebagai kitab suci yang diturun­kan dengan maksud sebagai sumber petunjuk dan tuntunan yang harus direnung­kan (tadabbur) pesan-pesannya. Dengan demikian, Al-Quran mampu menjadi petunjuk bagi orang ber­iman dalam menjalani kehidupan, baik dunia maupun akhi­rat.

Dalam menyikapi kitab suci Al-Quran, memang kemu­dian ditemu­kan tingkatan yang berlapis-lapis. Yang pertama ada­lah tingkat jasmaniah, yang diindikasikan dengan gam­bar­an seseorang yang mau mengambil, membuka, dan mem­baca Al-Quran. Kemudian meningkat pada tingkat kedua, yak­ni tingkat psikologis yang ditandai oleh adanya predispo­sisi kemauan untuk memahami, yang kemudian disusul de­ngan tingkat ruhaniah. Dan tingkat yang paling tinggi adalah rasional, yakni mau merenungkan dan memikirkan pesan-pesan kandungan Al-Quran itu sendiri.

Untuk dapat mencapai ta­hap-tahap tersebut, barangkali da­pat dibuatkan analogi atau kias­­­an pada orang-orang yang ge­mar menden­garkan lagu-lagu Ba­­rat, yang tentunya berbahasa Ing­gris. Meski mereka kebanyak­an tidak mengetahui atau mema­hami arti lagu terse­but karena alas­an bahasa, tampak bahwa me­reka juga dapat menikma­ti la­gu tersebut, paling tidak lewat rit­­­menya.

Baca Juga :  Lima Rahasia Kehebatan Zikir kepada Allah

Hal yang serupa juga disa­ma­kan dengan kasus membaca Al-Quran. Yang utama adalah ke­siapan ruhaniah untuk mende­ngar­­kan ayat-ayat Al-Quran tadi. Artinya, tanpa harus terhalang oleh alasan tak mampu berba­ha­sa Arab. Dengan mendengarkan ritme Al-Quran, seseorang sudah da­pat merasakan ketenangan, ke­­­he­ningan, serta ketenteraman batin dan jiwa.

Yang demikian itu terjadi ka­rena kita meyakini bahwa Al-Quran merupakan kalam atau firman Allah Swt. sehingga bila men­dengarkan Al-Quran, kita juga sedang mendengar­kan perkataan atau kalam Allah Swt. dan itu memberikan efek tersendiri dalam jiwa kita.

Sebagaimana diklaim oleh Al-Quran, ciri-ciri orang ber­iman adalah mereka yang mudah menerima, responsif, ke­tika mendengarkan irama Al-Quran, seperti dinyatakan, Se­sungguhnya orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan ke­pada mereka ayat-ayat-Nya, ber­tambahlah iman mereka (kare­na­nya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal (QS Al-Anfâl [8]: 2).

Al-Quran adalah kitab suci yang kebenaran ayat-ayatnya tidak disangsikan oleh kalangan umat Islam sebagai penge­cualian. Pernah dalam sejarah muncul sekelompok orang Islam yang menyatakan keberatan bahwa ayat Surah Yûsuf tidak termasuk bagian Al-Quran karena di dalamnya me­ngan­dung romantisme kisah cinta Yusuf dengan Zulaiha.

Namun, kemudian dalam perjalanan sejarah, pandang­an seperti itu gugur dengan sendirinya karena kisah roman­tis­me dalam Al-Quran itu kemudian disusul dengan pesan-pesan moral yang sangat tinggi. Seperti perkataan Nabi Yu­suf ketika menghadapi godaan sebagai berikut, Dan aku ti­dak membebaskan diriku (dari kesala­han) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejaha­tan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Peng­ampun lagi Maha Penyayang (QS Yûsuf [12]: 53).

Adapun dalam menyikapi Al-Quran, pertama-tama kita harus meyakini bahwa ia merupakan kitab suci yang diturun­kan oleh Allah Swt., yang di dalamnya berisikan pesan-pesan sebagai petunjuk dan tuntunan hidup. Kita harus menjauhi munculnya keyakinan bahwa Al-Quran adalah kitab magis.

Sementara itu, etika ketika hendak membaca Al-Quran di antaranya harus dimulai dengan kesucian diri. Dari segi lahiriah, kesucian itu berupa mengambil air wudu. Kemu­dian, membaca ta‘âwud, yakni mengucapkan a‘ûdzu billâhi mi­nasy syaithânir nirrajîm, sebagaimana dianjurkan oleh Al-Quran, Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu me­minta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk (QS Al-Nahl [16]: 98).

Baca Juga :  Puasa Ramadan Meningkatkan Nilai Kebersamaan

Setelah itu disambung dengan membaca bismi ’l-Lâh, se­bagaimana hadis Nabi Muhammad saw. yang sangat masy­hur mengatakan, “Setiap pekerjaan yang baik tidak di­mu­lai dengan membaca bismillâh, maka akan sia-sia”.

Dalam kasus membaca bismi ’l-Lâh, perlu diketahui bah­wa Surah Al-Barâ’ah adalah kekecualian. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak apa-apa memulai tanpa membaca bismi ’l-lâh pada awal surah itu.

Dan apabila hendak mengakhiri bacaan Al-Quran, kita dia­njurkan mengucapkan shadaqallâh. Ungkapan yang de­mi­kian itu meru­pakan kesepakatan para ulama sebagai pem­­buktian bahwa kita meya­kini kitab suci Al-Quran ada­lah benar-benar perkataan, kalam, atau firman Allah Swt.

Sebagai sumber pandangan hidup orang beriman, Al-Quran harus direnungkan dan dikaji, kemudian diamalkan dalam kehidupan berma­syarakat sehingga pesan-pesan dan ajaran Al-Quran dengan sendir­inya menjadi sikap hidup di ne­­gara Indonesia yang kehidupan agamanya majemuk atau pluralis. Seperti yang disepakati oleh para pendiri Republik ini, Indonesia bukan negara agama. Dengan demi­kian, men­jadi tugas dan tanggung jawab umat Islamlah untuk mampu menanamkan pada dirinya pandangan-pandangan yang ber­sumber dari ajaran Al-Quran agar tatanan yang ada sesuai dengan tuntutan Al-Quran.

Kita juga harus menyadari, betapapun suatu aturan yang dibuat sebagai sumber hukum yang diambil dari luar tidaklah akan kuat dan implikasi jangka panjangnya akan mudah dilanggar oleh anggota masyarakatnya. Artinya, hu­kum juga harus lahir dari kesadaran diri. Dengan begitu, se­buah law enforcement dari luar apa pun, sebagaimana kita ketahui, hanya akan berakhir dengan sia-sia kalau tidak di­dukung oleh kesadaran diri yang tumbuh dari dalam anggota masyarakatnya.

Hukum haruslah timbul dari aspirasi yang hidup dalam suatu masyarakat dan diyakini. Kemudian, dalam perjalan­an­nya ia menga­lami tahap generalisasi, lalu disusul oleh tahap pengkristalan. Hukum yang demikian itulah yang efek­tif mengatur sebuah masyara­kat, sehingga lambat laun dengan sendirinya menjadi pandangan hidup. Inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab umat Islam agar ber­usa­ha mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Quran.

Al-Quran sebagai kitab suci harus dipelihara oleh orang ber­iman dengan banyak dibaca, dihapal, direnungkan, dan di­kaji makna dan pesan-pesannya. Kemudian, ia harus mam­pu dijadikan sumber kesadaran hidup bagi pemeluk­nya. Dengan demikian, orang beriman akan terus mampu men­­jalani dan menjawab tantangan hidup sesuai dengan tuntutan-tuntutan yang bersumber dari ajaran Al-Quran da­lam rangka mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here