Keindahan Seni Retorika Visual Al-Qur’an

0
106

BincangSyariah.Com – Sebagai sebuah kitab suci, Al-Qur’an memiliki beberapa keunggulan tersendiri dibandingkan beberapa buku-buku bacaan biasa yang lain. Salah satu aspek yang paling nampak terkait akan hal ini adalah keindahan kitab suci tersebut dari aspek kebahasaan dan sastra. Yang oleh sebagian para ulama dipahami sebagai salah satu aspek mukjizat Al-Qur’an (‘Ijaz Al-Qur’an)

Banyak para sarjana muslim/ulama telah memperbincangkan hal ini, baik dari masa klasik hingga kontemporer seperti sekarang. Di zaman klasik, salah satu ulama yang perlu disebut dalam hal ini adalah al-Baqilani (1013 M/ 402 H), bahwa pada dasarnya, menurut beliau, mukjizat Al-Qur’an itu di antaranya bermuara pada tiga aspek: terdapatnya ayat-ayat yang bersifat futuristik, terdapatnya ayat-ayat yang sifatnya (mengisahkan) masa lampau dan disampaikannya ayat-ayat tersebut dengan irama nazm (puisi, sajak) dan uslub (gaya bahasa) yang khas.

Sedangkan di zaman kontemporer, banyak tokoh yang perlu disebutkan disini, salah satu yang paling masyhur dan popular adalah  Hifni Muhammad dalam karyanya I’jaz al-Qur’an al-Bayani Baina al-Tariqah wa al-Tatbiq. Hifni menjelaskan bahwa salah satu kemukjizatan Al-Qur’an meliputi lafadz-lafadz Al-Qur’an dan alasan pemilihannya, kemudian aspek balaghah nya, aspek pengambaran-penggambarannya (amtsal) dan aspek nazm nya.

Kemudian selain Hifni Muhammad, salah satu yang juga menarik untuk dibahas adalah sayyid qutb dan salah satu karya monumentalnya at taswir al fann Al-Qur’an. Dalam karyanya tersebut, Sayyid Qutb mengurai berbagai aspek keindahan estetik ragam lafadz dan huruf yang dipilih oleh Al-Qur’an, mengapa dalam hal ini, lafadz-lafadz dan huruf-huruf tersebut terpilih menjadi ayat Al-Qur’an dikemudian, dan tidak menggunakan kosakata arab yang lain.

Kesinambungan Antara Lafaz, Nada yang dihasilkan dan  Makna Ayat yang Dikehendaki

Baca Juga :  Budayawan Ngatawi Al-Zastrouw di KOMUJI; Jangan Sampai Jadi Korban Malpraktek Agama

Ada beberapa alasan mengapa banyak orang cenderung menyukai syair, salah satu diantaranya selain memiliki makna mendalam, syair pun memiliki keindahan dalam penuturan akhir kata, dengan memiliki kesamaan huruf diakhir kata-kata (a-a-a-a), itu memunculkan irama tersendiri bagi kita yang membacanya. Memang manusia itu cenderung senang terhadap hal-hal yang memiliki keindahan didalamnya, salah satu nya keindahan dalam menentukan kata dalam sebuah penulisan.

Sayyid Qutb merupakan salah satu dari sekian banyak ulama yang mampu mengungkapkan keindahan estetik semacam syair tersebut dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini, Al Quran tentu bukanlah syair dalam pengertian umum, tapi memiliki kesamaan ciri keindahan dengan nya (bahkan lebih). (Baca: Gaya Bahasa Rasulullah Saw. Saat Bersabda)

Menurut Qutb, Lafadz dan Huruf dalam Al-Qur’an Mengandung Konteks dan Suasana yang Tepat manakala kita membacanya secara seksama. Tatkala Al-Qur’an menekankan tentang adanya makna rahmat dan kasih sayang dalam ayat-ayat surat Maryam, maka Al-Qur’an pun memulai surat ini dengan akhiran lafadz yang ringan untuk dibaca

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا ﴿2﴾ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا ﴿3﴾

“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,

Akhiran kata yᾱ disetiap ujung ayat disini (lafadz zakariyy dan lafadz khafiyyᾱ) memiliki kesan kepada kita bahwa ayat tersebut mudah dan ringan untuk kita baca, selain itu, akhiran tersebut juga membawa atmosfer kelembutan tersendiri, apalagi tatkala pembacaan yᾱ tersbut justru terdapat juga di ayat-ayat berikutnya, sehingga ini memunculkan irama tersendiri.  

hafiyyᾱ (sangat baik), radiyyᾱ (diridhai), najiyyᾱ (bercakap-cakap), sariyyᾱ (anak sungai) merupakan beberapa contoh lafadz yang sering disebutkan dalam akhir ayat-ayat surat maryam. Jika anda termasuk orang yang memiliki teman yang senang membaca Al-Qur’an dan kebetulan suaranya merdu, bisa jadi anda akan merasakan kenikmatan dan kelembutan pembacaan akhir ayat ini.

Baca Juga :  Membaca Alquran Dapat Menghilangkan Rasa Nyeri

Dalam contoh yang lain, Sayyid Qutb menerangkan apa yang bisa kita jelaskan dari pemilihan kata anulzimukumūhᾱ dalam QS Hud ayat 28

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ

Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?” (QS Hud ayat 28)

Betapa indah penggunaan kata “anulzimukumūhᾱ” (apakah kami akan memaksa kamu untuk menerimanya) yang menggambarkan atmosfer pemaksaan dengan menggabungkan semua kata ganti tersebut dalam satu ucapan dan juga rasa saling mendorong dan menolak antara satu bagian dengan bagian yang lain dari kata tersebut. Hal tersebut mempersonifikasikan bagaimana jika seseorang dipaksa untuk melakukan apa yang ia benci. Mereka akan terlihat seolah ditarik oleh sesuatu diluar kehendak mereka terus berusaha lari dari apa yang mereka benci tersebut.

Demikianlah alunan nada dan musik dinamis dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang mengikuti makna, iklim dan maksud yang terus berubah dari konteks ke konteks, dari iklim ke iklim dan dari makna ke makna yang lain.

Ketika anda membaca kata “layubatti’anna”(yang bermakna sangat enggan) dalam ayat :

وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka”(QS an nisa: 72).

Baca Juga :  Kasur Terkena Kencing, Apakah Menjadi Suci dengan Dijemur?

Maka imajinasi akan langsung menampilkan gambaran seseorang yang ‘enggan melakukan sesuatu’ yang diwakili dengan gerakan mulut yang sangat lamban. Dalam hal ini, lidah terasa seperti hamper-hampir tersangkut ketika mengucapkan kata tersebut hingga terasa sangat lama untuk menyelesaikan hanya satu kata saja.

Disisi lain, ketika memperhatikan kata al-sᾱkhkhah (tiupan sangkakala yang memekakkan telinga) dalam surah ‘abasa, Sayyid Qutb berkomentar: lafadz “al-sᾱkhkhah” merupakan lafadz yang memiliki ketukan keras dan telak. Kata ini hampir-hampir merobek gendang telinga. Untuk mengucapkan kata ini, mulut harus membelah udara hingga sampai ke telinga getaran keras yang berulang-ulang. Al-Qur’an menggunakan ketukan keras ini untuk “menarik perhatian” tentang apa yang akan disampaikan pada ayat berikutnya. “

Akhirulkalam, Demikianlah kemukjizatan Al-Qur’an juga muncul dalam bentuk pemilihan lafadz, diksi dan huruf yang diperbantukan untuk mengusung makna yang sesuai dengan maqashid (maksud/tujuan utama Al-Qur’an) yang ingin dicapai. Al-Qur’an memilih setiap kata yang tertulis dan huruf yang termaktub didalamnya dengan sangat teliti.

Semua sisi irama, makna, efek yang ditimbulkan disesuaikan dengan konteks umum yang dimiliki oleh setiap ayat dan surat. Dilain sisi, memang keindahan estetik inipun bisa jadi salah satu metode Al-Qur’an dalam menarik perhatian manusia seperti yang dikatakan Marmaduke Pickthall, yang dikutip M. Quraish Shihab, Al-Qur’an mempunyai simfoni yang tidak ada taranya di mana setiap nada nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka-cita.

Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here