Merasa Kehilangan Tuhan, Bagaimana Cara Menemukannya?

0
1146

BincangSyariah.Com – Mendengar berita kehilangan kendaraan, sandal, sepatu bahkan anak adalah sesuatu yang wajar. Mengingat benda-benda tersebut dapat dilihat dan dipegang bentuknya. Tapi, bagaimana jika ada orang yang kehilangan Tuhan? Bukankah Tuhan tidak dapat ditemukan dengan indra? Di mana dan kapan kehilangan Tuhan itu terjadi? Siapa yang pernah menemukan Tuhan yang hilang? Atau bagaimana mungkin Tuhan hilang padahal Dia Maha Tahu arah jalan pulang?

Pertanyaan-pertanyaan itu dan sejenisnya akan silih berganti mendatangi pikiran kita. Pasalnya, secara logika memang sangat mustahil Tuhan bisa hilang. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi pada diri kita sekarang ini. Di zaman di mana indra dan hati mulai mendua. Masing-masing berjalan menurut kecenderungannya. Indra melihat dan merasakan hal-hal yang tampak saja. Sementara hati dengan kekuatan cipta, rasa dan karsanya melihat sesuatu dari persepektif logika dan perasaan. Apa yang dianggap benar oleh indra belum tentu benar menurut hati, begitupun sebaliknya. Kekuatan indra sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat jasmani, materi dan nyata.

Sementara kekuatan hati dipengaruhi oleh faktor nonmateri seperti ilmu dan ibadah. Adanya perbedaan input bagi keduanya menyebabkan perbedaan keluaran (output), cara pandang dalam melihat sesuatu. Hasilnya tentu saja juga berbeda. Jika kedua kekuatan ini berpisah, berjalan sendiri-sendiri maka yang terjadi adalah persaingan. Ya, persaingan antara indra dan hati dalam mewujudkan kebenaran.

Padahal, Tuhan menciptakan semua yang ada pada diri manusia dengan peran dan fungsinya masing-masing demi menyongsong kebenaran yang syamil (utuh), tidak sepotong-sepotong. Kebenaran sebagai representasi dari sifat Tuhan, Al-Haq (Yang Maha Benar) tidak bisa diwudukan tanpa kolaborasi potensi yang ada pada diri manusia, baik potensi fisik (indra) maupun psikis (hati).

Kebenaran yang hanya dibawa oleh indra yang sifatnya zahir (tampak) tidak dapat diklaim sebagai kebenaran Tuhan, karena Tuhan selain memiliki sifat Al-Dhohir juga memiliki sifat Al-Bathin. Begitupula kebenaran yang hanya dibawa oleh hati tanpa adanya campur tangan indra, belum mewajahkan kebenaran Tuhan. Inilah yang saya maksudkan dengan kehilangan Tuhan.

Baca Juga :  Sahabat Nabi yang Kaya namun Tetap Zuhud

Yakni, kehilangan keutuhan kebenaran akibat menduanya indra dan hati yang ada pada diri manusia. Banyak faktor yang menyebabkan indra dan hati manusia mendua. Namun semua faktor itu bermuara pada satu eksistensi yang ada pada diri manusia itu sendiri. Apakah itu? Dialah nafsu. Saya katakan nafsu sebagai eksistensi karena pada hakikatnya keberadaan nafsu pada diri manusia tidak dapat dimusnahkan, ia hanya bisa dipersempit pengaruhnya melalui berbagai macam latihan yang dikenal dengan istilah riyadah.

Cara kerja nafsu memang tidak menghendaki adanya persatuan antara indra dan hati, karena keduanya bagaikan rakyat dan rajanya. Suatu negara akan kuat kalau rakyat dan rajanya bersatu. Begitupun manusia, jika indra dan hatinya bersatu, maka manusia itu akan kuat sehingga berhasil mengalahkan musuh yang berusaha menjatuhkannya.

Ada dua golongan manusia yang dikuasai oleh nafsu. Yaitu ahli dunia dan ahli ibadah. Yang dimaksud dengan ahli dunia di sini adalah para pecinta dunia. Nafsu membuat indah kehidupan dunia yang dilihat ahli dunia. Sikap dan prilakunya seolah mencerminkan bahwa masa depannya hanya di dunia ini. Setiap hari kesibukan mereka hanya perkara dunia.

Hal inilah yang Nabi Saw selalu memohon perlindungan dalam doanya“…..dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak ilmu kami…”. Akhirat dan segala nilai yang melekatinya begitu jauh terasa bagi ahli dunia. Setiap indra mereka menangkap sesuatu dari perkara dunia, mereka langsung berfikir bagaimana mengkapitalisasi dunia tersebut.

Intinya, yang nampak bagi ahli dunia hanyalah nilai-nilai keduniawian. Sementara nilai-nilai ketuhanan yang merupakan dasar kehidupan ukhrawi, mereka tidak mampu melihatnya. Mereka benar-benar kehilangan Tuhan dalam segala aspek kehidupannya. Seberapa jauh Tuhan terhadap ahli dunia, sangat tergantung seberapa dekat kehidupan dunia terhadap mereka. Semakin dekat kehidupan dunia terhadap ahli dunia semakin jauh Tuhan menghilang dari mereka.

Baca Juga :  Saksikan Live Acara Ngopi (Ngobrol Penting) di IG BincangSyariah; Merayakan Hari Valentine, Bolehkah?

Untuk melanggengkan keadaan seperti ini bagi ahli dunia, nafsu terus berusaha menjauhkan antara indra dan hati ahli dunia, karena sebenarnya hati merupakan pemberi fatwa bagi indra. Sebagaimana perintah Nabi Saw untuk meminta fatwa kepada hati jika dalam keadaan bingung. Maka, jika hubungan antara indra dan hati ini harmonis maka sia-sialah usah nafsu untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Karena indra akan selalu meminta pertimbangan dari hati. Jika yang terjadi pada ahli dunia sepeti yang digambarkan diatas.

Lalu bagaimana dengan ahli ibadah? Bukankah ibadah adalah perkara baik? Bagaimana mungkin ahli ibadah dapat diperdaya oleh nafsu? Bukankah beribadah merupakan salah satu cara untuk menjauhi kemauan nafsu yang selalu mengajak pada keburukan? Ya, ibadah secara substantif memang baik. Dan nafsu tidak mungkin dapat mengubahnya. Cara nafsu memperdayai ahli ibadah bukan dengan membisikkan pada mereka bahwa ibadah tidak baik. Jika itu yang dilakukan maka ahli ibadah akan menentang dan menolak bisikan nafsu tersbut.

Nafsu memperdaya ahli ibadah dengan dua cara. Pertama, mengaburkan tujuan dari ibadah yang dilakukan oleh ahli ibadah tersebut. Ibadah yang seharusnya dilakukan secara ikhlas mengharap ridha dari Allah Swt. disimpangkan oleh nafsu untuk tujuan-tujuan lain yang bersifat duniawi. Semisal, pergi haji karena ingin mendapat predikat haji sehingga status sosialnya di masyarakat semakin terangkat, terus-menerus berpuasa agar orang-orang menganggapnya ahli puasa, membagus-baguskan bacaan al-qur’an di hadapan orang banyak agar disebut qari dan banyak lagi contohnya.

Alhasil, setiap ibadah yang dilakukan untuk kepentingan duniawi maka pelaku ibadah tersebut telah dipedaya oleh nafsu. Kedua, nafsu membisikkan sikap berlebih-lebihan bagi ahli ibadah. Pernahkah kita berada dalam suatu kondisi dimana kita begitu bersemangat untuk beribadah? Kondisi inilah yang coba dimanfaatkan oleh nafsu agar kita berlebih-lebihan dalam beribadah.

Bahkan korban dari bisikan nafsu ini tidak tanggung-tanggun adalah beberapa sahabat Nabi Saw. seperti Ali bin Abi Thalib, Usman bin Madh’un, Abdullah bin Mas’ud, Miqdad bin Aswad dan Salim Maula Abu Hudzaifah. Mereka bersepakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang enak dan berjanji menghabiskan malam hanya untuk beribadah serta tidak akan berhubungan dengan istri. Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash bahkan berpuasa setiap hari dan bertahajjud sepanjang malam.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Empat Hal Penghalang Antara Hamba dengan Tuhan

Mengetahui keadaan para sahabat tersebut, Nabi Saw menegur mereka agar tidak berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu bahkan walaupun itu ibadah. Karena pada dasarnya setiap perbuatan yang berlebih-lebihan maka itu bukan tuntunan agama. Dalam konteks kekinian, sikap berlebihan itu tidak selalu sama dengan apa yang terjadi pada para sahabat di zaman Nabi Saw.

Bagi penulis yang meyakini bahwa menulis adalah ibadah, boleh jadi dia menulis sampai lupa waktu sholat. Bagi pedagang yang meyakini bahwa berdagang adalah ibadah, mungkin kesibukannya dalam dunia perdagangan telah melupakannya pada anak dan istrinya di rumah. Bagi seorang pemimpin, dengan alasan bekerja keras untuk rakyat, dia lupa akan tugas kepemimpinan atas rumah tangganya. Masih banyak lagi potret perilaku berlebihan yang bisa terjadi pada semua orang dengan berbagai profesi.

Ulama dengan keulamaannya, pemimpin dengan kepemimpinannya, pengusaha dengan usahanya, mahasiswa dengan belajarnya. Baik ahli dunia maupun ahli ibadah sebagaimana digambarkan diatas, mereka sama-sama mengikuti hawa nafsu. Ahli dunia mengikuti hawa nafsu dengan memperturutkan kemauan (tuntutan) indranya semata. Mereka tidak peduli dengan kebutuhan hati, seperti ilmu dan ibadah.

Sebaliknya, ahli ibadah, mereka terpedaya nafsu dengan berlebih-lebihan dalam ibadah mereka sehingga melupakan hak-hak indra yang ada pada diri mereka. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan kecenderungannya. Jika ini yang terjadi maka mereka (ahli dunia dan ahli ibadah) tidak dapat menjadi kholifah di muka bumi yang bertugas mewajahkan kebenaran Tuhan. Karena mereka telah kehilangan Tuhan akibat tidak bersatunya antara indra dan hati mereka. Wallohu a’lam Bisshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here