Kedudukan Bitcoin terhadap Altcoins dan Token Kripto dalam Berbelanja

3
14

BincangSyariah.Com – Harga Bitcoin diketahui melejit semenjak tahun 2017. Puncak harga satuan BTC kala itu, puncaknya adalah 260 juta rupiah per koin. Angka ini rupanya masih sempat diungguli lagi pada 26 November 2020, yang mencapai 272 juta rupiah. Sudah barang tentu, angka-angka ini bukan merupakan nilai yang kecil. Alhasil, BTC menjadi kehilangan efisiensinya untuk dipergunakan sebagai alat tukar. Terlalu mahal, demikian masyarakat umum bilang.

Padahal, maksud utama dari BTC diciptakan oleh Satoshi Nakamoto, yang merupakan pihak Anonimous dan penemu dan pemroduksi BTC untuk yang pertama kali itu, adalah melakukan liberalisasi keuangan. (Baca: Telaah terhadap Bitcoin sebagai Harta, dan Kedudukanya terhadap Mata Uang Fiat)

Artinya, keuangan tidak lagi dimonopoli oleh pihak Bank Sentral. Produksi keuangan harus dikembalikan kepada rakyat sebagai wujud demokrasi dalam bidang keuangan. Demikian, semangat dari pencetus BTC ini di awal mula menciptakan Bitcoin.

Namun dengan fakta tingginya harga per koin BTC, menjadikan maksud menuju demokrasi keuangan ini sebagai yang terhambat. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan produk alternatif Bitcoin yang lain atau bisa juga disebut Alternatif Koin. Koin alternatif ini selanjutnya dikenal dengan istilah Altcoins.

Jumlah Altcoins saat ini, sudah mencapai ribuan. dan semuanya terdiri dari koin dengan bahan dasar sandi kriptografi.

Sebagai koin alternatif dari BTC, sudah barang tentu, ada yang tidak sama dengan Altcoin ini. Ibarat mata uang kertas yang nilai umumnya adalah lebih besar dari mata uang logam. Atau mata Uang kertas dengan satuan nilai lebih besar, dibanding dengan mata uang kertas dalam satuan yang lebih kecil. Inilah perumpamaan dari Altcoins.

Jika masih sama-sama dalam naungan suatu Platform, maka produk akhirnya adalah sebuah koin. Namun, blla produk itu berada di luar platform tersebut, maka ia lebih tepat disebut sebagai token. Kita akan coba urai dua entitas koin dan token ini dalam satu wadah tulisan berikut.

Koin Crypto

Koin Cryptocurrency dapat didefinisikan sebagai suatu proyek blockchain yang menggunakan platform blockchain itu sendiri. Untuk memudahkan memahami ini, mari perhatikan hasil  tangkapan  layar oleh penulis berikut ini!

Bitcoin, Ethereum, XRP, Bitcoin Cash, Chainlink dan Litecoin adalah termasuk koin. Platform yang digunakan adalah blockchain dari masing-masing koin itu sendiri.

Token Crypto

Token Crypto merupakan proyek  blockchain yang menggunakan Platform blockchain milik pihak lain. Secara sekilas, perhatikan hasil tangkapan layar berikut ini!

token
token

Tether, Chainlink, USD Coin, ketiganya masing-masing adalah token crypto. Platform yang dipergunakan oleh ketiganya, kebetulan adalah Ethereum. Pada hasil tangkapan layar tersebut, token Binance USD  merupakan token yang menggunakan Platform Binance Coin.

Sekilas dengan memahami dua gambaran di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa token itu merupakan alat pembayaran yang hanya bisa digunakan untuk melakukan pembayaran pada ekosistem platform itu sendiri.

Sebagai gambaran sederhana adalah token listrik. Anda bisa menggunakan token listrik itu untuk membeli jasa listrik  di lingkungan PLN itu sendiri. Meskipun token itu bersifat alat pembayaran, namun anda tidak bisa menggunakan token untuk berbelanja di pasar, atau market-market yang lain.

Hal tersebut tentu berbeda dengan yang dinamakan sebagai koin crypto. Koin crypto memiliki sifat yang universal. Ia bisa  digunakan untuk melakukan pembayaran pada semua platform yang menerima pembayaran berupa koin crypto.

Untuk melakukan hal itu, sudah barang tentu ada ikatan kerjasama yang terjadi di antara masing-masing platform tersebut. Tanpa adanya ikatan kerjasama, maka koin itu dianggap sebagai tidak sah, bukan diakibatkan karena tidak sahnya koin sebagai alat pembayaran, melainkan karena ketiadaan resminya koin sebagai alat pembayaran.

Contoh sederhana, adalah mata uang rupiah, merupakan alat resmi pembayaran di Indonesia. Adapun ringgit, merupakan koin resmi di negara Malaysia.

Meski keduanya merupakan sama-sama mata uang resmi negara, namun rupiah tidak bisa digunakan sebagai alat pembayaran di Malaysia. Demikian halnya yang berlaku atas mata uang Ringgit, ketika berada di Indonesia.

Hal yang sama berlaku atas mata uang berbasis cryptography. Untuk bisa menggunakannya di antara sekian Platform Cryptocurrency yang ada, maka dibutuhkan ikatan kerjasama antar masing-masing Platform.

Ketika sudah terjadi kerjasama antara masing-masing Platform, maka selanjutnya terjadi adanya dominasi yang terbentuk di antara masing-masing koin.

Koin utama cryptocurrency adalah Bitcoin (BTC) sebagai soko guru dari semua mata uang crypto. Koin-koin crypto yang lain menduduki Altcoins (koin alternatif). Alhasil, jika seseorang belanja tidak bisa menggunakan BTC, maka ia memakai Ethereum, Litecoin atau crypto lainnya. Kembalian sisa belanja bisa diwujudkan dalam bentuk koin-koin yang diakui sebagai aset crypto. Sebagai perumpamaan,  anda ingin belanja beras yang harganya mungkin hanya 10 ribu rupiah per kilogram tentu tidak mungkin menggunakan BTC yang saat ini nilai Marketcapnya mencapai 272 juta-an. Untuk memenuhi hal itu, maka dibutuhkan aset-eset crypto yang kecil, bukan?

Nah, demikianlah gambaran kedudukan BTC terhadap Altcoins lainnya di lingkungan aset crypto. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran yang mudah bagi anda? Wallahu a’lam bi al-shawab

3 KOMENTAR

  1. bitcoin dan kripto lainnya cuma untuk belanja donk, gak bermaksud utk simpan uang tabungan, investasi bagi hasil dsb, persis kayak e-wallet Paypal, LinkAja, fungsinya sama dan bisa belanja online worldwide, 1coin senilai 270jutaan? belanja mobil bekas BMW, emang bisa terima bitcoin showroom mobkasnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here