Kebersamaan Awal Puasa dan Hari Raya di Indonesia

0
785

BincangSyariah.Com- Awal puasa dan hari raya yang berbeda sudah menjadi semacam tradisi keagamaan tahunan dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Dua ormas besar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah, menjadi pemeran utama dalam perbedaan awal bulan tersebut. antara keduanya sering kali melaksanakan puasa dan hari raya di hari yang berbeda, sehingga di Indonesia ini muncul dua kali awal puasa dan hari raya.

Perbedaan awal puasa dan hari raya ini sering dikaitkan dengan perbedaan metode penentuan awal bulan Kamariah yang digunakan oleh dua ormas besar tersebut. NU dengan rukyatnya dan Muhammadiyah dengan hisabnya. Namun selain hisab dan rukyat, NU dan Muhammadiyah juga berbeda dalam kriteria masuknya awal bulan. Selama ini Muhammadiyah menggunakan kriteria Wujudul Hilal dimana ketika hilal sudah wujud atau sudah berada di atas 0 derajat, maka sudah masuk awal bulan. Sementara di kalangan NU, keberhasilan dalam melihat hilal selama ini jika ketinggiannya sudah diatas 2 derajat sebagaimana kriteria imkanurrukyat. Oleh karena itu ketika posisi hilal berada diantara 0 derajat dan 2 derajat, kemungkinan besar kedua ormas ini akan berbeda penentuan puasa atau hari raya.

Meskipun sering kali berbeda, namun akhir-akhir ini perbedaan awal bulan tersebut tidak lagi terdengar ramai di kalangan umat islam di Indonesia. Sejak tahun 2016 silam umat Islam di Indonesia telah melaksanakan puasa dan hari raya secara bersama. Namun kebersamaan ini terwujud bukanlah karena pihak yang biasa berbeda ini telah sepakat dalam penentuan awal bulannya. Melainkan karena posisi hilal-lah yang membuat umat Islam di Indonesia melaksanakan awal puasa dan hari raya secara bersama.

Pada tahun 2020 ini misalnya, posisi hilal kembali membantu umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan awal puasa dan hari raya secara bersama. Antara dua ormas besar yang selama ini sering berbeda sama-sama mengawali puasa pada tanggal 24 April 2020. Hal ini karena pada satu hari sebelumnya posisi hilal sudah diatas 2 derajat, sehingga dari Muhammadiyah posisi hilal tersebut sudah dinyatakan wujud dan dari NU juga mengikhbarkan keberhasilan melihat hilal di beberapa titik yang menyelenggarakan rukyatul hilal.

Untuk hari raya Idul Fitri yang ditatepkan beberapa hari lalu, hisab Wujudul Hilal dari Muhammadiyah menyatakan bahwa posisi hilal saat Matahari terbenam pada tanggal 23 Mei 2020 sudah berada diatas ufuk atau sudah wujud, sehingga hari setelahnya sudah masuk bulan Syawal. Sementara dari NU, satu hari sebelumnya juga mengikhbarkan bahwa pelaksanaan rukyat pada tanggal 22 Mei atau 29 Ramadan dibeberapa lokasi tidak berhasil melihat hilal. Hal ini disebabkan karena hilal sudah terbenam lebih dahulu, sehingga ketika Matahari terbenam hilal sudah berada di bawah ufuk. Dengan demikian bulan Ramadan tahun 1441 ini di istikmal-kan menjadi 30 hari dan antara NU dengan Muhammadiyah sama-sama memulai hari raya Idul Fitri pada tanggal 24 Mei 2020.

Sebagaimana kebersamaan dalam awal puasa dan Idul Fitri, untuk hari raya Idul Adha tahun 2020 ini kemungkinan juga tidak ada perbedaan. Hal ini dikarenakan posisi hilal pada saat terbenamnya Matahari tanggal 29 Zulqa’dah sudah berada pada ketinggian 8 derajat. Posisi hilal yang cukup tinggi tersebut sudah jelas bahwa hilal sudah wujud dan besar kemungkinan juga akan berhasil dirukyat.

Kebersamaan karena posisi hilal yang terjadi sejak tahun 2016 ini diprediksi akan berlangsung hingga tahun 2021 mendatang. Jika kriteria penentuan awal bulan yang digunakan masih seperti keadaan saat ini, maka perbedaan awal bulan kemungkinan akan terjadi kembali pada awal Ramadan 1443/2022. Pada saat itu posisi hilal sudah berada diatas ufuk namun ketinggiannya kurang dari 2 derajat, sehingga dengan posisi seperti ini menurut Muhammadiyah hilal sudah wujud karena diatas 0 derajat, namun sangat sulit untuk di rukyat karena posisinya yang masih sangat rendah. Selain awal Ramadan 1443/2022 ini, kemungkinan perbedaan lainnya terjadi pada awal Idul Fitri tahun 1444/2023, dan Idul Adha tahun 1444/2023 mendatang.

Meskipun perbedaan awal bulan yang terjadi di Indonesia ini sering disebut sebagai sebuah rahmat, namun sebuah persatuan tentunya menjadi suatu yang diutamakan. Sampai saat ini para ahli falak dan astronomi sedang berupaya keras untuk menyatukan awal bulan kamariah sebagai simbol persatuan umat Islam ini. Upaya yang sedang diusahakan oleh para pakar saat ini bukan hanya berkutat dalam metode penentuannya antara hisab dan rukyat, melainkan juga berusaha untuk menyusun kriteria yang bisa diterima oleh semua pihak. Kriteria masuknya awal bulan kamaraiah ini menjadi fokus utama dalam usaha penyatuan awal bulan Kamariah, karena dengan kriteria yang sama, kemungkinan besar juga menghasilkan awal bulan yang sama juga, meskipun cara atau metode penentuannya berbeda, yaitu dengan hisab ataupun dengan rukyat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here