Kebebasan dan Kerukunan Beragama Menurut Para Cendikiawan Muslim

0
695

BincangSyariah.Com – Islam sebagai agama yang Rahmatan lil-‘Alamiin menegaskan hak kebebasan beragama bagi setiap pemeluknya. Meskipun dalam Ali Imran ayat 19 dan 85 dikatakan bahwa agama yang benar adalah Islam. Dalam Tafsir al-Wasith, Sayyid Thanthawi menjelaskan bahwa prinsip Islam secara kemasyarakatan mengakui adanya entitas-entitas agama lain dan membiarkan para pemeluknya untuk melakukan peribadatan sesuai agamanya masing-masing. (Baca: Tiga Jenis Toleransi di Dalam Al-Qur’an)

Nurcholis Madjid atau yang lebih akrab disapa dengan panggilan Cak Nur memberikan gagasannya mengenai kerukunan beragama. Ia berpijak pada dasar semangat humanitas dan universalitas Islam. Semangat humanitas ini mempunyai pengertian bahwa Islam adalah agama kemanusiaan, dengan kata lain Islam sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya.

Sedangkan yang dimaksud dengan universalitas Islam, diambil dari nama Islam itu sendiri yang berarti sikap pasrah terhadap Tuhan. Tafsiran itu muncul pada konsep kesatuan kemanusiaan (The unity of prophecy) dan kesatuan kenabian (The unity of prophecy) yang keduanya berdasar pada kesatuan ke-mahaesaan Tuhan (The unity of God).

Dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, Cak Nur tidak sendirian. Gus Dur yang dikenal sebagai Guru Bangsa dan Bapak Toleransi juga selalu berada di barisan depan dalam hal ini. Salah satu pemikiran Gus Dur yang terkenal ialah ketika ia menafsirkan ayat udkhulu fii silmi kaffah. Jika kebanyakan para pendukung formalisasi agama menyatakan kata Silmi adalah Islam, beda halnya dengan Gus Dur yang menafsirkan hal tersebut dengan perdamaian.

Bagi Gus Dur untuk menjadi seorang muslim yang baik adalah menerima prinsip-prinsip keimanan, melaksanakan rukun iman, selalu menegakkan prinsip kemanusiaan, dan tak lupa  menghormati agama yang lain. Gus Dur pernah berkata dalam salah satu tulisnnya:

“Di mata UU (bukan dari sisi akhiratnya), semua agama itu diperlakukan sama menurut Negara. Agama-agama dan kepercayaan harus diperlakukan sama di muka Undang-Undang. Adapun nanti di akhirat, itu urusannya Gusti Allah yang sudah mengatakan innadinna indallahil Islam. Tapi kalau di Indonesia perlakuan negara itu harus sama, karena semua adalah warga negara RI. Tidak boleh ada warga kelas satu, kelas dua dan seterusnya hanya berbeda suku, berbeda daerah, berbeda agama, berbeda paham pemikiran dan berbeda yang lain. Semua di mata Undang-Undang sama” (Wahid, 2006)

Pada dasarnya memang semua agama mengajarkan kerukunan terhadap sesama. Karena jika dilihat dari perspektif teologis-historis agama Islam, Kristen, juga Yahudi merupakan Abrahamic Religions atau agama yang berasal dari Ibrahim, sehingga ketiganya memiliki ajaran yang sama, yakni kasih sayang dan keadilan terhadap sesama.

Selain itu, dalam pandangan Dr. Ayoub kerukunan antar agama tersebut akan cenderung terganggu oleh ekslusivisme yang ada di kalangan umat beragama. Sikap ekslusif ini ditandai dengan sikap yang tertutup, mengklaim agamanya sebagai satu-satunya yang terbaik, dan tidak terbuka terhadap dialog dan kerja sama, dan tidak/kurang mengakui adanya agama yg lain. Dan hal tersebutlah yang harus dilawan, karena dapat menggoyahkan suatu kerukunan di sebuah masyarakat.

Cak Nur, Gus Dur dan Dr Ayoub adalah sedikit dari banyaknya orang-orang yang terus senantiasa memperjuangkan kerukunan beragama dengan memerangi ekslusivisme dengan pemikiran-pemikiran yang inklusif. Dengan terus menerus memproduksi pemikiran yang inklusif, tentu masyarakat yang rukun, damai akan terwujudkan.

Dalam mengakhiri tulisan ini, penulis teringat sebuah perkataan yang sangat menarik dari seorang Gus Dur. Ia berkata, “Jika kamu melakukan suatu kebaikan, orang tidak akan menanyakan apa agamamu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here