Kebebasan Berpendapat di Media Sosial

0
242

BincangSyariah.Com – Fakta tentang media sosial di berbagai negara cukup mencengangkan. Negara-negara Timur Tengah dan Afrika mengalami banyak konflik karena penggunaan media sosial dengan cukup aktif.

Hal ini, dalam opini saya bukan hanya memunculkan perang terbuka antara pemilik gagasan, namun juga masyarakat luas juga seakan mendapatkan panggung untuk berperang dengan gagasan-gagasan mereka sendiri. Ketika itu tak terbendung, maka tentu saja akan memicu perang sesungguhnya di dunia nyata.

Arab Spring adalah salah satu bukti nyata bagaimana media sosial secara ampuh menjadi ruang publik dalam menyebarkan isu-isu politik, ekonomi, korupsi, pemerintahan dan lain sebagainya. Ini bermula dari revolusi yang terjadi di Tunisia pada 2011 dan menjadi isu trans-nasional yang mempengaruhi kemunculan gerakan lain di Mesir, Libya, Yordania, dan Yaman.

Arab Spring sendiri adalah bentuk kekecewaan publik terhadap situasi negaranya, seperti banyaknya kasus korupsi oleh elit negara, angka pengangguran yang tinggi, angka kemiskinan yang terus naik, peningkatan harga-harga barang, dan pemerintahan yang otoriter. Isu-isu ini kemudian menggelinding sedemikian rupa melalui media sosial yang berujung penggulingan pemimpin-pemimpin di kawasan tersebut –Media Sosial dan Revolusi Politik: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-.

Indonesia adalah negara yang sangat majemuk dengan beragam suku dan agama, hal ini memungkinkan Indonesia menjadi negara dengan risiko perpecahan yang cukup signifikan. Di tambah dengan penggunaan media sosial yang liar tidak berbatas, sudah barang tentu akan menambah kekarut-marutan Indonesia jika tidak ditangani dengan benar. Berbeda dengan negara-negara Arab dan Afrika, Indonesia sedikit diuntungkan dengan masyarakatnya yang santun dan tidak mudah tersulut emosinya.

Meski begitu, ada baiknya mengindahkan nasihat-nasihat Alquran tentang berbicara di ruang publik. Pertama, budayakan untuk tidak berkomentar dan berbicara berlebihan yang sekiranya tidak benar-benar dikuasai. Dalam Alquran surah al-Anbiya’ ayat 7 Allah SWT berfirman:

Baca Juga :  Mengapa Waktu Terasa Cepat?

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”

Dalam tafsir al-Thabari (w. 310 H) dijelaskan bahwa ayat ini mengandung seruan kepada Nabi Muhammad dan orang Quraisy yang menuduh bahwa seorang rasul harusnya seorang malaikat bukan seorang manusia biasa seperti Nabi Muhammad Saw.

Oleh karena dugaan tersebut tidak berdasar, maka Allah SWT berfirman kalau rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad, juga adalah manusia biasa yang diberi wahyu oleh Allah, bukan malaikat.

Oleh sebab itu, jika orang-orang kafir Quraisy tidak mengerti tentang sesuatu (hal ini) tanyakanlah kepada orang-orang yang mengerti, dalam hal ini adalah Ahli Kitab, atau lihatlah dalam kitab Taurat, Injil, atau kitab-kitab lain yang diturunkan oleh Allah SWT.

Setiap orang memiliki idenya sendiri-sendiri, dan semua orang berhak menyuarakan ide tersebut. Inilah fenomena yang akhir-akhir ini tiada hentinya bergejolak. Orang-orang dengan mudahnya me-like, men-share, memberikan komentar terhadap sesuatu yang belum benar-benar mereka mengerti duduk perkaranya.

Terlebih mereka yang dengan mudahnya memberikan komentar negatif terhadap sesuatu yang belum mereka kuasai. Beberapa orang dengan ilmu yang pas-pasan secara membabi buta memberikan komentar terkait isu-isu yang sejatinya hanya dipahami oleh para politisi, ekonom, ahli tata negara, ahli agama, dan orang-orang yang bergelut dalam bidang tertentu.

Agamawan dengan basic agamanya dengan percaya diri melontarkan komentar terhadap isu-isu ekonomi, padahal tentu saja itu berada di luar wilayah yang dia kuasai.

Demikian juga sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki seluk-beluk agama ketika merasa ada yang tidak beres dengan kondisi umat beragama, dengan mudah memberikan komentar negatif terhadap isu-isu keagamaan.

Baca Juga :  Benarkah Ali bin Abi Thalib pernah Membakar Kaum Murtad? (Bagian III)

Terlebih masyarakat luas yang “tidak memiliki kepakaran dalam bidang tertentu”, maka hal ini tentu saja akan sangat mengganggu jagad dunia maya dan berimbas ke dunia nyata.

Yang penting untuk diingat adalah ketika fenomena ini tidak dipahami oleh khalayak umum, kakarut-marutan yang saya sebutkan di atas bukan tidak mungkin akan terjadi. Publik figur harus benar-benar mengerti posisi mereka dan wilayah keahlian mereka.

Jangan sampai menghakimi bidang kajian yang tidak mereka mengerti. Karena setiap yang disampaikan oleh publik figur akan diikuti oleh massa yang berada di bawahnya dan yang fanatik mengikutinya.

Kedua, biasakan untuk selalu meminta klarifikasi dan jangan terburu-buru memberikan kesimpulan. Meskipun ketika diklarifikasi berita tersebut benar adanya, tidak diperkenankan untuk membenci, mencibir, dan merendahkan sesama manusia. Ini adalah sesuatu yang masif terjadi di masyarakat internet kita, khususnya di Indonesia. Mari sejenak merenungkan surah al-Hujurat ayat 6 berikut ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Dalam tafsir yang sama, yakni tafsir al-Thabari, kata “tabayyanu” pada teks di atas ada juga dibaca dengan “tastabbatu”, cara membaca yang kedua ini ada dalam mushaf ‘Abdullah. Keduanya, baik “tabayyanu” dan “tatsabbatu” memiliki maknaAmhilu hatta ta’rifu shihhatahu, wa la ta’jilu biqabulih: “Abaikan berita tersebut sampai kalian mengetahui kebenaran berita tersebut dan jangan terburu-buru menerima berita tersebut.” Adapun fasik dalam ayat di atas adalah orang-orang berdusta, ini sebagaimana tersebut dalam penafsiran banyak ulama.

Baca Juga :  Mengenal Thaifah Manshurah

Ayat di atas secara kronologis turun berkenaan dengan Rasulullah Saw yang mengutus beberapa utusannya, di antaranya adalah al-Walid bin ‘Uqbah, salah seorang dari Bani ‘Amr bin Umayyah dan salah seorang dari Bani Abi Mu’ith. Mereka diutus menemui Bani Mushtaliq untuk mengambil beberapa pungutan dari mereka.

Bani Mushtaliq yang akan dikunjungi oleh utusan Rasulullah Saw merasa bahagia, mereka pun keluar berbondong-bondong menemui al-Walid. Di tengah jalan ketika al-Walid mendengar bahwa mereka berbondong-bondong menemui al-Walid, ia pun kembali dan mengabarkan kepada Nabi Saw bahwa mereka enggan membayar zakat. Seketika Rasulullah Saw naik pitam dan hendak menyerang mereka.

Namun tiba-tiba seorang utusan dari Bani Mushtaliq datang menyampaikan kekhawatirannya terkait kepulangan al-Walid di tengah perjalanan. Ia menyampaikan bahwa mereka khawatir Rasulullah marah dan menarik utusannya, padahal mereka hendak menyambut utusan tersebut. Karena alasan inilah ayat di atas turun, kisah ini sendiri diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas dalam al-Jami’ al-Bayan.

Kisah di atas sangat jelas sekali bahwa hal-hal yang belum jelas pemberitaannya memerlukan klarifikasi terlebih dahulu, ditambah lagi ketika itu menyangkut urusan bernegara dan berbangsa. Hal-hal semacam ini tentu saja akan memicu perpecahan jika berlarut-larut tidak ditangani dengan baik.

Islam sudah sejak lama memiliki solusi dalam berbicara di ruang publik, seperti hanya berbicara yang baik atau diam, tidak diperkenankan untuk mengadu domba, menggosip, menuduh yang bukan sebenarnya, menyebarkan kasih sayang dan banyak sekali hal-hal simpel dalam Islam yang perlu diterapkan di dalam bergaul di ruang publik, khususnya media sosial.

Demikianlah beberapa nasehat dalam Alquran yang patut direnungkan oleh kita semua. Semoga bermanfaat dan membawa kedamaian di negeri kita tercinta. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here