Keadaan yang Membolehkan Wanita Masturbasi

3
132

BincangSyariah.Com – Dalam hukum Islam ada beberapa keadaan yang membolehkan wanita masturbasi. Hal itu diungkapkan oleh ulama klasik dan kontemperer. Siapa saja mereka? Simak penjelasan di bawah ini.

Dalam Islam, menjaga kemaluan (farji) bagi seorang muslim merupakan suatu kewajiban. Hal itu sejalan dengan firman Allah Q.S al-Mukmin ayat 5:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ

Artinya: Dan mereka yang menjaga kemaluan mereka.

Dan juga Firman Allah dalam Q.S an-Nur ayat 33:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

Artinya: Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya

Atas dasar ayat ini para ulama mengharamkan perbuatan zina dan melakukan istimna (masturbasi). Pengertian masturbasi adalah adalah mengeluarkan air mani dengan cara menggunakan salah satu anggota badan (tangan misalnya) untuk mendapatkan kepuasan seks.

Meski begitu, ada beberapa ulama yang mengeluarkan fatwa ; bolehkan masturbasi. Keadaan yang membolehkan masturbasi itu difatwakan oleh beberapa ulama klasik dan kontemporer.

Salah satunya adalah pendapat ulama dari mazhab Hanafi.  Mazhab ini memang secara prinsip mengharamkan onani, tetapi mereka memberikan kelonggaran dan membolehkan masturbasi. Sebagaimana dikutip dari dalam buku, Masailul Fiqhiyah, karya Mahyuddin, yang mengatakan dalam keadaan memuncak birahi seks dan takut terjatuh kepada zina, maka seorang wanita hukumnya boleh melakukan masturbasi.

Ibn Taimiyah juga termasuk ulama yang mengatakan boleh hukumnya seorang wanita melakukan masturbasi. Dalam kitab Majmu’ Fatawa, ia berfatwa;

يرى ابن تيمية أن الأصل في العادة السرية هو التحريم ويجب التوبة عنها، ولكنه روى عن بعض الصحابة والتابعين اعتقادهم في اباحتها للضرورة ,مثل خشية الزنا

Artinya: Ibn Taimiyah meriwayatkan bahwa hukum asal dari kebiasaan rahasia (baca: masturbasi) adalah haram. Dan seseorang wajib taubat ketika melakukannya. Akan tetapi diriwayatakan sebagian sahabat, dan tabi’in boleh melakukan masturbasi. Kebolehan melakukan masturbasi itu karena darurat, misalnya: takut zina.

Pendapat boleh melakukan masturbasi juga difatwakan oleh Syekh Abdul Bari Khallah, Ahli Yurisprudensi Islam dari Universitas Islam Gaza. Ia menulis;

وقال الحنابلة: إنه جائز عند الحاجة . ويرى بعض الفقهاء جوازه، قالوا: حيث لم يرد فيه أحاديث صحيحة، فيكون الأصل هو الإباحة

Artinya: Berkata sebagian Mazhab Hanbali, boleh melakukan masturbasi ketika ada hajat. Dan juga  berpendapat sebagian ulama, boleh melakukan masturbasi. Pendapat itu  disebabkan tak ada ditemukan hadis yang shahih  yang melarangnya, maka jadilah ia hukumnya boleh melakukan masturbasi.

Lebih lanjut, Syekh Abdul Bari, mengatakan kebolehan melakukan masturbasi terjadi ketika seseorang misalanya sangat berlebihan nafsu syahwatnya dan keinginan yang membuncah, bila ia tak melakukan masturbasi, maka aktivitasnya terganggu. Misalnya bila tak masturbasi akan berimbas buruk kepada  pekerjaan dan studinya, maka hukumnya boleh melakukan masturbasi.

Demikianlah keterangan yang menjelaskan keadaan yang membolehkan wanita masturbasi.  Mari kita bijak dalam memandang hukumnya. Semoga bermanfaat.

(Baca: Contoh Nikah yang Bisa Menjadi Haram)

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here