Kapan Penggunaan Maslahah Mursalah Diperbolehkan?

0
42

BincangSyariah.Com – Sebagai sebuah metode ijtihad dalam rangka melahirkan sebuah rumusan hukum Islam, maslahah mursalah nyatanya tidak serta merta bisa kita gunakan secara serampangan dalam berbagai persoalan. Ada berbagai persyaratan yang mesti dipenuhi dalam rangka menggunakan maslahah mursalah tersebut. Di sisi lain, terdapat pula persoalan wilayah dimana kita bisa menggunakannya dan ada wilayah yang terlarang bagi kita untuk menggunakan maslahah mursalah tersebut.

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Ushul Fiqh al-Islami (j. 2 h. 39) menjelaskan beberapa persyaratan penggunaan maslahah mursalah. Diantaranya ialah:

  1. Adanya persesuaian antara maslahah mursalah dengan tujuan utama pensyariatan. Artinya, penggunaan maslahah mursalah tidak boleh bertentangan dengan hukum-hukum yang telah baku disesuaikan dengan nash syariat. Secara otomatis, berarti maslahah mursalah ini tidak boleh bertentangan dengan dalil-dalil nash Alquran dan hadits.
  2. Maslahah mursalah harus masuk akal, yakni mempunyai sifat-sifat dan pertimbangan yang rasional. Bukan maslahah yang sifatnya spekulatif (madznun) ataupun kacau (wahm). Dalam praktiknya, penggunaan maslahah mursalah ini mesti mempertimbangkan antara kemaslahatan dan kemadlaratan yang ditimbulkannya.
  3. Kemaslahatan yang ingin dicapai harus bersifat umum, artinya jangan sampai kemaslahatan ini hanya menguntungkan sebagian pihak namun merugikan pihak lainnya. Selain itu, kemaslahatannya pun harus bersifat hakiki (nyata), dan bukan hanya berdasar pada dugaan semata.
  4. Penggunaan maslahah mursalah harus berdasar pada upaya menghilangkan kesukaran. Apabila ternyata maslahah mursalah ini digunakan namun malah menghadirkan bahaya yang lebih besar, maka akan dianggap batal.

Berikutnya, dalam persoalan ruang lingkup maslahah mursalah, Najmuddin Sulaiman bin Abdul Qawi dalam Syarah Mukhtashar al-Raudhah (j. 1 h. 61) menjelaskan bahwa berhujjah menggunakan maslahah mursalah tidak bisa mencakup semua lini syariat Islam, namun terbatas dalam beberapa hal saja. Wilayah yang bisa disentuh oleh maslahah mursalah diantaranya ialah:

Baca Juga :  Hindarilah Dosa yang Paling Berat Ini
  1. Wasilah (perantara) yang dapat memperkokoh akidah dan ibadah. Hal tersebut berupa amaliyah atau perbuatan-perbuatan yang bisa membantu mengokohkan akidah dan menggemarkan manusia dalam beribadah dengan cara yang paling baik. Contohnya ialah melakukan penelitian ilmiah untuk menemukan hal baru seperti hikmah pensyariatan mengapa babi diharamkan untuk dikonsumsi sehingga menjadikan akidah manusia semakin kuat dalam keimanan mereka. Hal lain dalam ibadah misalkan penggunaan pengeras suara ketika salat jamaah, khutbah jumat, pengajian dan lain sebagainya dengan tujuan agar suara khatib atau imam bisa menjangkau seluruh audiens.
  2. Dalam bidang muamalah dan adat, semuanya bisa dicakup oleh maslahah mursalah seperti pada berbagai akad yang belum mendapatkan justifikasi dari syariat, maka kita bisa menggunakan maslahah mursalah untuk menentukan hukumnya. Jika akad tersebut lebih condong kepada kemaslahatan, maka tentu bisa kita katakan halal, sebaliknya jika ternyata akad tersebut mengandung potensi merugikan bagi satu atau kedua pihak, maka kita nyatakan sebagai haram.

Berikutnya, terdapat beberapa wilayah dimana maslahah tidak bisa masuk kedalamnya, yakni:

  1. Akidah Islam. Contohnya ialah beriman kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, hari akhir, dan lain sebagainya. Termasuk diantaranya ialah surga dan neraka. Semua jenis keimanan ini tidak bisa diijtihadi menggunakan maslahah mursalah. Artinya, kita tidak bisa menggunakan narasi kemaslahatan menurut akal kita dalam menimbang persoalan akidah ini, semuanya harus berpangkal pada panduan dalil ayat-ayat Allah SWT. Tidak boleh kita tambahi atau kita kurangi.
  2. Segala praktik peribadatan tidak boleh diijtihadi dengan maslahah mursalah karena praktik peribadatan dalam syariat Islam sudah ditetapkan berdasarkan nash yang tetap (qath’i). Artinya, kita tidak boleh melakukan amalan ibadah tanpa ada petunjuk langsung dari Allah dan Rasul-Nya. Sebagai contoh, amaliyah salat fardlu, kita tidak bisa menambah atau mengurangi rakaat dan rukunnya, serta tidak boleh memodifikasi tatacaranya dan sebagainya. Begitu juga dalam amalan ibadah lainnya seperti puasa, haji, dan zakat, entah itu berupa kefardluan ataupun kesunnahan.
  3. Al-Muqaddarat (ukuran dan takaran) sebagaimana yang tertera dalam nash Alquran dan sunnah seperti kafarat, sanksi-sanksi dalam Islam, pembagian harta waris dan lain sebagainya. Ukuran-ukuran tersebut sifatnya adalah tetap dan tidak bisa dimodifikasi.meskipun beda wilayah dan waktu mempengaruhi kemaslahatan yang berbeda, namun ukuran dan takaran tersebut tidak bisa berubah.
Baca Juga :  Di Rumah Tidak Ada Orang, Apakah Tetap Disunahkan Mengucapkan Salam?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here