Kalbu yang Menerima Nur Ilahi Menurut Ibnu Qayyim

0
661

BincangSyariah.Com – Satu wadah hanya dapat diisi jika ia kosong dari segala sesuatu. Kondisi ini berlaku tak hanya pada benda, namun juga pada keyakinan dan kerendahan hati. Jika kalbu dipenuhi keyakinan dan kecintaan kepada sesuatu yang batil, maka tidak tersisa tempat bagi kebenaran dan kecintaan kepada-Nya. Seperti halnya lidah, jika sering digunakan untuk membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, kecuali jika ia menjauhkan lisannya dari pembicaraan yang batil. Begitu juga anggota badan, jika sering digunakan untuk selain ketaatan, tidak akan terbiasa melakukan ketaatan, kecuali bila meninggalkan lawan-lawannya.

Begitu pula dengan hati yang mencintai selain Allah dan mengikuti kehendak-Nya, maka ia tidak mungkin mencintai dan merindukan-Nya, apalagi ingin bertemu dengan-Nya. Kecuali jika mereka dikosongkan dari mengingat dan mengabdi kepada selain-Nya.

Jika hati dipenuhi kesibukan dengan makhluk dan ilmu yang tidak bemanfaat, maka tidak akan tersisa baginya kesibukan terhadap Allah, mengetahui nama-nama, sifart-sifat dan hukum-hukumNya. Rahasia di balik itu adalah jika hati dan telinga sering digunakan untuk mendengar selain perkataan Allah, ia tidak akan terbiasa mendengarkan dan memahami perkataan-Nya. Begitu juga jika hati condong mencintai selain Allah, maka ia tidak akan condong untuk mencintai-Nya. Jika hati terbiasa mengingat selain Allah maka ia akan terbiasa tidak mengingat-Nya, begitu juga dengan lisan.

Allah Swt berfirman

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ

Artinya; Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya. (QS. Al-Ahzab; 4)

Maka satu hati yang telah terisi dengan sesuatu yang lain, maka ia cenderung sulit untuk menerima nur ilahi. Jika hati dipenuhi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, maka segala nasehat yang masuk kepadanya tidak akan menembus hatinya bahkan akan menolaknya.

Baca Juga :  Fenomena Komersialisasi Umrah di Bulan Ramadhan Menurut Kyai Ali Musthafa Yaqub

Jika hati dipenuhi dengan semua itu, maka ia tidak akan bisa menerima intisari ajaran Al-Quran dan  dan ilmu yang menjadi kesempurnaan dan kebahagiaannya. Hal yang demikian itu sungguh pahit dan menjadikan hidup tidak tenang. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here