Kajian Tauhid: Apakah Allah Wajib Berbuat Baik pada Makhluk-Nya?

0
232

BincangSyariah.Com – Kalangan Muktazilah meyakini bahwa Allah wajib berbuat baik pada makhluk-Nya (Fi’l ash-Shalah wa al-Ashlah). Allah tidak boleh dan tidak mungkin (mustahil) berbuat keburukan pada makhluknya. Karena itu, kalangan muktazilah menganggap “ma” yang terdapat dalam ayat kedua surah al-Falaq sebagai “ma nafi” (ma dengan makna tidak) bukan “ma maushul” (ma dengan makna sesuatu). Perbedaan ini tentu berpengaruh pada makna yang dikandung ayat.

Makna ayat kedua surah al-Falaq versi muktazilah kira-kira berbunyi begini “dari kejelekan yang tidak (mungkin) Rabb al-Falaq ciptakan”. Makna ayat terebut berbeda dengan makna yang diyakini oleh kalangan Sunni, “dari kejelekan yang Rabb al-Falaq ciptakan”. Hanya saja secara adab, pelaku perbuatan keburukan memang sebaiknya dinisbatkan kepada kita sebagai makhluk. Seperti benar apa yang telah tertulis dalam kebanyakan mushaf terjemah al-Qur’an. Tetapi tetap pada hakikatnya setiap apa yang tercipta dan terjadi, semua merupakan ciptaan dan kreasi Allah. Penyematan makhluk terhadap perbuatan jelek hanya semata dalam rangka adab. (Tafsir Surah al-Falaq; Surah Penangkal Sihir)

Dalam kepercayaan Sunni (Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah), keyakinan kalangan Muktazilah termasuk keliru. Jika benar Allah wajib berbuat baik atau wajib berbuat yang terbaik terhadap hambanya, maka tentu Allah tidak akan menciptakan kehidupan orang kafir sekaligus dalam keadaan miskin. Yang disiksa dengan kemiskinannya di dunia, ditambah siksa azab yang pedih di akhirat.

Akan lebih baik -menurut akal kita- tidak menciptakan kehidupan yang berisi kepedihan ganda semacam itu. Namun nyatanya Allah telah banyak menciptakan sesuatu yang menurut pikiran kita bukanlah merupakan keputusan terbaik. Akal pikiran kita mesti mengatakan bahwa lebih baik mematikan orang kafir tersebut saja di waktu kecil, supaya tidak sempat melakukan perbuatan dosa kekafiran. Atau lebih baik Allah menghilangkan saja kewarasan akal pikiran orang kafir tersebut sebelum ia mencapai usia baligh, supaya terbebas dari siksa hari pembalasan.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Mengendalikan Hawa Nafsu Makan dan Seksualitas

Dalam kepercayaan Sunni, Allah sebagai Tuhan sama sekali tidak berkewajiban berbuat baik, terhadap makhluk atau hambanya, juga tidak wajib berbuat sesuatu yang dalam timbangan pikiran makhluknya dianggap sebagai sikap yang terbaik. Allah (mengingat kedudukannya sebagai Tuhan) merupakan pelaku yang boleh berbuat apapun sekehendaknya, independen, dan maha kuasa atas segala sesuatu. Termasuk berbuat sesuatu yang dipandang oleh kita, sebagai perbuatan jelek. Hanya saja secara adab, pelaku perbuatan jelek memang sebaiknya dinisbatkan kepada kita sebagai makhluk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here