Kajian Rumahan; Islam Sesuai untuk Seluruh Zaman, Apa Maksudnya?

0
925

BincangSyariah.Com – Ustad Taufiqurahman, Dekan Fakultas Dakwah PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an) menjelaskan bahwa ajaran Hanif yang dibawa oleh para Nabi sebelumnya (Nabi Ibrahim, Nuh, Musa AS, dan lainnya) itu terbatas oleh waktu. Sementara itu, Islam sebagai risalah terakhir adalah untuk sepanjang waktu dan berlaku sampai hari akhir. Karena itu Islam sesuai untuk seluruh zaman, apa maksudnya?

“Jadi maksudnya, karena jangka waktu risalahnya sangat panjang, maka diberikan ruang kepada umat Islam untuk memiliki kreativitas menggunakan akal guna menjawab isu dan masalah yang ditemui pada setiap masa,” ujar Ustad Taufiq.

Teks yang ada dalam agama Islam bersifat prinsip-prinsip utama yang pemaknaannya dapat dikembangkan menurut keperluan zaman. Maka itu, para ulama dapat melakukan penurunan hukum dan pemaknaan baru sesuai dengan perangkat keilmuan yang tersedia. Tapi tentu yang memiliki otoritas melakukannya adalah yang punya kompetensi dan kualitas keilmuan yang memadai. (Baca; Seseorang yang Ingin Menafsirkan Al-Qur’an Harus Miliki Lima Kriteria Ini)

Kutipan Al-Quran mesti mengajak orang kepada kebaikan universal, yakni khair dan ma’ruf  yaitu kebaikan yang dikenal oleh masyarakat sekitar. Ma’ruf seakar dengan ‘urf yang bermakna adat. Maka dari itu syiar Islam haruslah sesuai dengan kebaikan yang universal baik secara adat atau kebiasaan masyarakat selama itu tidak menabrak ajaran prinsip Islam.

Misalnya, tutup kepala pria Asia Tenggara adalah songkok/peci berbeda dengan tutup kepala orang Arab yang memakai sorban. Begitu pun tahlilan merupakan implementasi perintah zikir sesuai dengan kerangka budaya Asia Tenggara. Juga mudik/pulang kampung dalam Islam merupakan implementasi pelaksanaan perintah silaturahim dalam kerangka budaya.

“Karena itu tidaklah benar kita mengajak kepada kebaikan yang ujug-ujug tidak dikenal secara budaya yang dapat diterima agama,” tegas Pria yang pernah dinobatkan sebagai Penafsir Al-Qur’an terbaik ke 7 pada MHQ Internasional di Kairo Mesir tahun 1996 itu.

Menurutnya, dalam hal ini umat Islam perlu membedakan bahwa Islam itu bukan Arab. Kita perlu membedakan antara ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam dan aspek budaya Arab sebagai tempat asal Islam diturunkan pertama kali.

“Sebagai contoh, hadis adalah rekaman kehidupan Nabi pada sepanjang 23 tahun risalah kenabiannya. Tidak akan cukup rekaman kehidupan 23 tahun untuk menjawab permasalahan umat hingga hari akhir,” jelas Ustad  alumni Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda, Brebes, Jawa Tengah itu, dalam acara Kajian Rumahan yang diadakan rutin di Bintaro.

Budaya selalu memiliki ruang yang lapang dalam agama Islam, karena Islam menekankan esensi dan substansi, bukan bentuk semata. Bentuk dapat berubah sesuai dengan adat, budaya, dan kebiasaan, selama masih dalam kerangka prinsip agama. “Contoh: pakaian menutup aurat tidak mesti jubah,” jelasnya.

Sebagai informasi, Kajian Rumahan adalah kajian keislaman dengan konsep homey yang diinisisi oleh masyarakat urban di suatu kompleks perumahan di kawasan Bintaro, yang bekerjasama dengan cariustadz.id, platform layanan untuk mencari ustadz yang dikelola oleh Yayasan Pusat Study Quran (PSQ) asuhan Prof. Quraish Shihab. Platform ini diluncurkan guna memudahkan masyarakat urban dan perkotaan mencari ustadz yang kompeten dan ramah untuk beragam kegiatan keagamaan, kajian keluarga, aqiqah, pernikahan dan pengajian rutin.

*Artikel ini dinarasikan dari catatan notulensi Kajian Rumahan tanggal 25 Agustus 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here