Kajian Rumahan; Cara Menangani Semangat Ibadah dan Keimanan yang Naik Turun

0
1145

BincangSyariah.Com – Semangat beribadah yang naik turun merupakan sesuatu yang alamiah dirasakan setiap manusia. Perlu disadari hal ini tidak hanya dalam beribadah, namun juga dalam berkegiatan sehari-hari lainnya.

Karenanya Rasulullah Saw selalu menasehati para sahabatnya agar tidak memberatkan diri dalam hal beribadah. Akan tetapi lebih baik melakukan amalan yang sedikit akan tetapi istiqamah. Menurut beliau, ini untuk menjaga ritme semangat beribadah agar tidak cepat lelah atau bosan melakukannya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit.” (HR. Muslim)

Allah menyukai hambanya yang rutin berbadah meskipun itu hanya sedikit, jadi jika merasa kemampuan diri baru sebatas rutin shalat dhuha dua rakaat, maka jangan paksakan shalat 12 rakaat tapi setelah itu tidak shalat dhuha lagi. Contohnya, jika sudah rutin beberapa waktu mendirikan shalat dhuha dua rakaat bisa ditingkatkan menjadi 4 rakaat dan seterusnya.

Menurut Ustad Taufiqurrahman, Dekan Fakultas Dakwah Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, untuk menangani semangat ibadah dan keimanan yang naik turun terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan. Adapun cara menanganinya:

Pertama, mulai dari ibadah yang sedikit, namun dilakukan secara istiqamah. Lalu ikuti dan tingkatkan secara perlahan namun pasti. Seperti dijelaskan sebelumnya.

Kedua, mulai dengan ibadah yang cocok dengan tipikal masing-masing orang, baru kemudian ditambahkan dengan jenis ibadah yang lain. Bisa mulai dengan zikir, shalat sunnah, puasa atau amalan lain yang disukai. Hal ini agar merangsang semangat untuk beribadah.

Baca Juga :  Hakikat dan Majaz dalam Al-Quran

“Contohnya: Susah bangun malam, namun senang puasa. Mulai dulu dengan puasa sunnah yang istiqamah,” ujar alumni Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda, Brebes, Jawa Tengah itu, dalam acara Kajian Rumahan yang diadakan rutin di Bintaro.

Menurut Ustad kelahiran Tegal 2 Maret 1970 ini, menyesuaikan kemampuan diri dalam hal beribadah mempunyai hubungan erat dan sinambung dengan qadha dan qadar Allah.

Qadha, jelasnya lagi, merupakan ketentuan umum dari Allah, misal ditentukan Allah memang punya fisik yang kuat untuk banyak puasa. Sementara qadar adalah ketentuan yang bersifat ukuran dan ditentukan manusia. Misal, terus menerus memperbanyak puasa atas kehendak sendiri.

Ketiga, dorong dengan motivasi dan target sendiri, sampai ke tingkat sudah menjadi akhlak / karakter ibadah masing-masing, sehingga konsisten dan selalu diusahakan untuk dilaksanakan.

Sebagai informasi, Kajian Rumahan adalah kajian keislaman dengan konsep homey yang diinisisi oleh masyarakat urban di suatu kompleks perumahan di kawasan Bintaro, yang bekerjasama dengan cariustadz.id, platform layanan untuk mencari ustadz yang dikelola oleh Yayasan Pusat Study Quran (PSQ) asuhan Prof. Quraish Shihab. Platform ini diluncurkan guna memudahkan masyarakat urban dan perkotaan mencari ustadz yang kompeten dan ramah untuk beragam kegiatan keagamaan, kajian keluarga, aqiqah, pernikahan dan pengajian rutin.

*Artikel ini dinarasikan dari catatan Kajian Rumahan pada tanggal 13 Juni 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here