Kajian Rumahan; Seseorang yang Ingin Menafsirkan Al-Qur’an Harus Miliki Lima Kriteria Ini

1
1069

BincangSyariah.Com – Ustad Taufiqurahman, Dekan Fakultas Dakwah PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an) menyampaikan, sejatinya sumber-sumber ajaran Islam, yaitu Al-Quran, hadis (sebagai penafsiran dan penjelasan kalamullah pada zaman Nabi), dan ijtihad para ulama berdasarkan nash (teks agama) yang ada, semuanya berasal dari Allah Karenanya, tidak benar jika ada orang yang menafsirkan al-Qur’an semata-mata menggunakan akalnya tanpa rujukan dan acuan.

“Penafsiran seperti itu artinya hanya menuruti akal dan kehendaknya tanpa acuan yang bersambung kepada Allah,” ujar alumni Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda, Brebes, Jawa Tengah itu, dalam acara Kajian Rumahan yang diadakan rutin di Bintaro.

Maka itu, lanjutnya, hanya orang-orang yang belajar dengan lengkap, kredibel, dan “profesional” yang boleh menafsirkan Al-Quran. Tidak semua orang boleh menafsirkan Al-Qur’an, karena syaratnya banyak, di antaranya:

Pertama. Menguasai ulumul Quran / keilmuan Quran, yaitu bahasa Arab, sastra Arab, ilmu logika (mantiq), Asbabun Nuzul, Nasikh Mansukh, dll

Kedua. Menguasai metode penafsiran

Ketiga. Memahami pokok-pokok fikih (ushul fiqh)

Keempat. Memahami tujuan dan maksud syariah (maqashid syariah)

Kelima. Memahami cara pengambilan dan penetapan hukum (Istinbath Al-Ahkam)

Memahami kesemua metode ini penting agar tidak salah menafsirkan. Maka itu, jangan mudah menganggap diri mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran, karena syaratnya banyak dan bahasa Arab itu sendiri adalah salah satu bahasa yang paling kompleks di dunia.

Bahkan, mufassir pada zaman sekarang saja tidak berani untuk menyebut dirinya mufassir, karena merasa ilmunya masih di bawah para mufassir pendahulu. “Perhatikan betapa rendah hatinya ulama kita,” ujar urai pria yang mendapatkan gelar Master of Arts (MA) dari Universitas Al-Azhar Kairo itu.

Sebagai contoh, satu kata dalam Al-Quran dapat bermakna ratusan, sehingga membuka kemungkinan perbedaan dan perkembangan penafsiran, sesuai dengan berkembangnya zaman, kebiasaan, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Kajian Rumahan; Apakah Kita Perlu Bermazhab?

Ustad Taufiqurrahman menasehati, agar umat islam menyadari bahwa ilmu dan akal manusia itu terbatas, sehingga perlu dipahami bahwa metode Allah itu universal dan penuh hikmah, walaupun seringkali kita tidak paham dan mengerti. “Sadari Iman itu tak terbatas, namun akal penuh batasan,” ujarnya.

Sebagai informasi, Kajian Rumahan adalah kajian keislaman dengan konsep homey yang diinisisi oleh masyarakat urban di suatu kompleks perumahan di kawasan Bintaro, yang bekerjasama dengan cariustadz.id, platform layanan untuk mencari ustadz yang dikelola oleh Yayasan Pusat Study Quran (PSQ) asuhan Prof. Quraish Shihab. Platform ini diluncurkan guna memudahkan masyarakat urban dan perkotaan mencari ustadz yang kompeten dan ramah untuk beragam kegiatan keagamaan, kajian keluarga, aqiqah, pernikahan dan pengajian rutin.

*Artikel ini dinarasikan dari catatan Kajian Rumahan pada tanggal 10 Agustus 2019.

1 KOMENTAR

  1. […] Teks yang ada dalam agama Islam bersifat prinsip-prinsip utama yang pemaknaannya dapat dikembangkan menurut keperluan zaman. Maka itu, para ulama dapat melakukan penurunan hukum dan pemaknaan baru sesuai dengan perangkat keilmuan yang tersedia. Tapi tentu yang memiliki otoritas melakukannya adalah yang punya kompetensi dan kualitas keilmuan yang memadai. (Baca; Seseorang yang Ingin Menafsirkan Al-Qur’an Harus Miliki Lima Kriteria Ini) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here