Kajian Alquran: Dhomir dan Penafsiran Al Quran

0
903

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya, dhomir (kata ganti) digunakan dalam bahasa sebagai sarana untuk meringkas pembicaraan dan menghindari pengulangan penyebutan kata yang sama. Al Quran juga menggunakan dhomir dengan tujuan yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, ketika dalam sebuah ayat Al Quran, kata yang dirujuk oleh dhomir tersebut tidak disebutkan, atau disebutkan tetapi lebih dari satu. Maka hal ini menuntut seorang mufasir untuk berupaya menentukan kata yang dimaksud oleh dhomir ini berdasarkan alasan yang terkait dengan konteks ayat. Perbedaan penentuan kata rujukan dhomir ini otomatis akan menyebabkan perbedaan penafsiran dan istimbath hukum, dan berikut ini beberapa contoh kasus perbedaan tafsir yang disebabkan oleh dhomir:

1- An Nisa [4]: 2,

وَءَاتُوا۟ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…”

Dhomir dalam kata وءاتوا diperselisihkan oleh para ulama, siapakah yang diperintahkan memberikan mas kawin. Pendapat terkuat mengatakan bahwa perintah itu untuk sang suami, dengan alasan konteks ayat membicarakan mereka. Pendapat kedua mengatakan, perintah itu untuk para wali sang istri, dengan alasan sebab turunnya ayat ini terkait kebiasaan para wali wanita yang menguasai mahar untuk dirinya sendiri.

2- An Nisa [4] 35,

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ

“Dan jika kalian khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu…”

Para ulama memperselisihkan dhomir pada kata fab’atsu, untuk siapakah perintah ini ditujukan? Pendapat pertama mengatakan yang dimaksud dhomir tersebut adalah suami istri dan keluarganya. Pendapat kedua mengatakan dhomir perintah ini ditujukan kepada para pengambil keputusan/hakim yang menerima aduan kedua belah pihak, dengan alasan ada kata baynahumaa (antara keduanya).

Baca Juga :  Kisah Tiga Ahli Tafsir yang Tak Sempat Menyelesaikan Tafsirnya

Beberapa ulama memberi jalan tengah dengan mengatakan bahwa, penggunaan dhomir jamak dalam ayat ini mencakup semua yang khawatir terjadinya pertentangan antara suami istri.

3- Al Baqoroh [2]: 184,

وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya, membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”

Para ulama memperselisihkan, dhomir pada kata yuthiiquunahu (menjalankannya), apa yang dimaksud dengan dhomir tersebut? Sebagian besar mengatakan maksudnya adalah yang berat menjalankan puasa. Sebagian lainnya mengatakan maksudnya adalah yang berat menjalankan bayar fidyah atau fida’. Pendapat pertama lebih kuat karena kata puasa telah disebutkan sebelumnya, juga karena kata puasa itu mudzakkar.

4- Yusuf [12] :42,

وَقَالَ لِلَّذِى ظَنَّ أَنَّهُۥ نَاجٍ مِّنْهُمَا ٱذْكُرْنِى عِندَ رَبِّكَ فَأَنسَىٰهُ ٱلشَّيْطَٰنُ ذِكْرَ رَبِّهِۦ فَلَبِثَ فِى ٱلسِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan kepada tuannya (versi lain: lupa mengingat Tuhannya). Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya”

Yang diperselisihkan adalah dhomir yang dalam kata fa ansaahu. Pendapat pertama mengatakan: Setan menjadikan Yusuf lupa mengingat Allah. Pendapat kedua mengatakan: Setan menjadikan pemberi minum itu lupa menerangkan keadaan Yusuf kepada tuannya. Pendapat kedua ini lebih dikuatkan oleh para ulama, karena dalam ayat setelahnya, ada keterangan bahwa yang lupa adalah pemberi minum, dan juga karena nabi-nabi Allah tidak mungkin bisa diperdaya setan.

5- An Nur [24] 63,

فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Allah/Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”.

Dhomir yang diperselisihkan adalah dhomir pada kata amrihi (perintahnya). Dhomir ini bisa dikembalikan kepada Allah, juga bisa dikembalikan kepada Rasul. Konteks dan makna ayat tersebut bisa mencakup keduanya.

Baca Juga :  Sebagai Manusia, Kita Perlu Merenungi Tiga Pertanyaan Ini

Inilah beberapa contoh perbedaan rujukan yang terjadi antara para ahli tafsir. Tujuan tulisan ini untuk memahami bahwa rujukan dhomir para ulama memerlukan perangkat yang kompleks, dari asbabun nuzul, kaidah kebahasaan, konteks ayat dan hubungan masing-masing kata dalam ayat. Singkatnya, perlu penguasaan bahasa Arab yang mendalam untuk mampu memahami Al Quran.  Wallahu A’lam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here