Kafir tidak Selalu Bermakna ‘Non-Muslim’

2
2865

BincangSyariah.Com – Selain memandang keimanan dan keyakinan manusia dalam dua kategori utama yang serba hitam dan serba putih, Islam juga memiliki kategori rinci yang tidak serba hitam-putih melainkan bisa hitam,  bisa putih, bisa agak putih, bisa agak hitam, bisa juga hitam pekat, bisa abu-abu dan seterusnya tergantung kepada tingkatan keimanan dan tingkatan manisfestasinya dalam kehidupan.

Dengan paradigma yang serba tidak hitam-putih ini, penggunaan kata-kata kufr, nifaq, syirik dan lain-lain dalam hadis-hadis Nabi tidak mesti dipahami dalam pengertiannya yang mutlak, yakni kalau tidak muslim, ya kafir, kalau tidak mukmin, ya musyrik. Tidak seperti itu al-Quran dan as-Sunnah mengkategorikan keyakinan manusia.

Jika kita menilik lebih jauh, kufur dalam bahasa al-Quran dan as-Sunnah dapat dikategorikan menjadi dua, kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar berkenaan dengan hilang atau kosongnya keimanan secara total dalam hati sehingga menyebabkan pemiliknya, dalam sanksinya di dunia, telah keluar dari Islam dan  menyebabkannya kekal tinggal di neraka dalam sanksinya di akhirat. Dan karena kekosongan keimanan ini, seseorang layak disebut sebagai kafir yang sebenarnya (kufur besar).

Kemudian ada juga kategori yang disebut sebagai kufur kecil, yakni kekufuran yang menyebabkan pelakunya hanya akan mendapat ancaman siksa di neraka tanpa perlu kekal tinggal di dalamnya dan juga bagi pelakunya tidak dapat dihukumi sebagai ‘telah keluar dari Islam’. Kufur dalam pengertiannya yang pertama ialah sejenis sikap penolakan atau pemberontakan secara terang-terangan baik secara total atau parsial terhadap ajaran Nabi SAW, atau sikap menolak ajaran-ajaran pasti dalam agama.

Sedangkan kufur dalam pengertiannya yang kedua ialah sikap melanggar ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah SWT yang berupa perintah maupun larangan. Artinya kufur dalam pengertian seperti ini merupakan bahasa lain dari bentuk kemaksiatan atau dosa. Kufur dalam kategori kedua ini dapat kita temukan contoh-contohnya dalam hadis-hadis Nabi SAW.  Misalnya hadis Nabi yang berbunyi:

Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir” atau dalam riwayat lain “sungguh ia telah musyrik”, “Menghina seorang muslim ialah bentuk kefaiskan sedangkan memeranginya ialah bentuk kekafiran,” “Sepeninggalku nanti, janganlah kalian kembali menjadi kafir yang saling memerangi”, “Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian karena sesungguhnya kekafiran itu terletak pada sikap benci kalian terhadap mereka”, “Barang siapa yang berkata kepada saudaranya: wahai kafir, maka kekafiran akan menempel ke salah seorang di antara keduanya.”

Kekafiran yang dimaksud dalam hadis-hadis ini dan hadis-hadis  yang serupa dengannya tidaklah dimaksudkan sebagai bentuk kekafiran yang telah mengeluarkan seseorang dari Islam. Hal demikian karena ada variabel-variabel lain yang memungkinkan maknanya tidak selalu merujuk kepada bentuk kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari label mukmin atau muslim.

Baca Juga :  Hukum Berkurban untuk yang Sudah Meninggal

Misalnya dulu para sahabat saling berperang namun mereka tidak saling mengkafirkan satu sama lain. Imam Ali bin Thalib AS konon dalam riwayat yang sahih tidak mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi yang memeranginya dalam perang Jamal atau perang Siffin. Ali hanya mencap mereka sebagai pemberontak.

Disebutkan dalam hadis Sahih bahwa Nabi SAW berkata kepada Ammar: “engkau akan dibunuh oleh sekelompok orang yang memberontak”. Dalam hadis sahih tentang Khawarij juga disebutkan bahwa mereka “akan diperangi oleh dua kelompok orang yang membela kebenaran” Imam Ali telah membuktikan nubuat Nabi tersebut dengan memerangi kaum khawarij.

Al-Quran juga menegaskan keberimanan dua kubu umat Islam yang saling berperang. Dalam QS. al-Hujurat: 9 disebutkan bahwa Allah SWT berfirman yang kira-kira terjemahannya demikian: “Jika ada dua kubu kaum beriman yang saling berperang”.  Dalam ayat ini, al-Quran tetap memberi label keimanan terhadap dua kubu orang beriman yang saling perang.

Selain itu, al-Quran juga menegaskan persaudaraan seagama antar orang beriman seperti yang dapat dilihat pada QS. al-Hujurat: 1: “Sesungguhnya kaum beriman itu bersaudara, maka lerailah dua saudara kalian yang bertengkar.” Melalui pemahaman terhadap kandungan implisitnya, ayat ini menjelaskan bahwa keberimanan tidak bisa dihancurkan oleh karena saling berselisih atau perang antara kaum beriman. Ini artinya mereka tetap mendaku label mukmin dan masih bersaudara dalam keimanan.

Selain itu, hadis “Barang siapa yang berkata kepada saudaranya: wahai kafir…dst” juga menegaskan aspek persaudaraan antara yang orang beriman yang memanggil ‘kafir’ dan orang beriman yang dipanggil ‘kafir’. Perhatikan redaksi hadis li-akhihi ‘kepada saudaranya’ yang menunjukan bahwa kedua orang tersebut tetap diikat dalam persaudaraan keimanan meski ada ucapan ‘kafir’ yang diucapkan  di antara keduanya.

Jadi panggilan kafir dalam hadis ini tidak selalu dapat diartikan ‘kafir yang telah keluar dari Islam’. Pemaknaan yang sama juga berlaku bagi hadis-hadis lain. Misalnya, hadis Nabi yang mengatakan: “Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir” atau dalam riwayat lain “sungguh ia telah musyrik”. Hadis lain yang memiliki makna yang sama dapat dilihat pada hadis berikut: “Barang siapa yang mendatangi dukun atau peramal lalu ia membenarkan kata-katanya maka sungguh orang tersebut telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan Allah kepada Muhammad SAW” dan hadis-hadis sejenisnya.

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tidak ada seorang pun di kalangan ulama yang berpandangan bahwa orang-orang ‘kafir’ yang masuk ke dalam kategori hadis di atas dinilai telah keluar dari Islam atau menjadi kafir dalam pengertiannya yang non-mukmin. Dari dulu sampai sekarang banyak orang yang bersumpah atas nama selain Allah, mempercayai dukun dan paranormal. Meski perilaku seperti ini ditolak keras oleh para ulama namun mereka tidak langsung menilai pelakunya sebagai telah murtad dari Islam sehingga harus dipisahkan dari istrinya, tidak disolatkan, tidak dikuburkan di pemakaman umat Islam dan lain-lain.

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Rum saat Membuat Kue

Atas dasar itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin setelah menyebutkan beberapa hadis yang menggunakan terma kafir untuk beberapa jenis pelanggaran terhadap hukum Allah mengatakan: “kemaksiatan, apapun jenisnya, masuk ke dalam kategori kufur kecil. Kufur kecil merupakan lawan dari rasa syukur yang dibuktikan dengan mengamalkan ketaatan. Amal apapun bisa dilekatkan bentuk syukur atau bentuk kufur, dan ada pula kategori ketiga yang tidak masuk ke dalam syukur dan kufur.”

Jadi seperti yang ditekan dalam awal tulisan ini, kufur memiliki makna ganda, kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar ialah kekufuran yang memungkinkan adanya oposisi biner yang serba hitam putih, mukmin versus kafir. Hal demikian sebagaimana  yang difirmankan Allah SWT dalam QS. al-Baqarah: 253, QS. al-Baqarah: 257, QS. Ali Imran: 86. Ayat-ayat ini berbicara mengenai kekufuran dalam pengertiannya yang mutlak yang membedakan antara mukmin dan kafir.

Berbeda dengan kufur besar yang merupakan lawan dari keimanan, kufur kecil merupakan lawan dari rasa syukur. Artinya, manusia dalam kaitannya dengan karunia yang Allah berikan kepadanya bisa masuk ke dalam kategori orang yang bersyukur atau orang yang ‘kafir’. Hal demikian misalnya seperti yang dapat dilihat dalam QS. al-Insan: 3 dan QS. An-Naml: 4 dimana Allah SWT mengklasifikasikan posisi manusia yang bersyukur dan yang kafir terhadap nikmatnya. Dengan demikian, kafir di sini masuk ke dalam kategori kufur kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Kufur kecil memungkinkan adanya banyak variasi pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang masuk ke dalam ketagori dosa besar atau dosa kecil.

Dalam Sahih al-Bukhari disebutkan hadis tentang sebab kaum hawa banyak yang masuk neraka, karena “Mereka kafir! Rasul ditanya: wahai Rasulullah apakah mereka kafir terhadap Allah? Nabi menjawab: mereka kafir terhadap keluarganya dan kafir terhadap sikap baik suaminya.” Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari  mengomentari hadis ini dengan mengatakan bahwa: “kafir dalam Islam tidak melulu bermakna menolak yang pasti-pasti dalam agama (al-ma’lum min addin bi-addarurah) namun juga bisa dalam pengertian tidak mensyukuri nikmat Allah…”. Hal demikian seperti yang dipertegas al-Bukhari  dalam penamaan bab kufr duna kufr (kafir dalam pengertian yang bukan kafir sebenarnya) untuk hadis riwayat Abu Said ini:  “….mereka kafir terhadap kebaikan suaminya…dst”.

Al-Bukhari juga membagi pembahasan mengenai kitab al-Iman ke dalam beberapa bab yang kandungan hadisnya sebenarnya diarahkan kepada keyakinan Khawarij yang menghukumi kafir orang-orang Islam yang melakukan dosa-dosa besar. Salah satu bab tersebut ialah bab kufran al-asyir ‘bab kafir terhadap keluarga’ dan bab kufr duna kufr ‘kafir dalam pengertian yang bukan kafir sebenarnya’.

Baca Juga :  Hukum Merayakan Malam Tahun Baru Masehi

Jadi klasifikasi kafir menjadi kafir besar dan kafir kecil  dapat kita temukan justifikasinya dalam berbagai karya ulama terdahulu (baca ulama salaf). Pembagian seperti ini juga bisa berlaku untuk terma-terma keagamaan lainnya seperti musyrik, munafiq, zhalim dan fasiq. Semua terma ini dapat diklasifikasikan menjadi ‘yang besar’ yang menyebabkan pelakunya kekal dalam neraka dan ‘yang kecil’ yang tidak menyebabkan pelakunya kekal dalam neraka dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam.

Sekedar ilustrasi lagi lebih memperjelas persoalan ini, al-Bukhari menamai salah satu bab dalam dalam Sahih-nya sebagai zhulm duna zhulm ‘kezaliman bukan dalam pengertian kezhaliman yang sebenarnya’. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Al-Bukhari berargumen dengan hadis Ibnu Mas’ud ketika QS. al-An’am: 82 turun: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanannya dengan kezhaliman akan mendapatkan ketentraman dan petunjuk dari Allah SWT.” Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri? Rasul menjawab: Bukan itu yang dimaksud ayat tersebut. Kezaliman dalam ayat ini maknanya ialah kemusyrikan. Tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT: sesungguhnya kemusyrikan itu ialah kezaliman yang besar (QS. Lukman: 13)”.

Hadis ini mengindikasikan bahwa para sahabat memahami firman Allah bi-zhulmin sebagai maksiat pada umumnya dan nabi pun tidak mengingkari pemahaman seperti ini. Kendati demikian, Nabi menjelaskan lebih jauh bahwa bentuk kezhaliman yang paling besar ialah kemusyrikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kezhaliman dalam al-Quran dan as-Sunnah itu bermacam-macam dan memiliki tingkatan-tingkatannya. Hal demikian juga berlaku untuk terma-terma lain seperti  kufur, nifaq dan terma-terma keagamaan lainnya.

Mengetahui level-level kekufuran, kemusyrikan, kemunafikan dalam al-Quran dan as-Sunnah akan menghindarkan kita dari cara pandang yang dogmatis, yang serba hitam putih dalam memberikan identitas-identitas keagamaan bagi keyakinan orang lain. Cara pandang yang serba hitam putih ini jelas berbahaya karena akan berimplikasi kepada sikap ekstrim dan serampangan dalam mengkafirkan orang lain, termasuk kepada sesama muslim. Inilah sikap yang seharusnya kita hindari.

Dalam hal ini, seharusnya prinsip yang harus kita pegang erat-erat ialah prinsip untuk tidak menilai, mengukur dan menghitung-hitung kadar keimanan dan keislaman orang lain, baik muslim maupun non muslim. Biarkan urusan kafir-mengkafirkan manusia menjadi hak prerogatif Tuhan yang Maha Mengetahui apa yang terbersit dalam hati manusia dan kita sebagai manusia tidak layak merebut hak Tuhan ini. Allahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. Akan tetapi,jgn juga mengorupsi Ajaran yg justru langsung datang dlm Al qur-an dgn tegas,Dia sendiri yg menamai dan memerintahkan kita tuk menyebut mrka yg tak beriman/ di luar Islam itu dgn panggilan “Yaa Kaafir”,Qul Yaa Ayyuhal KAAFIRUUN.. Hemat kami,tidak perlulah,atas dasar toleransi/apalah namanya kita melunak2kan Titah Al qur-an itu sendiri. Meskipun,kita tetap menganggap mereka selaku saudara se-kemanusiaan,/saudara se-tanah air,bukan..?

  2. Bagus mas, sungguh mendalam pembahasannya. Cuma saja (menurut saya pribadi) kurang ditambahi kalimat
    “Menurut saya / Opini saya / Pendapat saya”
    Atau
    “Dengan bersandar pada … maka saya menarik kesimpulan …”

    Karena perbedaan keilmuan, latar belakang dan pemahaman bisa saja orang lain memiliki pendapat yang berbeda

    Sungguh hanya Allah yang Maha Benar lagi Maha Mengetahui

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here