K.H. Hasyim Muzadi: Ilmu Tidak Gampang Diganti Orang

0
88

BincangSyariah.Com – KH. Hasyim Muzadi terlihat turut hadir pada malam tahlilan hari ke-7 di kediaman almarhum Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, pada selasa malam (03/0/2016). Saat itu beliau mengaku bahwa kabar meninggalnya mantan Imam Besar Masjid Istiqlal itu sangat membuatnya terkejut, karena tak lama sebelumnya beliau masih sempat bertemu dan diskusi dengan Kyai Ali.

“Belakangan saya bertemu beliau saat memberikan ceramah di sebuah mesjid. Saat itu Kyai Ali membisikkan kepada saya ‘Tadzhur madzahib mudhirrah fi ayyi makanin kanat tadhurru ummah’ (sekarang muncul berbagai macam pikiran yang sebenarnya bahaya bahkan membahayakan umat dan itu sudah menyebar di mana-mana). Beliau berbisik seperti itu kepada saya,” kata KH. Hasyim Muzadi saat ceramah di hadapan jamaah tahlil pada malam itu.

“Itu yang lumrah terjadi saat ini memang. Sekarang orang tidak bisa membedakan mana agama yang harus dibela atau tasamuh (saling toleransi). Bagaimana orang bisa tidak tasamuh / mengerti tentang tahlilan? Kelak tasyadud atau tasamuh yang tidak mu’tadil (berimbang) lah yang akan merusak umat ini”, jelas KH. Hasyim Muzadi di hadapan khalayak.

Selain itu banyak juga sekarang orang tidak lagi membedakan mana benar atau salah, tapi untung atau tidak. Padahal, lanjutnya, agama itu sebagai ilmu bukan kepentingan. Sayangnya, sekarang agama itu digunakan sesuai kepentingan oleh ‘mereka’. Agama tidak lagi menjadi bimbingan ekonomi tapi obyek ekenomi. Dalam bidang dakwah, agama tidak menjadi bimbingan akhlak malah terjadi jual beli agama.

“Saya juga tidak tahu kenapa saat itu tiba-tiba beliau serius ngomong dengan saya padahal biasanya suka bercanda,” ungkap mantan Ketua Umum PBNU itu mengenang kejadian beberapa hari sebelum ‘kepulangan’ almarhum.

Mungkin itu salah satu pesan Kyai Ali kepada umat Islam saat ini, agar lebih berhati-hati dalam beragama. Dengan berpulangnya beliau, sungguh saat ini Indonesia kehilangan seorang ulama. “Kyai Ali bukan saja seseorang yang alim, tapi juga bertanggung jawab terhadap ilmunya. Menjadi alim itu umum, mempertanggung jawabkan ilmunya kepada Allah itu yang lebih sulit. Al-‘ilmu syai’un wa mas’uliyatu al-‘Ilmi Syai’un Akhar /  ilmu adalah sesuatu tapi apakah seseorang bertanggungjawab terhadap ilmunya itu sesuatu yang lain lagi,” ucapnya.

Baca Juga :  Mengajar tapi Tidak Mengamalkan Ilmu? Ini pesan Nabi

Menurutnya, kunci dari mas’uliyatu al-ilmi adalah khasyyatullah takut kepada Allah. Jika seorang memiliki ilmu tapi tidak ada rasa takut kepada Allah, ia hanya akan menggunakan nafsunya dalam agama akibatnya akan terjadi banyak kerusakan. Begitu pula ilmu umum yang tidak bertanggung jawab juga akan membuat kerusakan di muka bumi. Ilmu teknik yg disalah gunakan, ekonomi yang jadi pemerasan, semuanya kini telah banyak kita saksikan.

“Karena itulah, ilmu tidaklah gampang diganti orang karena ilmu yang gampang diganti orang adalah ilmu tekstual. Tapi ilmu yang mempengaruhi orang lain pasti dari orang yang punya pengaruh dan ini tidak gampang didapatkan. Pengaruh setiap dari kita memang besar tapi pengaruh yang membawa kita (ke sini) tentu lebih besar pengaruhnya,” tegasnya.

Benar apa yang dikatakan oleh Rasulallah Saw. “Ilmu itu sedikit demi sedikit diambil dengan wafatnya para ulama”. Mudah-mudahan Allah Swt.  memberikan kita ganti orang yang seperti almarhum.Lahu al-fatihah. 

Tulisan ini sudah diterbitkan di kanal alumni.darussunnah.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here