K.H. Abbas Buntet: Komandan Laskar Jihad Santri Melawan Sekutu

1
219

BincangSyariah.Com – K.H. Abbas dikenal sebagai seorang ulama dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus pendiri pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren ini berdiri sejak abad 17. Ia pun dikenal sebagai penggerak pertama NU wilayah Cirebon khususnya di wilayah Jawa Barat. Memang, Pesantren Buntet Cirebon tidak bisa dipisahkan dari organisasi Nahdlatul Ulama. Dibawah kepemimpinan Kyai Abbas dan dibantu oleh K.H. Anas, Cirebon menjadikan pesantren ini sebagai pusat pengembangan NU untuk wilayah Jawa Barat.  Cirebon pernah menjadi tempat diselenggarakan Kongres NU ke-6 dilaksanakan pada 27 Agustus 1931 yang berlangsung di pesantren Buntet, Cirebon Jawa Barat.

Tahun 1928, ia mendirikan Madrasah Abnaul Wathan Ibtidaiyah (Indonesia: Sekolah Dasar) Anak Bangsa untuk pertama kali mengajarkan bidang studi umum. Akan tetapi nama tersebut tidak lama dikodifikasi dengan nama Madrasah Salafiyah Syafi’iyyah karena terdengar patriotik dan terkesan lebih akademis.

Abbas pun mulai menerapkan sistem pendidikan berupa sorogan (membaca teks kitab di hadapan guru untuk ditashih), bandogan (guru menjelaskan isi teks kitab ke murid), halaqah, madrasi (sistem madrasah), dan ngaji pasaran (mengkhatamkan membaca kitab di periode tertentu, biasanya di bulan ramadan). Oleh karenanya, pesantren yang ia dirikan merupakan respon untuk menentang penjajahan di Tatar Sunda. Lantas bagaimana aksi KH.Abbas di pasca pertentangan dengan para penjajah? Seberapa andil ia memperjuangkan kemerdekaan?.

KH.Abbas: Murid Mbah Hasyim, Ikut Mendirikan Pesantren Lirboyo

Menurut Bibit Suprapto dalam bukunya Ensiklopedia Ulama Nusantara, K.H. Abbas memiliki nama lahir Abdullah Abbas. Beliau dilahirkan pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, Pekalangan, Pekalipan, Cirebon. Ayahnya bernama KH. Abdul Jamill bin KH.Muta’ad dan ibunya Nyai Qari’ah. Masa remajanya tercurah untuk menimba ilmu dari beberapa pesantren, termasuk belajar kepada sang ayah, KH.Abdul Jamil. Guru-guru beliau diantaranya adalah KH. Nasuha Sukansari Plered (Cirebon), KH.Jatisari Weru (Cirebon), dan KH. Ubaidah (Tegal). Ia juga pernah belajar langsung di Pesantren Tebuireng Jombang dibawah bimbingan KH. Hasyim Asy’ari.

Baca Juga :  Amalan di Hari Rebo Wekasan

Beliau tidak hanya belajar dengan para kyai di Nusantara saja, tapi juga ikut mendirikan pondok pesantren Lirboyo di Kediri bersama dengan KH.Wahab Hasbullah dan KH.Manaf. Selanjutnya,ia mulai merintis pesantren Buntet bersama keluarganya.Adapun ciri khas yang dimiliki pesantren Buntet sangat menjadi acuan bagi pengembangan ilmu agama Islam khususnya ilmu Tasawuf.

Menurut sebuah riset, Yuli Yulianti mencatat dalam Biografi KH.Abbas Cirebon Buntet, di pesantren ini dua jalur tarikat berkembang, yakni Tijaniyah yang disebarkan oleh KH.Anas Buntet (adik kandung dari KH.Abbas) dan Syatariyah yang diajarkan oleh KH. Abbas. Namun keduanya tidak berjalan masing-masing. Bahkan K.H. Abbas selain menjadi mursyid tarikat Syatariyah ia juga muqodam tarikat Tijaniyah. Hal ini menunjukan betapa luasnya pengetahuan dan corak pemikirannya yang moderat dan kritis.

Berjihad di Perang 10 November 1945 Melawan Sekutu

Pada 25 Oktober 1945, ketika pasukan sekutu mendarat di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Brigadir A.W.S.Mallaby, para ulama berkumpul dan merumuskan untuk bersikap keras kepada sekutu dan menyatakan saat itu Jihad Fi Sabilillah (perang dijalan Allah). Saat itu, K.H. Abbas menjadi komandan Sabilillah dan Hizbullah yang keduanya adalah sayap Islam dari Korps Pembela Kemerdekaan Indonesia. Menurut Budi Sujati dalam bukunya Perkembangan Nahdlatul Ulama Ulama di Jawa Barat 1931-1967, sejumlah nama ulama berada dibawah komando Kyai Abbas ikut berangkat ke Surabaya setelah dipanggil K.H. Hasyim Asy’ari, semisal Kyai Anas, Kyai Mujahid, Kyai Ahmad Zahid, Kyai Imam, Kyai Zen, Kyai Muhtadi Abas, Kyai Mustamid Abas, Kyai Hawi, dan Kyai Busyral Karim. Mereka ikut turut serta membantu perjuangan KH.Abbas saat memimpin pasukan yang terdiri atas kyai dan santri pada pertempuran patriotis melawan Belanda dan sekutu di Surabaya pada 10 November 1945.

Baca Juga :  Syaikh Muhammad Siraj Garut: Pakar Qiraat Asal Garut yang Mengajar di Mekkah

10 November 1945, selain diperingati sebagai hari Pahlawan Nasional, peristiwa historis ini melibatkan kyai dan santri dari berbagai wilayah di Indonesia disana. K.H. Abbas sudah mulai memobilisasi massa bahkan pada santrinya, Kyai Shaleh. Ia tampil sebagai komando dalam barisan perjuangan rakyat Indonesia di Surabaya. Menurut Hasanul Rizqa dalam tulisannya yang berjudul Biografi KH.Abbas Buntet: Ulama Besar dari Cirebon, peristiwa historis ini terjadi merupakan efek dari sebuah resolusi jihad yang telah digagas oleh para Ulama dalam pertemuan Musyawarah NU, Surabaya,21-22 Oktober 1945. KH.Abbas pun ikut serta dalam Munas tersebut.

Berkiprah Sepanjang Hidup

Menurut Hasanul Rizqa yang mengutip penjelasan Munawir Aziz mengutarakan bahwa K.H. Abbas memiliki peran penting dalam dunia politik. Awal langkahnya ia sukses menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan ia mewakili konstituen Jawa Barat saat itu. Kemudian, ia pun turut aktif sebagai Rais ‘Am Dewan Syuriah NU provinsi Jawa Barat. Menelisik penjelasan sebelumnya, tentu ini sebagai bukti nyata bahwa sang kyai di Tatar Sunda (Jawa Barat) mampu memerankan politik dalam memperjuangkan kemerdekaan dan tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

Begitupula dengan konsistensi K.H. Abbas yang aktif membangun Nahdlatul Ulama di Jawa Barat sebagai jalan dakwahnya. K.H. Abbas wafat pada tahun 1946. Jasadnya dikebumikan di komplek pemakaman keluarga Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Sepanjang hiduonya, ia memiliki dua orang istri yaitu Nyai Asiah dan Nyai Zaenah. Pun dikaruniai empat anak diantaranya K.H. Mustahdi, K.H.Mustamid, K.H. Abdullah (K.H. Ayip Abbas), dan K.H. Nahduddin Royandi.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here