Hukum Jual Beli Uang Logam yang Masih Laku di Pasaran

2
968

BincangSyariah.Com – Imam al-Ghazali di dalam kitab ihya ulumuddin, Juz 4, menyampaikan bahwa uang merupakan ibarat cermin dari harga-harga barang di pasaran. Dengannya, bisa terpantul gambaran kondisi suatu daerah/negara penggunanya. Semua ini merupakan gambaran sekilas dari fungsi uang.

Uang berfungsi sebagai media perantara alat tukar. Uang juga digambarkan sebagai alat penyimpan kekayaan. Untuk itu, memperdagangkan uang, sehingga uang banyak lari ke luar negeri, merupakan sebuah perbuatan yang dhalim. Mengapa? Karena, akibat perdagangan uang itu, distribusi uang di negara penerbitnya menjadi berkurang. Akibatnya, terjadi krisis. Harga barang-barang menjadi murah disebabkan peredaran uang yang bersifat terbatas.

Jika ditilik dari sejarah, terminologi uang itu sejatinya berangkat dari konsep al-naqdu. Konsep ini tidak pernah disebutkan dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Asal penyebutan makna al-naqdu adalah untuk menunjukkan makna harga yang memiliki pengertian “kontan” atau “harga standart timbangan” (al-atsman al-mauzun) dengan berat tertentu dari emas atau perak.” Standart berat tertentu dari emas ini kemudian dikenal dengan istilah dinar, sementara standart berat dari perak dikenal sebagai dirham.

Di dalam al-Qur’an ada dua istilah yang merupakan nama lain dari dinar dan dirham, yaitu al-waraq dan al-ain. Al-waraq dipergunakan untuk standart harga yang terbuat dari bahan perak. Sementara al-ain, dipergunakan untuk standart harga yang tersebut dari emas. Tiga diksi dirham dan dinar dan al-waraq inilah yang tertuang di dalam al-Qur’an dan populer di dalam kitab-kitab fiqih.

Karena, emas dan perak berfungsi menyatakan harga  yang besar, maka dipergunakanlah al-fulus. Al-fulus ini seringkali hanya diartikan sebagai:

الفلوس فكانت عملة مساعدة تستخدم لشراء السلع الرخيصة

“Fulus itu merupakan sarana pembayaran yang dipergunaan untuk membeli suatu barang dengan harga yang murah.”

Bahan pembuat fulus disebutkan sebagai al-nuhas (tembaga). Seorang Ekonom muslim, Muhammad Farid Wajdi menyebutkan:

الفلوس جمع فلس, قطعة مضروبة من النحاس

Fulus merupakan jamak dari lafadh falas, yaitu sebuah keping yang dicetak dari bahan tembaga.” (Dairatu Ma’arif al-Qarn al-‘Isyrin, Juz 7, halaman 403).

Baca Juga :  Memaknai Pertambahan Usia

Jika ditilik dari konsep bahannya, maka antara ketiga jenis mata uang di atas, terdapat perbedaan status ribawinya. Dinar dan dirham, karena terbuat dari bahan emas dan perak, maka keduanya jelas menunjukkan barang ribawi. Karena memenuhi unsur barang ribawi, maka segala ketentuan yang berlaku atasnya, adalah mengikuti ketentuan barang ribawi, yaitu: 1) harus kontan, saling serah terima dan sama takarannya, atau 2) harus kontan, dan saling serah terima saja. Ketentuan pertama berlaku untuk pertukaran dinar dengan dinar, atau dirham dengan dirham. Sementara ketentuan kedua, berlaku untuk pertukaran dinar dengan dirham, atau sebaliknya dirham dengan dinar.

Bagaimana jika pertukaran itu berlaku atas barang ribawi dengan bukan barang ribawi?

Para ulama sepakat bahwa pertukaran barang ribawi dengan barang non ribawi, hukumnya adalah mubah dengan ketentuan barangnya harus ma’lum, dan wajib saling serah terima saja. Misalnya, dinar ditukar dengan al-nuhas, maka berlaku ketentuan wajib saling serah terima, dan tidak ada ketentuan saling kontan. Dinar (mata uang emas) ditukar dengan al-nuhas (mata uang dengan bahan tembaga), maka hukum asal muamalahnya adalah boleh, disebabkan karena al-nuhas bukan termasuk barang ribawi.

Masalahnya, adalah apakah kebolehan pertukaran itu berlaku atas mata uang yang masih berlaku atau yang sudah tidak berlaku lagi? Seperti kabar yang saat ini sedang berkembang, yaitu beredar kabar bahwa mata uang logam 1000 rupiah yang bergambar kelapa sawit bisa ditukar dengan ratusan juta rupiah, atau puluhan ribu rupiah, atau ada yang hanya sekedar beberapa ribu saja. Berdasarkan penelusuran penulis, dengan sumber kabar dari beberapa kantor berita berbasis online, memang disebutkan bahwa kabar yang pertama itu adalah hoax, sehingga tidak benar. Yang benar adalah kabar terakhir, yaitu mata uang logam 1000 rupiah bergambar sawit, ditukar dengan 3000 rupiah, dan ditawarkan di sejumlah marketplace. Jika menilik bahwa mata uang 1000 rupiah bergambar sawit ini masih berlaku, maka pertanyaannya adalah, bagaimana hukum pertukaran itu?

Ada beberapa jawaban terkait hal ini, yaitu: Pertama, memandangnya dari sisi bahan yang dipergunakan untuk mencetak mata uang logam 1000 rupiah sebagai bukan bahan ribawi. Untuk auraq (mata uang kertas), para ulama’ kebanyakan sepakat menjadikan auraq itu sebagai barang ribawi, disebabkan karena nilainya yang berjamin emas dan merupakan mata uang utama. Imam Nawawi dalam Kitabnya Raudlatu al-Thalibin menyatakan:

Baca Juga :  Membongkar "Mitos Pluralisme di NU": Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [3-Habis]

إن كان في البلد نقد واحد أو نقود يغلب التعامل بواحد منها انصرف العقد إلى المعهود وإن كان فلوسا إلا أن يعين غيره

“Bilamana dalam suatu negeri berlaku adanya satu jenis nuqud saja, atau nuqud yang umum dipergunakan sebagai transaksi pembayaran, (misalnya terdiri dari) salah satu dari dinar atau dirham, maka akad dialihkan kepada media yang dikuatkan dalam negeri itu, meskipun itu berupa fulus, kecuali jika ada ketentuan pembayaran dalam bentuk lain.” (Raudlatu al-Thalibin, Juz 3, halaman 31).

Di dalam pernyataan di atas, Imam Nawawi menempatkan maqamnya mata uang utama suatu negeri sebagai sama kedudukannya dengan dinar atau dirham (qiyas musawy). Sementara fulus (mata uang logam), karena bukan merupakan uang yang utama, maka kedudukannya menempati komuditas (‘urudl). Dengan demikian, pertukaran antara fulus dengan auraq adalah boleh, meskipun berbeda nilai.

Kedua, memandangnya dari sisi nilai jasa mengumpulkan (ijarah). Bagaimanapun juga harus diakui bahwa mata uang 1000 rupiah bergambar sawit merupakan mata uang yang masih berlaku, namun sudah langka peredarannya. Mengumpulkan mata uang tersebut  membutuhkan jerih payah, dan usaha berbasis lamanya waktu. Alhasil, lamanya jasa mengumpulkan ini merupakan yang layak mendapatkan fee (upah). Dengan demikian, menukarkan jasa mengumpulkan uang logam 1000 rupiah dengan uang kertas, hukumnya boleh sebab akad jasa pengumpulannya, dan bukan fisik uangnya.

Ketiga, memandangnya dari sisi masih berlakunya mata uang logam 1000 rupiah tersebut. Imam Nawawi menyatakan:

وتقويم المتلف يكون بغالب نقد البلد. فإن كان فيه نقدان فصاعدا، ولا غالب، عين القاضي واحدا للتقويم. ولو غلب من جنس العروض نوع، فهل ينصرف الذكر إليه عند الاطلاق؟ وجهان. أصحهما: ينصرف كالنقد – إلى أن قال – وكما ينصرف العقد إلى النقد الغالب، ينصرف في الصفات إليه أيضا

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Pohon di Area Kuburan untuk Bangun Masjid, Apakah Boleh?

“Penetapan nilai kadar harga barang yang dirusakkan oleh seseorang adalah dengan berdasar pada nuqudnya negeri itu. Jika di negeri itu berlaku dua jenis nuqud atau lebih, sementara tidak ada satupun darinya yang diutamakan, maka boleh bagi hakim menetapkan nilai harga barang itu berdasar salah satu nuqud yang dipergunakan. Bagaimana bila suatu ketika ada jenis ‘urudl (komoditas) yang berlaku umum sebagai alat tukar di negeri tersebut? Apakah boleh dialihkan dengan menyebut nilai urudl (komuditas) itu sebagai ganti ketika memutuskan perkara? Dalam hal ini ada dua pendapat jawaban. Yang paling shahih adalah dialihkan ke ‘urudh (komuditas) dan berlaku layaknya nuqud. Sampai kemudian beliau menyampaikan: “Maka sebagaimana suatu akad ditetapkan berdasar nuqud yang berlaku di suatu negeri, maka segala sifat yang berkaitan dengan nuqud ghalib (mata uang yang berlaku) juga diserupakan dengan nuqud (emas dan perak).” (Raudlatu al-Thalibin, Juz 3, halaman 32 dan Majmu’ Syarah al-Muhaddzab, Juz IX, halaman 329).

Berdasarkan pernyataan ini, pendapat yang paling shahih adalah “uang yang masih berlaku dihukumi sama kedudukannya dengan nuqud yang terdiri atas mata uang emas dan perak.” Alhasil, ia merupakan barang ribawi. Sebagai barang ribawi, maka pertukarannya mengikuti kaidah pertukaran barang ribawi sejenis, sehingga wajib sama takarannya, saling serah terima, dan kontan. Kelebihan niai pada salah satunya, dapat menyeret seseorang jatuh pada riba a-fadl. Wallahu a’lam bi al-shawab

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Ketika kita hendak belanja sesuatu, seperti baju, sembako, hp, baju, dan lainnya, baik beli di pasar atau toko online, sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk membaca basmalah terlebih dahulu. Setelah itu, kemudian kita membaca doa agar barang yang hendak kita beli membawa kebaikan dan keberkahan. (Baca: Hukum Jual Beli Uang Logam yang Masih Laku di Pasaran) […]

  2. […] Ketika kita hendak belanja sesuatu, seperti baju, sembako, hp, baju, dan lainnya, baik beli di pasar atau toko online, sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk membaca basmalah terlebih dahulu. Setelah itu, kemudian kita membaca doa agar barang yang hendak kita beli membawa kebaikan dan keberkahan. (Baca: Hukum Jual Beli Uang Logam yang Masih Laku di Pasaran) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here