Hukum Jual Beli Indeks Emas di Pasar Berjangka dalam Islam

0
30

BincangSyariah.Com – Emas merupakan produk barang ribawi, bersama-sama dengan perak dan bahan makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Sebagai komoditas barang ribawi, maka jual-beli emas dan perak sejenis, disyaratkan wajibnya hulul, tamatsul dan taqabudl. (Baca: Investasi Emas dalam Perspektif Hukum Islam)

Hulul bermakna sebagai jatuh tempo (hulul al-ajl). Tamatsul bermakna sebagai sama takaran, timbangan dan ukuran. Taqabudl bermakna sebagai bisanya saling diserahterimakan, yang ditengarai oleh berpindahnya kepemilikan.

Adapun jual beli barang ribawi tidak sejenis, berlaku adanya 2 syarat ketentuan yang digariskan oleh ulama, yaitu wajibnya hulul dan taqabudl saja.

Tipe-tipe Jual Beli dalam Islam

Adapun bila dilihat dari tipe jual beli, maka jual beli itu ada 3, yaitu: (a) jual beli barang fisik yang disaksikan (bai’ ainin musyahadah), (b) jual beli “barang” yang bisa ditunjukkan karakteristiknya (bai’ syai-in maushuf fi al-dzimmah), dan (c) jual beli barang yang ghaib (bai’ ainin ghaibah).

Untuk kategori jual beli barang ghaib, para  ulama’ masih memilahnya menjadi 2, yaitu: 1) jual beli barang yang bisa diadakan, namun saat terjadi transaksi barangnya belum ada, dan 2) jual beli barang yang tidak ada dan tidak bisa diadakan (bai’ ma’dum).

Di dalam fikih, jual beli barang dengan kategori yang tidak bisa diadakan (ma’dum) inilah yang dinyatakan secara tegas oleh para ulama’ sebagai yang haram / tidak diperbolehkan, sebab merupakan yang fiktif.

Jual Beli Indeks Emas dalam Pasar berjangka

Pasar berjangka merupakan pasar yang memiliki  ciri adanya sekat ruang dan waktu yang memisahkan antara penjual dan pembeli. Pasar berjangka, disebut juga dengan istilah pasar turunan/pasar tidak langsung. Obyek yang diperdagangkan dalam pasar berjangka adalah indeks.

Baca Juga :  Investasi Reksadana dalam Tinjauan Hukum Islam

Indeks merupakan sebuah simbol umum yang dipergunakan dalam pasar berjangka yang berisi penjelasan mengenai sebuah keberadaan entitas produk. Jika produk itu berupa emas, maka disimbulkan dengan LQ. Karakteristik lain mengenai  ukuran selanjutnya digambarkan dalam bentuk simbol atau angka tertentu yang mengilustrasikan ukuran dan kadar dari produk emas yang diperdagangkan.

Jadi, indeks itu merupakan simbol produk yang memiliki nilai underlying asset (berjamin aset). Indeks bukan merupakan barang fiktif (ma’dum).

Alhasil, kedudukan indeks, adalah sama dengan kedudukan uang kertas yang berjamin emas. Perbedaannya, jika mata uang kertas, ada barang fisiknya, berupa kertas. Angka yang dicantumkan pada mata uang itu menyatakan aset kepemilikan emas dengan jumlah tertentu pula, dan emas tersebut disimpan oleh Bank Sentral selaku penerbit mata uang.

Adapun indeks, wujud fisik tersebut dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan angka. Wujud fisik dari indeks adalah terdiri dari harta manfaat.

Alhasil, beda antara uang kertas dan indeks, adalah keberadaan fisik kertas dan harta manfaat tersebut. Keduanya disatukan  oleh keberadaan jaminan asset berupa emas.

Karena keduanya sama-sama berjamin aset, maka dalam fikih, keduanya juga disamakan dalam perannya yaitu ma yaqumu maqama al-dzahab (sesuatu yang menempati derajatnya emas).

Jual Beli Uang dan Indeks berjamin Emas

Menjualbelikan uang, adalah sama dengan menjualbelikan harta kepemilikan berupa emas, namun emas tersebut sifatnya yang tertanggung (fi al-dzimmah). Segala sesuatu yang sifatnya fi al-dzimmah (dalam tanggungan), bila dijualbelikan adalah sama dengan jual beli utang dengan utang (bai’ dain bi al-dain).

Ketika jual beli utang dengan utang ini terjadi, maka penguasaan terhadap hak milik, adalah meniscayakan pada perpindahan penagihan. Akad perpindahan hak penagihan atas suatu utang dari satu orang ke orang yang lain, dikenal dengan istilah akad hiwalah dan hal ini diperbolehkan dalam syariat karena alasan dlarurat li masisi al-hajat (darurat karena kebutuhan).

Baca Juga :  Drone Emprit: Film Jejak Khilafah di Nusantara Viral Karena Akun Bot

Catatan yang diberikan oleh syariat guna membatasi kebolehan akad hiwalah tersebut, adalah wajibnya kesamaan besaran tanggungan dan tagihan.

Lantas bagaimana dengan jual beli indeks?

Karena indeks merupakan harta manfaat berjamin emas, maka menjualbelikan entitas (produk manfaat) berupa indeks tersebut, secara tidak langsung menempati derajat jual beli utang penagihan berupa aset manfaat berjamin emas.

Dalam ranah kajian fikih Madzhab Syafii, setiap bisnis yang melibatkan aset manfaat, meniscayakan akadnya adalah akad ijarah. Lain halnya, bila bisnis itu langsung dengan adanya barang fisik, seperti kertas. Maka bisnis model terakhir ini masuk dalam rumpun akad jual beli (bai’), sebab adanya barang fisik (kertas).

Ijarah yang memiliki obyek berupa kaarakteristik tertentu yang bisa dipastikan, adalah termasuk akad ijarah syaiin maushuf fi al-dzimmah, sebagaimana dalam jual beli, bahwa jual beli obyek dengan karakteristik tertentu dan bisa dipastikan adalah masuk rumpun bai syaiin maushuf fi al-dzimmah.

Ijarah indeks maushuf fi al-dzimmah

Mungkin selanjutnya pembaca akan bertanya, apakah konsep ijarah syaiin maushuf fi al-dzimmah merupakan  yang sejalan dengan teks fikih? Pertanyaan ini merupakan  sebuah kewajaran, sebab di dalam banyak teks turats, kita tidak mendapati akan konsep ijarah ini yang ditegaskan secara manthuq (tekstual). Namun, setidaknya ada ruang yang bisa dipergunakan sebagai dasar cantolan hukum.

Sebagai dasar utama cantolan hukum, kita perlu mengingat kembali kaidah, bahwa:

كل ما جازت إجارته جاز بيعه

“Segala sesuatu yang bisa disewakan, maka bisa juga diperjualbelikan.”

Kaidah ini seolah meniscayakan pemahaman, bahwa segala sesuatu yang bisa diperjualbelikan, maka sah disewakan. Alhasil, jual beli dan ijarah hakikatnya adalah sama. Karena sama, maka meniscayakan rumpun ijarah adalah sama dengan rumpun jual beli.

Baca Juga :  Hukum Jual Beli Emas Online di Marketplace

Jika di dalam jual beli berlaku adanya kebolehan bai maushuf fi al-dzimmah, maka demikian halnya dengan ijarah, maka berlaku pula ijarah maushuf fi al-dzimmah.

Kesimpulan ini, secara tidak langsung pula menegaskan bahwa jual beli indeks (harta manfaat) di pasar turunan, hukumnya adalah boleh. Adapun batasannya,  adalah bila indeks itu menyatakan sebagai penguasaan atas barang ribawi, maka berlaku pula kaidah pertukaran  indeks barang ribawi.

Jika pertukaran itu melibatkan indeks emas denga indeks emas, maka berlaku wajibnya syarat tamatsul, taqabudl dan hulul. Adapun bila pertukaran itu melibatkan indeks emas dengan indeks yang lain, atau indeks emas dengan mata uang, maka syarat yang wajib berlaku adalah wajibnya taqabudl dan hulul semata.

Alhasil, syarat yang harus dipenuhi adalah bisanya terjadi pindah kepemilikan (taqabudl) dan kurs yang terjadi adalah kurs terkini (kurs tunai), dan bukan kurs yang datang di kemudian hari. Walahu a’lam bi al-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here