Jokowi-Prabowo Bertemu, Mari Mendalami Lagi Ajaran Islam tentang Silaturahmi

0
149

Meski terlihat nonformal, pertemuan tetap memiliki makna yang mendalam” – Prabowo Subianto

BincangSyariah.Com – Kemarin dan sampai hari ini, media tengah semarak mengunggah dokumentasi pertemuan yang terlihat hangat antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Sabtu (13/7), Presiden terpilih Joko Widodo melakukan pertemuan dengan rivalnya saat pilpres 2019, Prabowo Subianto setelah sekiap lama bersaing di kontestasi pemilu kemarin.

Pertemuan ini dilaksanakan di stasiun MRT Lebak Bulus, naik MRT dan dilanjutkan dengan makan bersama di salah satu restoran di Senayan. Ungkapan menarik yang di sampaikan bapak Jokowi dalam pidato singkatnya “pertemuan saya dengan Bapak Prabowo Subianto pada pagi hari ini adalah pertemuan seorang sahabat, pertemuan seorang kawan, pertemuan seorang saudara” tuturnya.

Persaingan tentu dan pasti ada diantara makhluk sosial, namun itu tidak perlu menjadikan silaturahmi dan persahabatan jadi hilang lalu tak pernah jumpa kembali. Kita dapat belajar dari perjumpaan keduanya saat pertemuan sabtu kemarin. Dan yang penting kita resapi bersama menjaga persaudaraan dan silaturahmi diajarkan oleh Islam. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda,

عن أنس ابن مالك رضي اللّه عنه قال: أنّ رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم قال : ((من أحبّ أن يبسط له في رزقه وينسأ له في أثره فليصل رحمه)) متّفق عليه.

Dari Anas Ibn Malik Radliyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “barang siapa yang ingin di lapangkan rezekinya dan di panjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan hadis diatas memerintahkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap sekitar dengan bersilaturahmi. Silaturahmi merupakan sarana untuk memperoleh ridha dan pahala dari sisi Allah, sekaligus menjadi media untuk mendapatkan kelapangan rezeki di dunia. Hadis tersebut menasihati kita bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya oleh Allah dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia mempererat silaturahmi. Silaturahmi dengan saudaranya dengan cara berbuat baik, menyayangi dan tidak memutuskan tali persaudaraan dengan sesama.

Baca Juga :  Dua Golongan yang Tidak Dilihat Allah pada Hari Kiamat

Quraish Shihab memandang silaturahmi dari segi bahasa. Silaturahmi merupakan kata majemuk yang diambil dari bahasa arab terdiri dari kata shilat dan al-Rahim. Kata Shilat memiliki makna yang sama dengan kata washl yang berarti menyambung atau menghimpun. Hal ini menunjukan bahwa hanya kata putus atau terserak yang dituju oleh kata shalat itu.

Adapun kata al-Rahim, merupakan salah satu sifat Allah yang memilki arti sayang atau kasih. Kemudian kata ini berkembang digunakan untuk menyebut peranakan (kandungan). Disini kita bisa mengetahui bahwa anak yang di kandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Dengan demikian, makna silaturahmi dapat kita simpulkan bahwa ia tiada lain untuk menghadirkan rasa rahmat dan kasih sayang. Ini terbukti, karena memang kata shilah juga diartikan dengan pemberian atau hadiah. Orang yang diberi hadiah ataupun ia memberi hadiah, ada kesenangan tersendiri dalam hatinya menjadi orang yang paling beruntung dan berharga.

Pun demikian yang dirasakan oleh kedua tokoh besar Indonesia, keduanya tentu merasakan kedamaian dan menciptakan persaudaraan yang baik. Patutnya, kita bisa menjaga persaudaraan sesama melalui silaturahmi. Karena ia dapat menghangatkan qalbu dan mencurahkan rasa rindu.

Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here