Jiwa Perlu Dilatih Kalau yang Ada di Dunia Ini Selalu Ada Kekurangan

0
1272

BincangSyariah.Com – Masih menurut al-Balkhi dalam Mashalih al-Abdan wa al-Anfus, salah satu cara menjaga “kesehatan mental”, pada artikel sebelumnya disebutkan dengan menjaga diri dari pengaruh buruk, baik dari sisi eksternal maupun internal. Lebih lanjut, menurut al-Balkhi, itu tidak bisa tercapai kalau diri seseorang tidak mempersiapkan dua hal setidaknya. Berikut ini dua hal tersebut,

Pertama, jiwa seseorang harus dilatih tengan menjadi bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang pasti sama persis dengan yang kita inginkan atau harapkan. Keadaannya justru sebaliknya, apa yang ada di dunia ini selalu kekurangan.

Lebih lanjut, kalau jiwa seseorang sudah dilatih untuk menerima  bahwa tidak ada yang sempurna, maka dia akan terlatih untuk tidak selalu mencari sesuatu yang benar-benar sama persis dengan keinginannya. Ia juga terlatih untuk melupakan sesuatu yang selalu tidak sesuatu dengan yang tidak sesuai dengan keinginannya.  Jika hal tersebut tidak dilatih, maka jiwanya akan mudah mempermasalahkan hal-hal yang sangat kecil, apalagi jika perkaranya makin besar dan tidak diperkirakan sebelumnya.

Perkara kedua, yang menurut al-Balkhi juga penting adalah mengenal diri sendiri. Yang dimaksud mengenal diri sendiri adalah mengetahui kapasitas atau kekuatan mental ketika menerima pengaruh dari luar. Ada yang mentalnya kuat, menerima « serangan » baik informasi, tekanan, namun itu tidak mempengaruhi kepribadiannya dan tetap bisa menghadapi semuanya dengan ringan. Tapi ada juga yang memang mentalnya juga lemah, sehingga mudah stres untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diyakininya.

Lanjut al-Balkhi, standar kesehatan mental diatas berlaku untuk semua orang, dari pemimpin sampai masyarakat biasa. Hemat penulis, penjelasan al-Balkhi diatas masih sangat relevan dalam konteks sekarang. Al-Balkhi menjelaskan, jika kita secara mental tidak siap menghadapi aneka ragam resiko, maka lebih baik kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan tapi kondisi mental tetap tenang. Dibandingkan, kita mendapatkan sesuatu yang lebih besar, atau sebenarnya bisa memenuhi keinginan kita, tapi resikonya besar dan jika kita salah langkah kita menjadi merugi dan akhirnya merasa galau, takut, atau marah.

Baca Juga :  KOMUJI Hadirkan Remaja yang Pernah Terpesona Propaganda ISIS, Ini Kata Tokoh Muda NU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here