Jika Tuhan Tidak Butuh Disembah, Mengapa Ada Azab bagi Mereka yang Kafir?

0
293

BincangSyariah.Com – Ketika berhadapan dengan kata “kafir”, kita mesti berhati-hati. Penafsiran kata “kafir” adalah isu yang sangat sensitif. Kafir atau kufur sangat sering dijadikan sebagai senjata untuk dibenturkan atau digunakan dalam banyak kepentingan. Padahal, kita tidak bisa sembarangan mengklaim orang lain dengan predikat kafir.

Kafir kerap dianggap sebagai orang yang beragama selain Islam. Banyak orang menganggap bahwa orang yang dicap kafir tersebut adalah sesat, pasti masuk neraka, halal darahnya, tidak bisa dijadikan sebagai pemimpin, dan lain sebagainya. Pemahaman kafir yang cenderung tertutup akan mengantarkan pada pemahaman yang intoleran dan jatuh pada klaim kebenaran semu.

Arti kafir dari segi bahasa adalah menutupi. Kata kafir terulang sebanyak 525 kali dalam Al-Qur’an tapi tidak seluruhnya merujuk kepada arti kafir secara istilah (terminologi), namun semuanya bisa menjadi rujukan memaknai kata kafir secara bahasa.

Dalam buku Konsep Kufr dalam Al-Qur’an (1991) karya Harifuddin Cawidu disebutkan bahwa banyak kata kafir yang tidak mempunyai keterkaitan makna secara istilah, tapi berhubungan erat dengan arti kafir secara bahasa.

Pertama, kaffara-yukaffiru yang memiliki arti menghapuskan atau menghilangkan. Kedua, kaffarat yang berarti penebus dosa atau kesalahan tertentu. Ketiga, kafur yang pada dasarnya berarti kelopak yang menutupi buah, tapi dalam Al-Qur’an term ini muncul satu kali dalam QS. Al-Insan ayat 5 dan diartikan sebagai nama mata air di surga yang airnya putih, baunya sedap, dan enak rasanya. Keempat, kuffar (plural dari kafir) yang terdapat dalam QS. Al-Hadid ayat 20 yang secara kontekstual berarti petani-petani.

Secara khusus, Q.S. ar-Ra’d: ayat 30 menegaskan bahwa orang-orang yang ingkar akan nikmat dari Allah Swt. maka sama artinya dengan ingkar terhadap sumber nikmat itu sendiri, yakni Ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Memberi Rahmat.

Harifuddin Cawidu juga menjelaskan bahwa kekafiran manusia terhadap nikmat Allah Swt. sama sekali tidak mengurangi kekayaan-Nya. Sebaliknya, justru kesyukuran manusia terhadap nikmat-nikmat Allah Swt. tidak akan berefek apa pun kepada-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan syukur atau kafir yang dilakukan oleh manusia adalah dari diri sendiri dan hanya untuk mereka sendiri. Hal ini sama dengan konsep manusia yang butuh menyembah Allah Swt., bukan Allah Swt. yang butuh disembah.

Setiap manusia tidak bisa dipaksa untuk beriman sebagaimana pula ia tidak bisa dipaksa untuk menjadi kafir. Sementara itu, perintah untuk beriman yang berulang kali disebutkan dalam Al- Qur’an bisa dilihat sebagai pertanda akan kerahmatan Tuhan. Kerahmatan tersebut mewujud menjadi ajakan kepada hamba-hamba-Nya untuk menempuh jalan yang diridhai-Nya agar mereka memperoleh kebahagiaan.

Tempat Orang-Orang Kafir

Lantas, apabila Tuhan tidak butuh disembah, mengapa ada azab bagi orang yang kafir? Dalam ajaran Islam, pertanggungjawaban atas setiap perbuatan baik secara kelompok atau individu sangat ditekankan. Segala perbuatan di dunia akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt. di akhirat kelak.

Dalam Bulughul Maram, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa orang-orang kafir yang telah berbuat lalai akan menerima ganjaran-ganjaran buruk dari apa yang telah diperbuatnya, akibat-akibat buruk mereka. Menurut penjelasan dalam Al-Qur’an, ganjaran bagi mereka adalah berupa siksa yang lebih pedih, berlapis-lapis atau bertahap, yaitu siksa di dunia, di alam kubur dan siksa di akhirat.

Pertama, adzab di dunia.

Azab bagi orang-orang kafir saat masih hidup di dunia bisa diejawentahkan dalam banyak bentuk. Tapi, siksa paling menonjol adalah kemelaratan rohani, ketidaktentraman jiwa serta ketidaktenangan batin. Bisa juga dalam bentuk orang-orang yang terjerumus dalam kesenangan dunia yang semu dan mengalami kemlaratan secara materi.

Kedua, azab di alam barzakh.

Pada periode Alam Barzakh, atau alam pemisah antara kehidupan dunia dan akhirat. Keberadaan di sana memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan di sana digambarkan bagaikan keberadaan dalam ruangan terpisah yang terbuat dari kaca.

Dalam ruangan tersebut, jika melihat ke depan, maka penghuninya bisa melihat apa yang akan terjadi dihari kemudian. Sementara itu, jika ke belakang, mereka bisa melihat kita yang masih hidup di alam dunia.

Bagi orang-orang kafir, keadaan tersebut adalah siksaan tersendiri. Sebab, mereka adalah orang-orang yang penuh dengan ketakutan karena mengetahui potret kehidupan orang-orang kafir saat di hari kemudian dan merasakan penyesalan yang begitu dalam sebab bisa melihat kehidupan manusia-manusia yang berada di dunia.

Ketiga, azab di alam akhirat.

Di sinilah Allah Swt. akan membalas dan mengganjar dengan seadil-adilnya perbuatan. Hari akhirat bisa disebut juga sebagai hari pembalasan bagi setiap individu. Tidak ada yang bisa mengelak, tidak ada juga yang bisa menyembunyikan sesuatu di hadapan pengadilan yang Maha Agung di mana semua catatan amal perbuatan di dunia diperlihatkan.

Siksa neraka digambarkan begitu dahsyat dan mengerikan. Api menyala-nyala akan membakar manusia sampai menembus jantung dan ubun-ubun kepala. Api membakar semua yang masuk kedalamnya, termasuk ruh manusia dan dijadikan hancur binasa, lalu menghidupkan, lalu membakarnya kembali. Hal ini berlangsung terus menerus, tanpa akhir.

Siksa neraka yang amat berat digambarkan Allah Swt. bahwa manusia di dalamnya sebagai entitas yang tidak hidup dan tidak mati. Dalam hadis Nabi Muhammad Saw. juga dijumpai bahwa azab yang paling ringan di neraka adalah bisa mendidihkan atau mengeluarkan cairan-cairan yang ada di kepala melalui lubang-lubang kepala.

Meskipun Allah Swt. tidak butuh disembah melainkan manusialah yang butuh menyembah-Nya, azab bagi orang kafir tetap ada. Sebab, kafir sebagai perbuatan jahat, bahkan bisa diartikan sebagai induk dari segala perbuatan kejahatan, pasti akan menimbulkan akibat-akibat buruk dan pengaruh negatif.

Akibat yang paling buruk dari perbuatan negatif di dunia tidak saja akan menimpa diri sendiri, tapi juga bisa berdampak negatif terhadap orang lain dan bahkan terhadap lingkungan sekitar dan alam.

Dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi, ada banyak pembahasan yang menyinggung balasan-balasan bagi orang-orang yang berbuat saleh juga berbuat kafir. Hal ini bertujuan agar manusia bertanggungjawab di hidupnya dan menimbulkan efek untuk berlomba meraih kebaikan dan menjauhi kerusakan kemunkaran serta azab dan rahmat dari Allah Swt. yang telah dijanjikan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here