Jika Terjadi Pertengkaran dalam Rumah Tangga, Lakukan Hal Ini

0
3629

BincangSyariah.Com – Menurut ajaran Islam, pertengkaran yang terjadi dalam rumah tangga disebut syiqaq. Syiqaq berasal dari bahasa arab, syaqqayasyuqqu syiqaaqan, yang berarti sukar, sulit, sempit, pecah, dan terbelah. Sedangkan menurut istilah oleh ulama fikih diartikan sebagai perpecahan/perselisihan yang terjadi antara suami istri yang telah berlarut-larut sehingga dibutuhkan perhatian khususterhadap keduanya.

Di dalam alquran setidaknya ada empat kali penyebutan kata syiqaq, yaitu surah Annisa’ ayat 35, Alhajj ayat 53, Syad ayat 2, dan Fusilat ayat 52. Namun dalam tulisan yang sederhana ini, yang akan dibahas adalah syiqaq yang terdapat dalam surah Annisa’ ayat 35:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْأَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًاخَبِيرًا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pengertian di atas menunjukkan bahwa syiqaq terjadi apabila antara suami istri tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan lahir maupun kebutuhan batin, sehingga dalam kehidupan rumah tangga sering terjadi perselisihan yang tiada akhir. Oleh karena itu, bila terjadi konflik seperti ini dalam keluarga Allah Swt memberikan petunjuk untuk menyelesaikannya melalui cara-cara tertentu.

Ibnu Qudamah secara kronologis menjelaskan langkah-langkah yang diambil oleh seorang hakam dalam menghadapi konflik tersebut. Pertama, hakim mempelajari dan meneliti penyebab terjadinya konflik tersebut. Apabila ditemukan penyebabnya adalah nusyuznya istri, maka penyelesaiannya sebagaimana dalam kasus nusyuz istri (Baca: Istri Membangkang, Bolehkah Berlaku Kasar Kepadanya?).

Baca Juga :  Suka Memarahi Istri di Depan Umum, Ini Dalil yang Melarangnya

Apabila asal permasalahan terjadi karena nusyuz-nya suami, maka yang harus dilakukan adalah mencari orang yang disegani untuk menasehati sang suami supaya menghentikan sikap nusyuz-nya itu. Namun, apabila konflik itu berasal dari keduanya, dan keduanya saling menyalahkan, maka hakim mencarikan orang yang disegani untuk menasihati keduanya.

Kedua, apabila langkah-langkah di atas tidak membuahkan hasil, maka hakim menunjuk seseorang dari pihak suami dan pihak istri untuk menyelesaikan konflik tersebut. Kepada kedua orang yang ditunjuk oleh hakim tersebut diserahi wewenang untuk menyatukan kembali keluarga yang hampir pecah itu dan apabila hal tersebut tidak memungkinkan maka diperbolehkan untuk menceraikannya.

Mazhab Hanafi, Imam Syafi’I dan Mazhab Hambali tidak membolehkan terjadinya perceraian jika hanya berdasarkan pertimbangan telah terjadi syiqaqSebab dipandang masih ada kemungkinan jalan lain untuk mengatasi mudarat yang mungkin akan ditimbulkan oleh syiqaq tersebut, selain melalui talak atau perceraian. Salah satu cara menyelesaikan perselisihan keluarga tersebut bisa dengan diajukan ke pengadilan. Hakim atau aparat yang berwenang akan menasihati suami dan istri agar tidak mengulangi sikap dan tindakan yang dapat menimbulkan perselisihan baru.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, perceraian yang diputuskan oleh hakim sebagai akibat syiqaq berstatus sebagai talabain sughra, yakni suami bisa kembali kepada istrinya itu dengan akad nikah yang baru. Dengan demikan, tidak ada kesempatan rujuk bagi suami istri yang dipisahkan karena syiqaq. Hal ini dapat dipahami, karena seandainya talak itu adalah talak raj’i, maka suami dapat saja kembali kepada istrinya dengan cara rujuk selama masa idah belum habis.

Sedangkan menurut undang-undang perkawinan di Indonesia. Syiqaq merupakan salah satu alasan perceraian apabila suami istri tidak dapat didamaikan. Hal ini dapat dilihat pada pasal 19 poin (f) Peraturan Pemerintah (PP) nomor 9 tahun 1975, Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 116 poin (f) yang berbunyi: “Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan lain antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.”

Baca Juga :  Moment Saat Nabi Perhatian kepada Istrinya; Shafiyyah

Apabila dalam kasus syiqaq ini keduanya tidak dapat berdamai maka salah satu hal yang terbaik adalah dengan menceraikan keduanya, dan kedudukan cerai sebab kasus syiqaq adalah bersifat ba’in, yaitu pernikahan yang putus secara penuh dan tidak memungkinkan untuk kembali lagi kecuali dengan mengadakan akad nikah baru tanpa harus dinikahi oleh pria lain sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here