Jika Semua Perbuatan Diciptakan Allah, Mengapa Manusia yang Menanggung Dosa?

0
1487

BincangSyariah.Com – Takdir dan usaha manusia yang dirumuskan oleh al-Imam Abu-l Hasan al-Asy’ari adalah sebuah teori yang mencoba memadukan dua kutub yang bertentangan, yakni bebas atau tidak bebasnya manusia dalam melakukan perbuatan-perbuatannya. Doktrin yang disebut dengan kasab itu berusaha menyelesaikan salah satu persoalan pelik dalam teologi Islam, yakni soal tanggung jawab manusia di akhirat nanti melalui perbuatan yang dilakukannya di dunia.

Dalam tulisan sebelumnya, dijelaskan bahwa manusia dalam teori kasb tidak bisa menciptakan perbuatannya sendiri. Manusia hanya memiliki kemampuan untuk memperoleh hasil perbuatan tersebut. Adapun perbuatan itu sendiri diciptakan oleh Allah. Jadi tanggung jawab manusia terletak pada usahanya dalam memperoleh kebaikan dan keburukan dari perbuatan yang diciptakan Tuhan.

Beberapa Problem Terkait Doktrin Asy’ariyah

Sekali lagi, dalam doktrin ini, kita temukan kontradiksi yang cukup akut. Manusia dimasukkan ke surga dan ke neraka karena pemerolehannya terhadap pahala dan dosa. Singkatnya, dalam doktrin ini, manusia dimasukkan ke surga dan ke neraka bukan karena perbuatannya, tapi karena memperoleh implikasi dari perbuatan ciptaan Allah itu sendiri yang berupa dosa dan pahala. Ingat bukan perbuatannya tapi pemerolehan dari implikasinya.

Menariknya, dari teori ini, manusia malah harus bertanggung jawab atas perbuatan yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Manusia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang diciptakan Allah.

Sebagai contoh, Si A membunuh si B. Perbuatan membunuh ini diciptakan oleh Allah. Tapi  implikasi dari perbuatan ini, yakni dosa, manusialah yang menanggungnya melalui kemampuan yang dimilikinya, bukan melalui perbuatan membunuhnya itu sendiri.

Jadi prosesnya adalah, pertama, ada kehendak dan kemampuan terlebih dahulu; kedua, ada perbuatan yang diciptakan Allah; dan ketiga, ada kasb atau ada pemerolehan implikasi dari perbuatan ciptaan Allah oleh manusia.  Doktrin kasb ini lahir dari pandangan umum al-Asy’ariyyah yang berbunyi la fa’ila wa la khaliqa illa Allah (tidak ada yang membuat dan menciptakan kecuali Allah).

Baca Juga :  Hindarilah Dosa yang Paling Berat Ini

Jika kita amati lebih jauh, dalam doktrin ini, tidak ada unsur sebab-akibat. Maksudnya kehendak dan kemampuan dari manusia sebagai sebab tidak berimplikasi apa-apa pada perbuatan sebagai akibat. Dalam doktrin al-Asy’ariyyah yang la fa’il wa la khaliq illa Allah (Tidak ada yang membuat dan menciptakan kecuali Allah), kehendak-kemampuan sebagai sebab dan perbuatan sebagai akibat itu mustahil dan sangat bertentangan dengan  konsep kemahakuasaan dan kemahapenciptaan Allah.

Atas dasar ini, teori kasab sebenarnya berusaha menjembatani konsep kemahapenciptaan Allah dengan kebebasan manusia namun pada akhirnya jatuh pada problem fatalisme akut, doktrin yang menegaskan bahwa manusia itu digerakan oleh Tuhan dalam berbagai tindakan-tindakannya.

Untuk itu, al-Baqillani dalam kitab at-Tamhid fi Ilm al-Kalam mengurai secara agak jelas konsep kasb yang dikenalkan oleh Imam al-Asy’ari ini. Al-Baqillani mengatakan bahwa kemampuan yang diciptakan Allah dalam diri manusia tidak akan memiliki dampak bagi terciptanya substansi, warna, bau dan seterusnya.

Akan tetapi kemampuan ini hanya memiliki pengaruh pada salah satu aspek perbuatan, yakni perbuatan tertentu yang dikategorikan sebagai pahala atau siksa. Dengan kata lain, kemampuan yang diciptakan Allah dalam diri manusia ini hanya berpengaruh di satu aspek tertentu dan tidak berpengaruh di aspek yang lain. Tentunya, pandangan seperti ini belum menemu kejelasan sama sekali.

al-Juwaini Mengkritik Pandangan Abu al-Hasan al-Asy’ari

Karena itu, al-Juwaini dalam kitab as-Syamil mengkritisi pandangan al-Asyari ini dengan mengatakan bahwa menafikan kemampuan dalam diri manusia dalam menciptakan perbuatan sama saja dengan menafikan kemampuan manusia secara keseluruhan. Sedangkan pandangan yang menafikan satu aspek dari kemampuan manusia dalam menciptakan perbuatan dengan menegaskan kemampuan lainnya seperti yang dianut oleh al-Baqillani sama sekali dalam pandangan al-Juwaini tidak masuk akal. Pandangan seperti ini sama saja dengan penolakan terhadap pengaruh (la ta’tsir).

Baca Juga :  Lima Perbedaan Alquran dengan Hadis Qudsi

Atas dasar ini, al-Juwaini dalam kitab as-Syamil dalam soal tiadanya pengaruh bagi perbuatan manusia secara mutlak seperti yang dipegang oleh Abu-l Hasan al-Asy’ari dan soal tiadanya pengaruh bagi perbuatan manusia secara relatif seperti yang dipegang oleh al-Baqillani ini mengatakan: “Karena itu, mau tidak mau kita harus menisbahkan pengaruh tertentu kepada suatu perbuatan dan kemampuan yang dimiliki manusia secara hakiki,”  tapi pengaruh ini kata al-Juwaini, “bukan atas dasar penciptaan dan pengadaan,” karena penciptaan merupakan proses pengadaan sesuatu dari ketiadaan. Padahal, selain menyadari akan kemampuannya untuk melakukan perbuatan, kata al-Juwaini, manusia juga sadar akan ketidakmandiriannya dalam melakukan perbuatan tersebut,

“فالفعل يستند وجوده إلى القدرة، والقدرة يستند وجودها إلى سبب آخر تكون نسبة القدرة إلى ذلك السبب كنسبة العقل إلى القدرة، وكذلك يستند سبب إلى سبب حتى ينتهي إلى مسبب الأسباب، فهو الخالق للأسباب ومسبباتها”

“Perbuatan itu keberadaannya bergantung kepada kemampuan dan kekuasaan. Sedangkan kemampuan itu keberadaanya tergantung kepada sebab lain dimana kedudukan kemampuan tersebut terhadap sebab sama halnya dengan kedudukan akal terhadap kemampuan. Dengan demikian, adanya sebab sesuatu itu didorong oleh sebab lain sehingga berujung kepada penyebab segala sebab. Itulah Allah yang menciptakan segala bentuk sebab-akibat.”

Karena pandangan ini seolah menegaskan hukum sebab-akibat, pandangan yang tentunya sangat ditolak oleh sebagian besar ahli kalam,  as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal sampai-sampai menilai pandangan al-Juwaini ini sebagai berasal dari kaum filosof, jadi bukan murni dari ahli kalam. As-Syahrastani mengatakan:

“وهذا الرأي أخذه (الجويني) من الحكماء الإلهيين وأبرزه في معرض (علم) الكلام”

“Pandangan yang mirip hukum sebab akibat ini dipegang oleh al-Juwaini dan dikemukakannya dalam konteks pembahasan ilmu kalam.”

Apakah dengan pandangan demikian, al-Juwaini sebagai wakil dari al-Asy’ariyyah ini dengan sendirinya telah melampaui Muktazilah dan mengadopsi pandangan kaum filosof tentang rangkaian sebab-akibat? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tentu harus membahasnya dari perspektif teori atom yang dicetuskan oleh Abu-l Hudzail al-Allaf yang kemudian dikembangkan oleh para teolog lainnya dari kalangan Muktazilah dan Asyariyyah. Tapi tentunya, itu harus saya sajikan dalam tulisan terpisah. Namun secara keseluruhan, para pemikir Asy’ariyahdos tampaknya tidak bisa mengelaborasi lebih jauh tentang teori kasb ini sehingga dalam perkembangannya mereka mengadopsi pandangan Muktazilah dan kaum filosof.

Baca Juga :  Tiga Hal yang Menghapus Segala Dosa dan Meningkatkan Derajat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here