Jika Masih Hidup, Akankah Nabi Mengubah Hagia Sophia Menjadi Masjid?

6
3942

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah Turki resmi mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid dan dalam waktu dekat akan diresmikan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Perubahan itu menimbulkan pro-kontra dan menaikkan kembali perdebatan lama soal Islam-Kristen. Hagia Sophia ditelisik dari sejarahnya memang menjadikan dua agama besar samawi, Islam dan Kristen, saling terkait. Dibangun sebagai katedral di masa kekuasaan Romawi Byzantium, lalu dijadikan masjid ketika Konstantinopel diduduki oleh Muhammad al-Fatih dan menjadi momen berdirinya Kesultanan Utsmaniyah. Kemudian dijadikan museum oleh Mustafa Kemal Attaturk, Presiden pertama Turki sebagai sebuah negara setelah Kesultanan Utsmaniyah diruntuhkan. Mustafa Akyol, penulis berdarah Turki yang kini tinggal di Amerika Serikat, memberikan komentarnya terkait peristiwa tersebut dalam artikel yang berjudul “Would The Prophet Convert Hagia Sophia?”, ditayangkan di New York Times, 20 juli lalu. Redaksi bincangsyariah.com secara eksklusif mendapatkan izin untuk menerjemahkan artikel penulis buku Islamic Jesus dan Islam Without Extremes ini, dengan memberi judul, “Jika Masih Hidup, Akankah Nabi Mengubah Hagia Sophia Menjadi Masjid?

Keputusan pemerintah Turki untuk mengubah kembali Hagia Sophia, yang dulunya merupakan katedral terbesar di dunia, dari museum menjadi masjid adalah kabar kurang baik bagi umat Kristen di seluruh dunia. Paus Fransiskus mengatakan bahwa beliau “terluka hatinya” atas keputusan tersebut. Pemimpin spiritual Kekristenan Timur, Patriark Ekumenis Bartholomew juga mengatakan bahwa beliau “sedih dan terguncang.” Ketika dikontraskan dengan euforia kegembiraan umat Islam konservatif Turki, semua ini tampak seperti episode baru dari cerita lama, Islam vs Kristen.

Sebenarnya, sebagian umat Islam, termasuk saya, tidak sepenuhnya nyaman dengan langkah bersejarah ini karena alasan yang logis. Pemaksaan alih fungsi tempat ibadah, yang berulang kali terjadi dalam sejarah, dapat diperdebatkan bahkan dari sudut pandang Islam.

Untuk melihat alasannya, mari lihat Islam yang lahir di Arab pada abad ke-7 sebagai sebuah kampanye monoteis melawan praktik politeisme. Nabi Muhammad SAW dan sekelompok kecil pengikutnya memandang penganut agama monoteis sebelumnya—Yahudi dan Kristen—sebagai sekutu. Jadi, ketika orang-orang Muslim pertama itu dianiaya di Mekah, sebagian mendapatkan suaka di kerajaan Kristen di Ethiopia. Bertahun-tahun kemudian, ketika Nabi memerintah Madinah, ia menyambut sekelompok orang Kristen dari kota Najran untuk beribadah di masjidnya sendiri. Nabi Muhammad SAW juga menandatangani perjanjian dengan mereka, yang berbunyi:

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Meyakini Sifat Al-Qiyamu Binafsihi Allah

“Tidak akan ada gangguan atas praktik iman mereka. … Tidak ada uskup yang akan dipindahkan dari keuskupannya, tidak ada biarawan yang akan dipindahkan dari biaranya, dan tidak ada pendeta yang akan dipindahkan dari parokinya.”

Pluralisme agama ini juga tercermin dalam Al-Quran, disebutkan bahwa Allah SWT melindungi “biara-biara, gereja, sinagoge, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah” (Surah al-Hajj: 40). Ini adalah satu-satunya ayat al-Quran yang menyebut gereja—dan disebutkan dengan nada hormat.

Pada kenyataannya, kedekatan teologis ini tidak mencegah adanya konflik politik, juga tidak mencegah umat Muslim—tepat setelah Nabi wafat—untuk tidak menaklukkan tanah Kristen, dari Suriah sampai Spanyol. Namun tetap saja, penakluk Muslim awal melakukan sesuatu yang tidak biasa pada saat itu: Mereka tidak menyentuh tempat ibadah orang-orang yang ditaklukkan.

Semangat Nabi Muhammad SAW dicontohkan dengan baik oleh khalifah Umar bin Khattab setelah penaklukannya atas Yerusalem pada tahun 637 M. Kota yang telah diperintah oleh orang-orang Kristen Romawi selama berabad-abad tersebut diambil alih oleh umat Islam setelah pengepungan yang panjang dan berdarah. Orang-orang Kristen yang awalnya merasa takut menerima pembantaian, justru menemukan keamanan. Khalifah Umar memberi mereka keamanan “atas harta benda, gereja, dan salib mereka”. Khalifah Umar lebih lanjut meyakinkan:

“Gereja-gereja tidak boleh dijadikan tempat tinggal dan tidak boleh dihancurkan … salib-salib juga tidak boleh dihancurkan.”

Sejarawan Kristen Eutychius bahkan menjelaskan ketika Khalifah Umar memasuki kota, Patriark Yerusalem, Sophronius, menawarkannya untuk shalat di tempat paling suci: Gereja Makam Kudus. Khalifah Umar menolak dengan sopan. Dia khawatir umat Islam akan menjadikannya alasan untuk mengubah gereja menjadi masjid. Khalifah Umar kemudian shalat di daerah kosong yang diabaikan orang-orang Kristen: Gunung Bait Suci, di mana nanti Masjid Umar dan Kubah Batu dibangun di atasnya.

Baca Juga :  Demokrasi dan Islam: Sejalankah Keduanya?

Dengan kata lain, Islam masuk ke Yerusalem tanpa benar-benar mengubahnya. Bahkan “empat abad setelah penaklukan Muslim, lanskap kota Yerusalem masih didominasi oleh bangunan-bangunan publik dan keagamaan Kristen”, tutur sejarawan Israel Oded Peri.

Islam kemudian berkembang menjadi agama monarki, yang—seperti umumnya kekaisaran—harus membenarkan adanya hegemoni. Segera setelah itu, para ahli hukum menemukan alasan untuk mengatur Yerusalem: Orang-orang Kristen diberikan keamanan penuh karena akhirnya menyerah secara damai. Sebaliknya, kota-kota yang menentang penakluk Muslim seakan berhak untuk dijarah, dijadikan budak, dan diubah tempat ibadahnya.

Dalam istilah sarjana Turki, Necmeddin Guney, legitimasi konversi gereja ini bukan berasal dari Al-Quran atau sunnah Nabi, melainkan basisnya sebenarnya hanya “peraturan administratif”. Para ahli hukum yang membuat keputusan ini, tambahnya, “mungkin berusaha menciptakan masyarakat yang mewujudkan supremasi Islam di era perang agama.”

Sarjana lain, Fred Donner, seorang ahli sejarah Islam awal, berpendapat bahwa dorongan politik ini bahkan mendistorsi catatan keadaan sebelumnya. Sebagai contoh, definisi “keamanan” yang diberikan kepada orang-orang Kristen di Damaskus adalah memberikan “setengah dari rumah dan gereja mereka” kepada umat muslim. Padahal dalam versi dokumen sebelumnya tidak ada pernyataan seperti itu.

Ketika pasukan Utsmani akhirnya berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, umat Islam telah lama dijajah dan melewati konflik tanpa akhir dengan Tentara Salib. Dengan menggunakan dalil yang masih diperdebatkan di kalangan madzhab Hanafi, mereka mengubah Hagia Sophia dan gereja besar lainnya menjadi masjid. Tapi selain itu, umat Islam juga mengamalkan nilai-nilai Islam yang lebih baik. Mereka memberikan perlindungan penuh kepada orang-orang Yunani dan juga orang-orang Kristen Armenia. Mereka membangun kembali Istanbul sebagai kota kosmopolitan, dan juga menyambut orang-orang Yahudi Spanyol yang melarikan diri dari Inkuisisi Gereja Katolik.

Baca Juga :  Ini 5 Cara Mencapai Kebahagian Menurut Dzun Nun Al-Mishri

Hari ini, berabad-abad kemudian, pertanyaan untuk Turki adalah aspek apa dari warisan Utsmani yang kompleks ini yang benar-benar lebih berharga?

Bagi kaum konservatif religius yang telah mendukung Presiden Recep Tayyip Erdogan selama dua dekade terakhir, kebesaran Utsmani mungkin adalah kemuliaan kekaisaran yang ada dalam penguasa absolut.

Namun, bagi orang Turki lainnya kebesaran Utsmani terletak pada pluralisme mereka yang berakar pada jantung agama Islam. Itulah yang akan mengilhami berbagai gerakan pada era ini—mungkin membuka Hagia Sophia untuk ibadah umat Muslim dan Kristen seperti yang telah disarankan selama bertahun-tahun. Bisa juga dengan membuka kembali Halki Seminary, sebuah sekolah teologi Kristen yang dibuka pada tahun 1844 justru di bawah dukungan Kesultanan Utsmaniyah. Sekolah ini ikut ditutup sebagai akibat dari korban nasionalisme sekuler pada tahun 1971. Sampai sekarang ia masih ditutup meski sudah ada seruan dari para pembela kebebasan beragama untuk membukanya kembali.

Bagi dunia Muslim yang lebih luas, Hagia Sophia adalah pengingat bahwa tradisi kita mencakup iman dan nilai-nilai abadi, serta warisan imperialisme. Yang terakhir adalah fakta pahit sejarah, seperti imperialisme Kristen atau nasionalisme, yang telah menargetkan masjid-masjid dan bahkan hidup kita—dari Cordoba sampai Srebrenica. Tetapi hari ini, kita harus coba menyembuhkan luka masa lalu semacam itu, agar tak sampai membuka luka yang baru.

Jadi, jika umat Islam benar-benar ingin menghidupkan kembali warisan masa lalu, mari fokus pada contoh yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan diterapkan oleh Khalifah Umar. Tidak ada tempat ibadah yang harus diubah—atau diubah kembali. Semua tradisi agama harus dihormati, dan keluhuran semangat toleransi harus mampu mengatasi kepicikan supremasi.

6 KOMENTAR

  1. Erdogan tidak merubah gereja menjadi masjid tapi meusium menjadi masjid lagi pula gereja aya sofia itu telah dibeli, bukan dirampas jadi kalau telah dibeli bagaimana yang punya ko turut seewoot

  2. Erdogan tidsk merubah gereja jadi masjid, tapi merubah musium jadi masjid, lagi pula gereja itu telah dibeli, ya bagaimama yg punya jangan ikut sewot kebakaran jenggot

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here