Jika Kehendak Suami dan Orangtua Bertentangan, Siapa yang Harus Dituruti Istri?

0
17

BincangSyariah.Com – Ketika kehendak suami dan orangtua bertentangan adalah, misalnya seorang istri memiliki orangtua yang tinggal jauh darinya. Satu ketika, orangtua sang istri meminta anak perempuannya untuk menemui mereka karena ada suatu kebutuhan yang tidak dilarang dalam ajaran agama, semisal sedang sakit, namun sang suami tidak mengizinkan atau hanya mengizinkan tidak dalam waktu yang lama. Dalam kondisi tersebut, siapa yang harus dituruti oleh istri ?

Ketaatan dalam pengertian senang berkasih sayang terhadap suami, dan berlaku juga sebaliknya, adalah diantara tujuan pernikahan, seperti digambarkan dalam surah ar-Rum : 21,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menciptakan istri dari diri kalian sendiri, agar kalian merasa tenang bersamanya, dan Allah jadikan antara kalian (dan pasangan kalian) rasa cinta dan kasih. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi mereka yang berpikir.

Taatnya seorang istri kepada suami merupakan diantara indikator kesalihan seorang istri. Ini seperti disebutkan diantaranya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan diantaranya oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal dari Abdurrahman bin ‘Auf Ra.,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

jika seorang perempuan shalat lima waktu, berpuasa ramadan, menjaga kemaluan/kehormatannya, taat kepada suaminya. Dikatakan kepada perempuan tersebut: “masuklah surga dari pintu mana saja yang kamu mau.” (H.R. Ahmad)

Ayat dan hadis diatas adalah diantara dalil yang menjelaskan urgensi saling berkasih sayang antara suami dan istri dan apa keutamaan dari menaati pasangan. Disisi yang lain, setiap suami atau istri sejatinya merupakan anak dari orangtuanya. Keutamaan berbakti kepada orangtua tidak hilang mutlak karena adanya hubungan pernikahan.

Baca Juga :  Benarkah Perempuan Dilaknat Malaikat Jika Menolak Ajakan Jimak Suami?

Dalam kondisi kehendak suami dan orangtua bertentangan, maka yang harus dibicarakan adalah mencari titik temu atau membicarakan agar tidak lagi kehendak suami dan orangtua tersebut bertentangan. Karena berdamai menyelesai konflik khususnya yang memiliki hubungan kedekatan semisal keluarga dengan mertua atau menantu, atau hubungan pertemanan, itu dianjurkan oleh agama, bahkan derajatnya bisa lebih tinggi dari ibadah-ibadah sunnah lainnya,

ألا أخبركم بأفضل من درجة الصيام والصلاة والصدقة قالوا بلى قال صلاح ذات البين فإن فساد ذات البين هي الحالقة

Ketahuilah saya akan sampaikan kepada kalian sesuatu yang lebih utama dibandingkan puasa, shalat, dan sedekah. Sahabat Nabi Saw. berkata: “baiklah wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda: “perdamaian orang-orang yang memiliki pertikaian. Karena sesungguhnya konflik antara mereka yang bertikai itulah yang memutus hubungan.” (H.R. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Bahkan, jika sang suami tidak memberikan izin kepada istri sementara orangtua sang istri sangat membutuhkan anaknya, misalkan sakit dalam waktu yang lama. Maka ada fatwa dari ulama bermazhab Hanafi, Zainuddin ibn Nujaim al-Hanafi yang mengatakan boleh dalam kondisi tersebut istri tidak menaati perintahnya dan tetap pergi menemui orangtuanya. Ini seperti disebutkan dalam kitabnya al-Bahr ar-Raaiq,

لو كان أبوها زمِناً مثلاً وهو يحتاج إلى خدمتها والزوج يمنعها من تعاهده، فعليها أن تعصيه مسلماً كان الأب أو كافراً، كذا في فتح القدير. وقد استفيد مما ذكرناه أن لها الخروج إلى زيارة الأبوين والمحارم، فعلى الصحيح المُفتى به: تخرج للوالدين في كل جمعة بإذنه وبغير إذنه، ولزيارة المحارم في كل سنة مرة بإذنه وبغير إذنه

Seandainya ayah istri sedang sakit menahun misalnya, dan ayahnya membutuhkan bantuan anak perempuannya. Namun suaminya malah menghalangi istrinya untuk mengurusi orangnya, maka istrinya boleh tidak menaati suaminya, baik sang ayah seorang muslim ataupun kafir. Demikian dikutip dari kitab Fath al-Qadir. Dan dapat disimpulkan dari yang sudah kami sebutkan diatas, bahwa istri berhak untuk mengunjungi orangtua dan saudara-saudara semahramnya. Maka menurut pendapat yang sahih dan difatwakan: perempuan boleh menemui orangtuanya setiap hari jumat, baik diizinkan suaminya atau tidak; dan menemui saudara semahramnya sekali setiap tahun baik dengan izinnya atau tidak.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here