Jika Engkau tidak Punya Rasa Malu, Berbuatlah Sesukamu!

0
5095

BincangSyariah.Com – Setiap orang pasti pernah merasakan malu, baik itu malu dalam hal kecil ataupun malu dalam kasus yang besar. Sebagai contoh seseorang akan merasakan sifat malu ketika ia datang terlambat menghadiri suatu rapat ataupun malu ketika melakukan kesalahan fatal. Namun pada kenyataan saat ini, sifat malu agaknya kini mulai terkisis hingga menipis.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim melalui sahabat Abu Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُوْلى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (H.R. Muslim)

Al Khatthabi menjelaskan mengenai hadis ini bahwa, “hikmah penggunaan kata perintah dan bukan berita, pada hadits ini bahwa yang menahan manusia terjerumus dalam keburukan adalah sifat malu”. Maka jika manusia meninggalkan sifat malu ia pasti akan berbuat sesuka hati hingga mengarah pada keburukan. Adapun malu yang dimaksud ialah malu berbuat maksiat kepada Allah dan kepada manusia.

Menurut Imam An-Nawawi yang berkata dalam Kitab Al Arba’in, “Perintah dalam hadits ini dalam Konteks pembolehan. Maksudnya, jika engkau ingin melakukan sesuatu, dan ia bukan perkara yang membuat malu kepada Allah dan juga terhadap manusia, maka lakukanlah. Namun, bila tidak demikian, maka jangan lakukan.” Inilah yang menjadi Intisari Islam bahwasanya dalam melakukan suatu perbuatan, rasa malupun harus kita libatkan agar terhindar dari keburukan.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Bukhari melalui sahabat Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda,

الإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (H.R. [Bukhari])

Baca Juga :  Apakah yang Ditinggalkan Nabi Pasti Dilarang? (Bagian 2 - Habis)

Penerapan malu yang tepat agar menambah iman seorang muslim harus sesuai pada tempatnya. Syaikh Abu Amr bin As-Shalah rahimahullah mengatakan bahwasahnya rasa malu yang hakiki adalah mampu menggerakkan diri dan hati untuk meninggalkan perkara-perkara buruk, mencegah sikap untuk menyia-nyiakan hak seseorang. Jadi agar malu sesuai pada porsinya diperlukan usaha, pengetahuan, dan niat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here