Jika Amal Baik dan Amal Buruk Seimbang, Apakah Ada Extra Time?

1
14

BincangSyariah.com- Ada banyak pertanyaan dari para ‘pemuda tersesat’ yang bersiliweran di kolom komentar lini media sosial Habib Husein Ja’far, tokoh dai milenial yang dakwahnya digandrungi oleh kaum muda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang absurd, lucu, namun tak sedikit juga yang serius. Salah satu pertanyaan mereka ialah: jika amal baik dan amal buruk seimbang, apakah ada extra time untuk kembali lagi beramal di dunia?

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia saat di fase kiamat kelak tidak akan bisa kembali lagi ke dunia ini. Hal ini tergambar dalam ayat-ayat yang menggambarkan tentang penyesalan kaum yang tidak beriman kelak dan mereka memohon-mohon untuk kembali ke dunia. Di dalam Q.S As-Sajdah: 12 dijelaskan:

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

“Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya.(Mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”

Kemudian di Q.S Fathir: 37 dijelaskan permohonan orang-orang yang disiksa di neraka untuk kembali lagi ke dunia dan beramal baik, namun permintaan mereka ditolak:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dengan masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun”

Bila di akhirat tidak ada kesempatan untuk kembali ke dunia, lantas bagaimana nasib orang-orang yang amal kebajikannya seimbang dengan amal keburukannya? Sebenarnya ulama telah menjawab pertanyaan ini ketika  mereka menafsirkan Q.S al-A’raf 46:

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌۚ وَعَلَى الْاَعْرَافِ رِجَالٌ يَّعْرِفُوْنَ كُلًّا ۢ بِسِيْمٰىهُمْۚ وَنَادَوْا اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْۗ لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A‘raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya  (3/376) meriwayatkan penafsiran Abdullah bin Abbas, ad-Dahhak serta ulama tafsir lainnya bahwa A’raf adalah sebuah tebing yang tinggi terletak di antara surga dan neraka. Ada perbedaan pendapat ulama mengenai siapa penghuni A’raf tersebut. Namun semua pendapat tersebut bermuara kepada  satu pendapat yang mengatakan bahwa penghuni A’raf ialah orang-orang yang amal kebaikan dan amal keburukannya sama. Pendapat ini berasal dari Huzaifah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud menegaskan:

فَمَنْ اسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُ وَسَيِّئَاتِهِ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْأَعْرَافِ

“orang yang amal kebaikan dan amal kejelekannya sama, maka ia masuk dalam penghuni A’raf” (Tafsir at-Tabari, 10/213)

Pendapat mereka ini berdasarkan dalil dari hadits  marfu’:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّنِ اسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُ وَسَيِّئَاتُهُ، فَقَالَ: “أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ، لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ”.

Dari Jabir ibnu Abdullah bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang orang yang amal kebaikan dan amal keburukannya sama. Rasulullah Saw. menjawab: “Mereka adalah penghuni A’raf. Mereka tidak dapat memasuki surga, padahal mereka sangat menginginkannya.

Apakah mereka kekal selamanya menghuni A’raf? Beberapa ulama berpendapat bahwa mereka pada akhirnya akan dimasukkan ke dalam surga, sebagaimana dijelaskan  dalam tafsir at-Thabari  (10/212( dan Fathu Qadir (2/198):

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُمْ قَوْمٌ مِنْ بَنِي آدَمَ اسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُمْ وَسَيِّئَاتُهُمْ، فَجُعِلُوا هُنَالِكَ إِلَى أَنْ يَقْضِيَ اللَّهُ فِيهِمْ مَا يَشَاءُ، ثُمَّ يُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

Pendapat sebagian ulama: “Penghuni A’raf adalah golongan dari bani Adam (manusia) yang amal kebaikan dan amal kejelekannya sama. Mereka menetap di sana hingga Allah memutuskan nasib mereka sesuai apa yang Ia hendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan anugerah rahmatNya atas mereka”

Wallahu a’lam…

 

amal baik dan amal buruk seimbang
amal baik dan amal buruk seimbang
100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here