Jihad fi Sabilillah dalam Pandangan Kiai Sholeh Darat

0
637

BincangSyariah.com- Sejak diserangnya gedung WTC (Word Trade Center) di Amerika pada 11 September 2001 oleh kelompok ekstremis Al-Qaeda, teorirsme menguat di belahan dunia. Termasuk di Indonesia, negara muslim terbesar di dunia sekalipun. Bahkan negara ini telah diterpa badai terorisme hampir setiap tahun sejak 2002 hingga 2019. Kebanyakan dari serangan terorisme ini mendasarkan diri pada ajaran agama tentang jihad fi sabilillah. Bahwa menyerang dan membunuh ‘yang lain’ adalah seruan suci agama, begitu kira-kira dalil mereka.

Berangkat dari kenyataan ini, nampaknya kita harus menilik kembali pandangan Islam tentang jihad. Apakah pemahaman jihad yang diamini oleh banyak oknum teroris dengan mengatasnamakan Islam sejalan dengan semangat dan cita-cita Islam itu sendiri?

Alih-alih sesuai dengan ajaran Islam, Jihad menurut mereka sangat jauh berbeda dengan yang dipahami para ulama Nusantara. Para ulama di Nusantara jauh sebelum lahirnya negara ini memiliki pandangan yang layak diketengahkan di situasi menguatnya gerakan terorisme.

Dalam literatur karya ulama sekaliber kiai Sholeh Darat misalnya, jihad fi sabilillah tidak dimaknai sebagai perang terhadap yang lain, membunuh kafir atau tindak kekerasan lainnya. Kiai Sholeh Darat dalam memaknai jihad fi sabilillah berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر يَا رَسُوْلَ الله؟ فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ

Artinya:

kalian telah kembali dari jihad (perang) yang lebih kecil menuju jihad (perang) yang paling besar. Kemudia sahabat bertanya, apa jihad (perang) yang besar itu wahai rasulullah? Maka rasulullah menjawab, jihad (perang) melawan hawa nafsu.”

Menurut kiai Sholeh Darat, perang kecil ialah perang melawan orang kafir. Sedangkan perang besar ialah perang melawan hawa nafsu. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya musuh yang paling sulit dihadapi ialah hawa nafsu. (Baca: Habib Ahmad bin Jindan: Mencaci Maki Pemimpin Bukan Bagian dari Jihad)

Baca Juga :  Habib Bahar Pertentangkan Hukum Fikih dan Hukum Nasional, Apakah Hukum Nasional bukan Hukum Islam?

Hal ini disebabkan manusia tidak akan mampu mengalahkannya melainkan hanya dengan pertolongan Allah. Sehingga hawa nafsu adalah musuh terberat dan memeranginya adalah perang yang paling besar. Maka jalan terbaik ialah mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana dalam karyanya Hādza al-Kitāb Matn al-Hikam:

kerano iku nafsu gede-gedene satruniro. kerana nafsu iku satru ingkang kumpul sak omah anapun syaithon maka iku satru ingkang kumpul ana jabane umah lan arah iku angendika Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam setuhune perang saking nafsu iku perang gede lan perang saking kafir iku perang cilik. Maka ora kuasa sira merangi nafsu anging kelawan pitulunge Allah. Maka langgeng ira madep ira ing Allah.

Artinya:

“karena itulah nafsu (merupakan) sebesar-besarnya musuhmu. Karena nafsu itu musuh yang tinggal serumah, adapun setan ialah musuh yang tinggal di luar rumah. Karena itulah Nabi SAW bersabda, sesungguhnya (kembali) perang dari nafsu itu perang besar dan (kembali) perang dari kafir itu perang kecil. Maka kamu tidak (akan) mampu memerangi nafsu kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Maka terus meneruslah dekatkan dirimu kepada Allah.”

Kiai Sholeh Darat sebagai ulama Nusantara yang berpengaruh tidak menempatkan musuh utama yang diperangi bukan mereka yang non-Muslim. Bahkan menurutnya, musuh manusia hanya ada empat, iblis, kehidupan dunia, nafsu amarah, dan hawa. Bahkan keempatnya dipandang sebagai nikmat yang diberikan Allah kepada manusia. Karena dengan keempat hal ini, manusia dapat menjalankan perintah jihad fi sabilillah yang mengandung sebesar-besarnya pahala (Hādza al-Kitāb Matn al-Hikam, 144).

Dari sini semestinya umat Islam, khususnya di Indonesia, merefleksikan kembali ajaran Islam yang rahmatal lil ‘alamin. Salah satunya dengan cara memahami kembali konsep-konsep yang ditafsirkan dan dimaknai secara sempit dan peyoratif oleh sebagian kecil kelompok ekstrimis dalam Islam. Termasuk di dalamnya konsep jihad yang paling sering disalahpahami dan dijadikan dasar tindak terorisme, kekerasan dan intoleransi.

Baca Juga :  Poligami Berbagi Surga, Benarkah?

Para ulama, kiai Sholeh Darat di antaranya, memahami jihad dengan indah. Jihad yang selama ini dipahami sebagai lumbung pahala terbesar ialah jihad melawan godaan iblis, melawan silau dan gemerlapnya kehidupan duniawi, dan memerangi hawa nafsu yang bersemayam pada diri kita. Sebagaimana kata kiai Sholeh Darat, kita tidak akan mampu menang tanpa pertolongan Allah dan jalan menuju jihad yang terbaik adalah mendekatkan diri kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here