Jenis-jenis Najis yang Dimaafkan (1)

1
2771

BincangSyariah.Com – Dalam fiqih, secara umum najis dibagi dua dalam kaitannya wajib dibasuh dengan air atau tidak. Pertama, najis ghairu ma’fuwwun ‘anhu atau najis yang tidak dimaafkan. Kedua, najis ma’fuwwun ‘anhu atau najis yang dimaafkan. Najis jenis pertama wajib dibasuh dengan air hingga warna, bau, dan rasanya hilang. Sementara jenis najis kedua tidak wajib dibasuh karena sudah dimaafkan.

Dalam kitab Alasybah wan Nadhoir, Imam Assuyuthi menyebutkan bahwa jenis najis jika dilihat dari sedikit atau banyaknya dan terlihat benda najis atau bekasnya, ada empat. Berikut keempat jenis tersebut;

Pertama, jenis najis yang dimaafkan baik sedikit atau banyak, baik menempel di baju atau di badan. Najis ini adalah darahnya kutu loncat, kutu rambut, nyamuk, jerawat, nanah, bisul, cacar dan darah di tempat bekam.

Ada dua syarat yang harus terpenuhi agar jenis najis ini bisa dima’fu atau dimaafkan; pertama, bukan atas perbuatan diri sendiri. Misalnya, membunuh kutu kemudian darahnya mengotori baju dan banyak darahnya, maka tidak dima’fu karena darah tersebut mengenai dirinya atas perbuatan sendiri. Kedua, tidak melampaui batas dalam membiarkan baju yang terkena darah kutu tersebut. Jika baju ditinggalkan tanpa dicuci selama setahun dan dibiarkan bertumpuk-tumpuk misalnya, maka tidak dima’fu.

Kedua, jenis najis yang dima’fu jika sedikit, sementara jika banyak tidak dima’fu. Bentuk najis ini adalah darah orang lain dan tanah jalanan yang diyakini najisnya.

Karena itu, jika ada darah orang lain mengenai baju atau badan seseorang, ia dima’fu jika sedikit dan tidak dima’fu atau wajib dibasuh dengan air jika banyak. Begitu juga dengan tanah jalanan yang diyakini najisnya. Jika sedikit dima’fu namun wajib dibasuh jika banyak.

Baca Juga :  Hukum Berdiri saat Membaca Maulid Al Barzanji

Ketiga, najis yang dima’fu jika hanya bekas namun tidak dima’fu jika terlihat zatnya (benda najisnya). Bentuk najis ini adalah bekas istinja dan sisa bau atau warna najis yang sulit dihilangkan.

Misalnya, setelah istinja masih ada sisa bau kotoran di tangan padahal zat kotorannya tidak ada, maka dima’fu. Artinya, dia tidak perlu menghilangkan bau tersebut dengan sabun atau lainnya. Namun jika masih ada zat kotorannya, maka wajib dibasuh dengan air hingga hilang.

Keempat, najis yang tidak dima’fu bekas maupun zatnya. Bentuk najis ini adalah selain najis-najis yang telah disebut di atas. Misalnya, najis anjing. Maka bekas dan zatnya wajib dihilangkan semua. Jika masih ada sisa bekasnya, maka tidak dima’fu apalagi ada zatnya.

1 KOMENTAR

  1. Maksudnya bekas najis dalam kalimat “Ketiga, najis yang dima’fu jika hanya bekas namun tidak dima’fu jika terlihat zatnya (benda najisnya). Bentuk najis ini adalah bekas istinja dan sisa bau atau warna najis yang sulit dihilangkan.”

    Apakah yg dimaksud termasuk rembesan/kelembaban di kulup kemaluan/uretra manusia?
    Secara fisiologis dalam uretra manusia memang tidak lantas otomatis kering usai berkemih. Ini berdasarkan apa yg telah saya tanyakan kepada tiga urologist/dokter spesialis saluran kencing. Pada dasarnya pria (pada khususnya) memiliki dua sfinger/katup di uretra. Pertama, yaitu katup di kandung kemih (interna) dan katup di dekat prostat (eksterna) yg sering dikenal dg otot panggul (biasanya diperkuat dg senam kegel). Keduanya akan semakin berkurang fungsinya ketika usia senja. Setelah katup eksterna pada saluran uretra pria masih ada salurang/uretra menuju kulup kemaluan sehingga mau tak mau area inilah yg tidak bisa lantas kering. Lantas bagaimana islam menghukumi hal tersebut sedangkan rembesan/setitik air bekas kelembaban di dinding uretra pria otomatis akan keluar apabila ditekan atau akibat gaya gravitasi? Padahal setahu saya sebagian dari kita muslim dalam istinja hanya mengguyurkan atau menggoyangkan kemaluan. Bagaimana islam memandang hal itu? Apakah rembesan sisa akibat kelembaban dinding uretra yg dilalui kencing akan dihukumi najis sedangkan itu hal normal yg tak bisa dihindari.

    Analoginya:

    Coba matikan air dari selang melalui keran. Lantas gantungkan atau sobek/robek selang tersebut. Akan dijumpai sisa air di dinding selang yg akan jatuh apabila selang digantungkan.
    Kedua bisa dengan analogi gelas, isi gelas dengan air. Gelas (dg pori-pori lebih rapat dr kulit manusia) saja ketika dibuang air dr dalamnya tak lantas kering. Coba balik gelas tersebut akan ditemui setetes/setitik air sisa dari dinding permukaan gelas. Bayangkan saja dinding uretra manusia yg tak serapat itu pori-porinya.

    Lantas apakah mahdzab yg mengatakan mengenai ukuran najis itu berlaku ustadz? Sedangkan saya pernah baca hadits yang mengatakan setitik jarum air kencing saja sudah sebabkan tak sah wudhunya. Bagaimana manusia bisa melihat setitik jarum sisa air kencing yg menempel di kulup kemaluan berupa rembesan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here