Jenis-jenis Najis yang Dimaafkan (1)

0
1216

BincangSyariah.Com – Dalam fiqih, secara umum najis dibagi dua dalam kaitannya wajib dibasuh dengan air atau tidak. Pertama, najis ghairu ma’fuwwun ‘anhu atau najis yang tidak dimaafkan. Kedua, najis ma’fuwwun ‘anhu atau najis yang dimaafkan. Najis jenis pertama wajib dibasuh dengan air hingga warna, bau, dan rasanya hilang. Sementara jenis najis kedua tidak wajib dibasuh karena sudah dimaafkan.

Dalam kitab Alasybah wan Nadhoir, Imam Assuyuthi menyebutkan bahwa jenis najis jika dilihat dari sedikit atau banyaknya dan terlihat benda najis atau bekasnya, ada empat. Berikut keempat jenis tersebut;

Pertama, jenis najis yang dimaafkan baik sedikit atau banyak, baik menempel di baju atau di badan. Najis ini adalah darahnya kutu loncat, kutu rambut, nyamuk, jerawat, nanah, bisul, cacar dan darah di tempat bekam.

Ada dua syarat yang harus terpenuhi agar jenis najis ini bisa dima’fu atau dimaafkan; pertama, bukan atas perbuatan diri sendiri. Misalnya, membunuh kutu kemudian darahnya mengotori baju dan banyak darahnya, maka tidak dima’fu karena darah tersebut mengenai dirinya atas perbuatan sendiri. Kedua, tidak melampaui batas dalam membiarkan baju yang terkena darah kutu tersebut. Jika baju ditinggalkan tanpa dicuci selama setahun dan dibiarkan bertumpuk-tumpuk misalnya, maka tidak dima’fu.

Kedua, jenis najis yang dima’fu jika sedikit, sementara jika banyak tidak dima’fu. Bentuk najis ini adalah darah orang lain dan tanah jalanan yang diyakini najisnya.

Karena itu, jika ada darah orang lain mengenai baju atau badan seseorang, ia dima’fu jika sedikit dan tidak dima’fu atau wajib dibasuh dengan air jika banyak. Begitu juga dengan tanah jalanan yang diyakini najisnya. Jika sedikit dima’fu namun wajib dibasuh jika banyak.

Baca Juga :  Lima Rahasia Kehebatan Zikir kepada Allah

Ketiga, najis yang dima’fu jika hanya bekas namun tidak dima’fu jika terlihat zatnya (benda najisnya). Bentuk najis ini adalah bekas istinja dan sisa bau atau warna najis yang sulit dihilangkan.

Misalnya, setelah istinja masih ada sisa bau kotoran di tangan padahal zat kotorannya tidak ada, maka dima’fu. Artinya, dia tidak perlu menghilangkan bau tersebut dengan sabun atau lainnya. Namun jika masih ada zat kotorannya, maka wajib dibasuh dengan air hingga hilang.

Keempat, najis yang tidak dima’fu bekas maupun zatnya. Bentuk najis ini adalah selain najis-najis yang telah disebut di atas. Misalnya, najis anjing. Maka bekas dan zatnya wajib dihilangkan semua. Jika masih ada sisa bekasnya, maka tidak dima’fu apalagi ada zatnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here