Jati Diri Ulama dalam Al-Qur’an

0
705

BincangSyariah.Com – Ulama adalah makhluk Allah yang diberi keistimewaan tertentu oleh Allah. Ulama tentu memiliki kapasitas keilmuan yang lebih di bidang keagamaan, serta memiliki kepedulian untuk tetap mengembangkan dan mempertahankan ajaran agama Islam kepada masyarakat sekitar. Ulama memiliki keutamaan yang agung dan kedudukan yang tinggi. Berkat ulama juga, kita yang lalai selalu diingatkan. Kita yang bodoh terus diajarkan. Sebab itulah kehidupan ulama disebut sebagai ghanimah, sedangkan kematiannya adalah musibah.

Al-Qur’an menyebutkan perihal jati diri ulama dengan ayat yang bisa mewakilkan unsur penting dalam dirinya. Dalam QS Al fathir ayat 28 disebutkan:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

 “Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama”

 Unsur penting dalam diri manusia yang mengemban gelar ulama adalah memiliki ketakwaan yang tinggi kepada Allah. Untuk mencapai titik ini, manusia perlu membersihkan hati yang merupakan sentral kegiatan lahiriyah. Jadi hati manusia memegang peranan penting dalam menentukan sikap dan perilaku yang dilaksanakan pada aktifitas hidup sehari-hari. Termasuk juga aktifitas yang berkaitan dengan pembinaan keagamaan masyarakat, bertetangga, dan individual. Insan taqwalah yang memiliki hati cemerlang sehingga manusia akan selalu menjunjung tinggi aspek keluhuran jiwanya.

Rasa takut yang dimiliki seorang ulama mampu mendorong dirinya untuk terus berada di dalam jalan lurus-Nya. Ulama mengerti dan memahami posisi dirinya yang menjadi hamba. Pemahaman seperti itu diawali dengan mengenali Zat Tuhan, dengan mengenal-Nya dengan baik tentu manusia akan mengerti siapa dirinya dan akan kemana dirinya menuju. Dengan begitu ulama bisa menghadirkan rasa takut ketika melanggar apa-apa yang dilarang oleh-Nya, walaupun Tuhan tak melihatnya. Syekh Jamaluddin Al Qasimi memaprkan dalam kitab Tafsirul Qasimi  sebagai berikut:

Baca Juga :  Mengenal Konsep Sufistik Huwa dan La Huwa Ibnu Arabi

إنما يخشاه تعالى بالغيب، العالمون به عز وجل، وبما يليق به من صفاته الجليلية وأفعاله الجميلة؛ لما أن مدار الخشية معرفة المخشي والعلم بشؤونه، فمن كان أعلم به تعالى، كان أخشى منه عز وجل. كما قال عليه الصلاة والسلام أنا أخشاكم لله وأتقاكم له

 “Ulama adalah mereka yang takut kepada Allah meskipun tidak melihat-Nya. Mereka juga memahami sifat keagungan dan perbuatan baik yang layak bagi-Nya karena titik tumpu dari rasa takut ini adalah pengenalan atas Zat yang ditakuti dan mengerti ‘kondisi’-Nya. Orang yang lebih mengenal-Nya, maka ia yang paling takut kepada-Nya sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Bukari, ‘Aku orang yang paling takut di antara kamu kepada Allah, dan aku yang paling bertakwa di antara kalian”

Jati diri seperti itulah yang digambarkan Al Qur’an tentang seorang ulama. Semua anggota tubuhnya tunduk dan patuh kepada hatinyan yang bersih nan cemerlang. Ulama terus dikelilingi rasa takut dan takwa kepada-Nya dimanapun dan kapanpun, sebab itulah ulama selalu merasa dalam pengawasan-Nya. Sehingga rasa takut tersebut membawa dirinya pada rasa malu jika melakukan sesuatu yang tak diridhai-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here