Imam Al-Ghazali: Jangan Mudah Menuduh Orang Lain Musyrik

0
975

BincangSyariah.Com – Imam Al-Ghazali; seorang cendekiawan Islam terkemuka, memiliki istilah menarik bagi orang yang gemar menuduh orang lain musyrik. Padahal yang dituduh itu sesama muslim. Mereka adalah orang yang suka ikut campur urusan pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Bagaimana tidak, mereka seakan-akan tahu apa yang sebenarnya ada di hati seorang muslim hanya berbekal tindakan lahir yang bisa menyimpan banyak kemungkinan. (Baca: Benarkah Mencaci Maki Orang Musyrik Bagian dari Jihad?)

Selain itu, apakah benar sama penilaian Allah dengan penilaian si penuduh musyrik? Bagaimana bila ternyata si orang yang dituduh melakukan hal syirik dalam keadaan tidak tahu atau terpaksa? Atau ia melakukan sebab berdasar sebagian ulama yang tidak menganggapnya musyrik? Bagaimana bila ternyata orang dituduh benar secara suka rela melakukan hal syirik menurut sebagian ulama, hanya saja Allah kemudian memberi ampunan sebab satu atau dua hal yang tak diketahui serta tak diduga manusia?

Jangan Menggunakan Lisan Untuk Gemar Melaknat

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menerangkan, bahwa salah satu hal yang jangan sampai dilakukan oleh lisan adalah, melaknati atau mendoakan agar dijauhkan hal-hal baik. Entah laknat itu ditunjukkan pada manusia, hewan atau bahkan makanan (Bidayatul Hidayah/69).

Oleh karena itu, saat disuguhi makanan yang tidak disukai, Nabi Muhammad saw. hanya cukup meninggalkannya dan tidak lantas mencaci atau melaknati makanan tersebut.

Imam Nawawi dalam Syarah Bidayatul Hidayah menerangkan, larangan melaknati manusia memasukkan juga selain orang muslim seperti orang Yahudi. Hal ini beliau contohkan seperti ucapan: “Semoga zaid dilaknati Allah” sementara zaid ini adalah orang yahudi atau non muslim. Hal ini dikarenakan tidak menutup kemungkinan si Zaid ini kemudian masuk Islam dan meninggal dalam keadaan diridhai Allah.

Baca Juga :  Perbedaan Pungli dan Pajak dalam Perspektif Islam

Imam Nawawi juga memperingatkan untuk tidak melaknati seseorang atas dasar sekedar tuduhan yang diungkapkan oleh keterangan catatan sejarah. Ini seperti kabar yang menyatakan bahwa yang membunuh atau memberi perintah membunuh cucu nabi; Sayyid Husain adalah Yazid bin Mu’awiyah. Kabar ini masih simpang siur. Maka jangan sampai meyakini bahwa itu merupakan fakta terlebih sampai membuat kita melaknati Yazid bin Mu’awiyah. Ini berbeda dengan kasus pembunuhan Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib oleh Ibn Muljam (Maraqiyul Ubudiyah/69).

Berbeda dengan hukum melaknati seperti manusia serta hewan atau hal lainnya, melaknati suatu sifat hukumnya boleh. Namun tidak dengan arti dijauhkan dari rahmat, tapi sekedar menyatakan kehinaan sifat tersebut. Hal ini sebagaimana dalam salah satu hadis Nabi bahwa semoga Allah melaknati orang yang memakan riba. Ucapan ini tidak sedang melaknati satu sosok manusia, tapi melaknati sifat buruk berupa memakan harta riba (Faidul qadir/1/73).

Larangan Menuduh Orang Lain Musyrik, Kafir Atau Munafik

Di sela-sela menjelaskan larangan melaknati, Imam Al-Ghazali menerangkan larangan memberi menuduh atau memberi kesaksian secara meyakinkan bahwa orang lain musyrik, kafir atau munafik. Ini adalah bentuk ikut campur urusan Allah dengan hamba-Nya. Imam Al-Ghazali berkata:

وَلَا تَقْطَعْ بِشَهَادَتِكَ عَلٰى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِشِرْكٍ أَوْ كُفْرٍ أَوْ نِفَاقٍ؛ فَإِنَّ الْمُطَلِّعَ عَلٰى السَّرَائِرِ هُوَ اللهُ تَعَالٰى، فَلَا تَدْخُلْ بَيْنَ الْعِبَادِ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالٰى

Jangan engkau memantapkan kesaksianmu pada salah seorang ahli kiblat, tentang kemusyrikan, kafir atau munafik. Yang mampu melihat apa yang ada dalam hati adalah Allah ta’ala. Maka jangan ikut campur urusan antara para hamba dan Allah ta’ala. (Bidayatul Hidayah/69)

Di dalam kitab Al-Kifayah Syarah Bidayatul Hidayah Imam Al-Fakihi berkomentar, tidak hanya menuduh orang lain musyrik, kafir atau munafik secara meyakinkan yang diharamkan, tapi juga menuduh berdasar sangkaan semata. Hal ini berdasar hadis larangan menuduh orang lain kafir (Al-Kifayah/360).

Baca Juga :  Respon Alquran Terhadap Orang Musyrik

Hanya saja, dalam penjelasan Imam Al-Ghazali di atas, Imam Al-Ghazali seakan mengingatkan manusia agar tahu diri dengan batas-batas pengetahuannya. Bahwa prilaku lahiriyah yang menyiratkan kemusyrikan, kekufuran atau kemunafikan tidak bisa lantas serta merta bisa menjadi pijakan bahwa si pelaku memang benar musyrik, kufur atau munafik. Bisa saja prilaku tersebut tidak disertai keyakinan musyrik, kufur atau munafik.

Sementara itu, soal keyakinan adalah soal yang ada dalam batin manusia. Dan tidak ada yang lebih mengetahui persoalan batin manusia kecuali Allah Swt. Maka persoalan keyakinan adalah persoalan pribadi antara seoorang hamba dengan Allah yang maha mengetahui apa yang dalam hati manusia. Menebak-nebak atau mengklaim tahu akan keyakinan seseorang sama saja mencampuri urusan Allah dengan hamba-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here