Jangan Meremehkan Dukun dan Sihir

0
1154

BincangSyariah.Com – Pada abad ke 15-17, terjadi genosida ratusan ribu orang “tertuduh” tukang sihir tanpa ada bukti sahih. Marvis Harris dalam bukunya Cows, Pigs, War and Witches justru mengajukan tesis bahwa tujuan pemerintah saat itu bukan bermaksud membasmi penyihir, melainkan menciptakannya.

Diktum “ganyang tukang sihir” ini selain dirancang untuk penyitaan dan perampasan materi tersangka, juga supaya rakyat –khususnya yang miskin dan minim literasi, percaya bahwa dukunlah yang bertanggungjawab terhadap panen yang gagal, naiknya harga roti, mewabahnya epidemi, dan nilai upah yang jatuh. Bukan pangeran, bukan paus, bukan penguasa.

Bukti ilmiah antropo-historis yang diajukan Harris sudah cukup membuat reputasi dunia klenik dan perdukunan babak belur, ditambah lagi hari ini kita dipertontonkan pseudo-sihirnya ‘orang pintar’ abad 21 yang memaksa IQ kita salto dan akrobat. Untuk menyebut beberapa contoh absurdnya wajah sihir di media, ada penangkapan jin ke dalam botol, menyatroni tempat angker untuk diskusi akhir zaman dengan spirit penjaganya, dan yang baru-baru ini ruqyah-ruqyahan yang mendaku bisa memanggil Nabi Muhammad.

Puncaknya, orang-orang akan meragukan otentitisitas sihir –untuk tidak menyebut tidak mempercayainya sama sekali, dan menjadi lengah untuk berlindung kepada Allah SWT dari kejahatannya.

Padahal Islam mengakui eksistensi sihir. Dua surah di dalam al-Qur’an (al-Mu’awwidzatayn), turun untuk mengeskan statemen tersebut. Tentunya sihir par excellence yang penggunanya benar-benar bersekongkol dengan jin, bukan versi abal-abal yang penulis sebutkan sebelumnya.

Rasulullah SAW saja, sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari, pernah kena guna-guna oleh seorang dukun Yahudi bernama Labid bin al-A’sham. (Baca: Benarkah Nabi Pernah Disihir?) Fakta ini menjadi peringatan bagi kita agar bertindak preventif terhadap kedengkian orang lain, baik dengan cara bersosial, bersedekah, murah senyum, maupun dengan merapalkan dua surah tadi.

Baca Juga :  Memaknai Peristiwa Nuzul al-Quran

Karena konspirasi hitam antara dukun dan jin ini, walaupun bisa mendatangkan mudharat, tetap impoten untuk melangkahi kehendak dan izin Allah SWT.

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. (QS. Al-Baqarah: 102)

Bagaimana dengan cenayang cum indigo yang bisa memprediksi masa depan? atau mengetahui detil peristiwa A, pribadi B, deskripsi urusan C dan seterusnya?

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib (30/159) memaparkan bahwa dahulu, sebelum Rasulullah SAW diutus, bangsa jin bisa hilir-mudik menguping (istiraq) berita langit. Namun setelah beliau diangkat menjadi Nabi, tempat mereka biasa mencuri dengar itu dipenuhi penjagaan ketat dan panah-panah dari api.

Berita-berita ini yang kemudian disampaikan jin kepada para pegiat ilmu hitam. Dari satu berita yang mereka terima, yang disampaikan sembilan. Maksud Imam ar-Razi, andaipun boleh jadi prediksi dunia klenik ada yang benar, tapi toh lebih banyak bohong dan salahnya.

Aksentuasi penulis, sebodoh apapun gambaran sihir di media hari ini, percaya dengan kebaradaannya dan terus berlindung kepada Allah SWT dari kejahatannya harus tetap terpatri agar kita tidak lengah, tertipu, atau na’udzubillah menjadi korban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here