Jangan Main-Main dengan Mubahalah

1
1342

BincangSyariah.Com –  Dalam ajaran Islam, seperti didasari oleh surah Ali Imran [3]: 61, mubahalah hanya pernah dilakukan oleh Nabi SAW kepada pendeta Nasrani untuk mempertahankan kebenaran ajaran aqidah/keimanan. Itupun, mubahalah tersebut belum sampai diucapkan oleh Nabi. Karena pendeta Nasrani tersebut takut lalu membatalkan mubahalah-nya.

Tapi hari ini, mubahalah diobral seperti kacang. polemik politik bawa-bawa mubahalah. padahal, polemik politik/siyasah yg pernah ada dalam sejarah Islam itu diselesaikan dengan “tahkim”, yakni pendekatan perdamaian dan kembali ke konstitusi. Sama sekali bukan mubahalah.

Saya khawatir, kalau mubahalah terus-terusan diobral seperti sekarang, nanti malah hilang “tuah” nya. dan yang paling penting, jangan sampai akibat mubahalah tersebut malah balik ke diri sendiri, Na’udzubillah.

Politik Bukan Ranah Akidah

Politik sekarang itu aneh. Sebenarnya, politik Islam itu memang bagus. tapi, mungkin karena terlalu banyak “embel-embel” Islam yang dipakai, akhirnya banyak penggunaan ajaran agama Islam yang justru tidak semestinya.

Jadi begini politik itu ranah syariah/fikih. Fikih itu bagian dari furu’ (cabang), bukan ranah ushul (pokok/dasar). ketika ada sengketa/polemik politik, agama mengajarkan adanya “tahkim” dalam penyelesainnya, bukan dengan mubahalah.

Mubahalah itu ranah aqidah/keimanan. tentu ada aturan khusus yang mengaturnya. Karena hal ia memiliki akibat yang sangat berat. Jadi, sangat disayangkan kalau sampai mubahalah dipakai sembarangan hanya untuk melegitimasi kepentingan politik yang mengatasnamakan agama.

Saya mau menggunakan ilustrasi sederhana. Misalkan ada seorang yang terkena penyakit panu, maka tentu diobatinya dengan cara diberikan obat semisal salep panu. Lalu jangan karena tidak mempan dengan salep (misalnya), lalu pakai cara ekstrim dengan operasi cungkil kulit untuk mengangkat panunya atau misalnya kulitnya dibakar saja biar sekalian. Ini justru menunjukkan sikap yang berlebihan dan tidak menghormati “standar”.

Baca Juga :  Muawiyah dan Soal Kelihaian Berpolitik

Sekarang, kita tunjukkan ke kondisi politik kita hari ini. Misalnya ada yang menuduh penyelenggara pemilu seperti KPU curang, apa tepat caranya dengan mubahalah? Ajaran dari mana itu? Mengapa pemilu yang merupakan bagian dari murni proses politik tidak lebih baik dilihat dari sisi Hukum Tata Negara. Maka dalam kasus KPU yang dibentuk oleh DPR, maka justru sangat berkuasa bagi DPR untuk memanggil KPU jika dianggap ada kecurangan dalam kinerjanya. Dan, untuk para peserta pemilu, masih ada lembaga yang sah untuk menyelesaikan sengketa hasil seperti Mahkamah Konstitusi atau Bawaslu. Lalu mengapa jalan yang dipilih malah Mubahalah?

Saya pribadi punya sikap seandainya nanti KPU memutuskan presiden yang menang adalah Bapak Prabowo Subianto, maka saya akan meridhoinya. Begitupun seandainya Bapak Joko Widodo, saya akan melakukan hal yang sama. Bukankah keduanya sama-sama muslim. Keduanya putra bangsa. Keduanya ingin negara ini maju, aman, dan damai. Yang penting adalah sesuai dengan konstitusi dan tidak memaksakan kemenangan sepihak.

Betapa Buruk Merasa Benar Sendiri

Sebenarnya, kita itu tidak bisa menjamin kebenaran yang kita anggap benar, adalah kebenaran yang paling sejati. Karena bukankah kebenaran ala kita sering sekali sangat subyektif. Oleh karena itu, berhati-hati dan janganlah bermain-main dengan mubahalah.

Saya jadi teringat pengalaman pribadi terkait betapa kita sering memaksakan kebenaran subjektif kita. Suatu hari saya belanja di tukang sayur. Bersama saya, ada seorang nenek imigran Pakistan yang juga berbelanja. Ia berjlibab, membawa tasbih, dan terlihat sangat islami. Karena ia tidak bisa bahasa Indonesia, terjadilah miskomunikasi antara penjual sayur dengan nenek. Singkat cerita, nenek itu merasa dizalimi dan ditipu karena ia dizalimi oleh tukang sayur karena tidak mendapatkan yang ia harapkan dari uang yang dibawa. Padahal menurut pengamatan saya, uangnya memang cuma sedikit.

Baca Juga :  Delapan Perkara ini Menyelamatkan dari Siksa Kubur

Sambil berlalu, nenek itu masih ngedumel dengan bahasa pakistan yang tidak bisa saya pahami. Yang membuat saya kaget, ia mengangkat kedua tangannya, lalu melafalkan doa. Saya kaget! ternyata doa yang ia baca adalah doa laknat supaya warung ini bangkrut. Saya memahaminya karena dia berdoa dengan bahasa arab. Saya ber-istighfar. Saya jadi mikir keras. Kenapa tasbihnya tidak memberi pengaruh dan tidak membimbing keluasan hatinya. Justru, nenak malah mudah menghakimi ibu tukang sayur dan mendoakan jelek untuk orang lain.

Ini adalah fenomena betapa penilaian “merasa benar sendiri” lalu bisa menghakimi dan mendoakan jelek untuk orang lain itu sangat mudah dilakukan. padahal itu hanya kebenaran yang sangat subyektif. Bukankah kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah. Wallahu A’lam, bisa jadi saya bisa merasa dizalimi orang lain karena punya persepsi yang salah seperti yang terjadi pada nenek. Semoga Allah selalu membimbing hati kita untuk lebih berlapang dada dan tidak mudah menghakimi. Sekali lagi, jangan main-main dengan mubahalah.

1 KOMENTAR

  1. Mohon maaf, tolong dalil yg jelas yg melarang mubahalah dalam hal Fikih ? Jangan di lihat pemilunya, tapi yg harus lebih di perhatikan dustanya, bukankan dalam kaitan dengan suami istri jg di bolehkan LIAN, yg jelas dasarnya bukan aqidah tapi dusta & keduanya jg sama sama muslin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here