Jangan Asal Membidahkan Orang Lain, Ini Tiga Jenis Bid’ah dalam Beragama

0
570

BincangSyariah.Com – Salah satu faktor perselisihan umat Islam dalam sejarah ialah klaim atas siapa yang beriman dan siapa yang kafir. Sikap ini biasa disebut sebagai gerakan takfiri (mengkafirkan orang lain). Aktor yang terekam dalam sejarah Islam kali pertama mengkafirkan kelompok lain ialah Khawarij, sebuah kelompok yang kecewa atas sikap Ali tentang tahkim (arbitrase). Sikap takfiri didasarkan pada keyakinan bahwa dirinya yang imannya benar, asal membidahkan, dan mengafirkan orang lain.

Di Nusantara, sebagai wilayah Islam yang identik dengan toleransi dan keramahan, pernah mengalami gempuran gerakan yang serupa. Menurut Jajat Burhanudin dalam Ulama dan Kekuasaan, pada akhir abad ke-19 dan wal abad ke-20, gerakan purifikasi Islam mengalami peningkatan akibat dibukanya terusan suez. Sebuah gerakan yang hendak membersihkan Takhayul, Bid’ah dan Churafat (TBC) dalam cara beragama umat Islam di Nusantara dengan kembali ke Al-Quran dan hadis.

Gerakan ini bahkan masih terus eksis dan menyerang kelompok di luarnya dengan dalih bid’ah. Sedangkan pemahaman secara tekstual mereka atas sebuah hadis meyakini bahwa setiap bid’ah – sesuatu yang baru – pasti sesat dan setiap yang sesat akan berada di neraka. Dalam situasi yang demikian, penting untuk mengetahui macam-macam bid’ah. Sehingga umat Islam tidak dengan mudah saling membid’ahkan praktik keagamaan yang berbeda dengan kelompoknya. (Baca: Benarkah Membatasi Bilangan Zikir dalam Jumlah Tertentu Itu Bidah?)

Dalam kitab Risalatul Mu’awwanah karya Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad, terdapat tiga jenis bid’ah. Pertama, bid’ah hasanah, bid’ah yang baik. Bid’ah ini yaitu bid’ah yang menurut para imam dan ulama yang mendapat petunjuk tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Sebagaimana melakukan hal yang lebih baik, lebih tepat dan bermanfaat.

Baca Juga :  Mengaji Makna "Lailatul Qadar" : Apa Maksud Lebih Baik dari 1000 Bulan? (2)

Syekh Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad mencontohkan beberapa peristiwa yang dianggap tidak terdapat pada Al-Quran dan sunnah. Seperti kodifikasi Al-Quran yang dilakukan Abu Bakar, mendirikan kantor-kantor untuk urusan negara dan agama, adzan pertama di salat Jumat saat era sahabat Utsman, dan lain sebagainya. Beberapa tindakan tersebut merupakan sesuatu yang baru. Meskipun tidak diajarkan nabi Muhammad, akan tetapi hal-hal tersebut memiliki sisi kebermanfaatan dan kebaikan yang lebih.

Sehingga setiap praktek keberagamaan yang baru tidak selalu dikategorikan sebagai sesuatu yang sesat. Selama praktek tersebut memiliki aspek kebermanfaatan dan kebaikan serta tidak dianggap bertentangan oleh Ulama dengan Al-Quran dan sunnah maka itu kategori bid’ah yang baik dan tidak sesat.

Bid’ah yang kedua yaitu bid’ah madzmumah, bid’ah yang tercela. Bid’ah ini ialah bid’ah yang dicela dan dihindari oleh orang-orang sufi yang zuhud dan qanaah. Mereka, para ulama sufi yang zuhud, menyontohkan bid’ah ini seperti sikap berlebihan dalam berpakaian, makan dan segala hal yang diperbolehkan.

Bid’ah yang ketiga ialah bid’ah madzmumah muthlaqon, bid’ah yang tercela secara mutlak. Bid’ah ini merupakan bid’ah yang bertentangan dengan Al-Quran, sunnah dan ijma’ umat. Praktek ini banyak terjadi di wilayah ushul (dasar ajaran agama) dan sedikit terjadi di wilayah furu’ (cabang ajaran agama).

Dengan mengetahui tiga jenis bid’ah, setidaknya umat Islam mau menahan diri terlebih dahulu sebelum menuduh orang lain sebagai ahli bid’ah. Sebagaimana pembid’ahan yang terjadi pada tradisi kegamaan yang sudah mengakar di Indonesia seperti tahlilan, yasinan, suronan dan lain sebagainya. Karena tidak selalu hal yang baru itu buruk.

Bahkan, sangat sedikit sekali hal-hal yang baru (bid’ah) di Indonesia ini yang buruk. Karena dalam sejarahnya, Islam yang diajarkan di Indonesia adalah Islamnya para sufi yang rutin membersihkan rohaninya. Apalagi dari praktek-praktek bid’ah yang dilarang agama, sudah tentu akan dijauhi oleh mereka.

Baca Juga :  Hukum Tujuh Kali Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas setelah Shalat Jumat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here