Jangan Asal Comot! Ini Dia Syarat Menafsirkan Ayat-Ayat Alquran

0
4941

BincangSyariah.Com – Beberapa kelompok atau aktivis agama kerap kali menggunakan penalaran sendiri untuk menafsirkan dalil-dalil agama, khususnya Alquran. Ketika mengetahui satu dua ayat Alquran dan mengetahui artinya, seringkali kali kelompok-kelompok ini dengan mudahnya menempatkan pemahaman sendiri dalam teks Alquran tersebut.

Sengaja atau tidak, mengutip Alquran untuk tujuan tertentu sudah masuk ke dalam proses penafsiran (menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci– KBBI). Mengapa demikian? Sebab seseorang yang mengutip ayat Alquran sudah barang tentu ia ingin menyarikan atau menyampaikan pemahaman ayat tersebut. Sayang, proses penafsiran semacam ini tidak dibenarkan dalam tradisi ulama tafsir. Bahkan, kalau boleh, bisa dikatakan sebagai tindakan yang ngawur. Padahal, ada syarat menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang harus dipenuhi.

Tafsir sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti al-ibanah (memberikan penjelasan) atau kasyf al-mughatta (menyingkap yang tertutup). Secara istilah menurut Imam al-Zarkasyi, tafsir adalah:

Pengetahuan yang digunakan untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad, pengetahuan tentang makna-maknanya, tentang bagaimana mengeluarkan hukum dan hikmah di dalamnya. Caranya dengan memahami ilmu bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Bayan, Ushul Fiqh, Ilmu Qiraat, Ilmu Asbabun Nuzul, dan Nasikh dan Mansukh.”

Dilihat dari pengertian Imam al-Zamakhsyari, proses menafsirkan Alquran tidak serta-merta menggunakan logika otak-atik saja atau bahkan hanya menggunakan terjemah Alquran tanpa didasari pengetahuan yang mumpuni. Itu terbukti dari penjelasan di atas bahwa ada banyak ilmu yang harus dikuasai sebelum melakukan proses penafsiran.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai seorang mufassir sebagaimana disebutkan dalam Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an adalah;

  1. Ia harus memiliki akidah yang benar. Menganut akidah yang salah akan berdampak pada hasil penafsirannya yang cenderung mudah berkhianat dalam menukil teks-teks yang ada.
  2. Tidak dikuasai oleh hawa nafsu. Orang yang dikuasai oleh hawa nafsu menjadikan dirinya berhasrat untuk mencari pembenaran atas pemikirannya.
  3. Memulai dengan menafsirkan Alquran dengan Alquran.
  4. Merujuk kepada Sunah Nabi sebagai penjelas dari Alquran. Imam as-Syafi’i pernah mengatakan:
Baca Juga :  Apa Saja Syarat dan Rukun Akad Salam?

كل ما حكم به رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو مما فهمه من القرآن

“Segala sesuatu yang ditetapkan oleh Rasulullah Saw adalah apa yang ia pahami dari Alquran.”

Dengan demikian, hadis atau pun sunah Nabi Saw adalah bagian dari penjelasan beliau terhadap Alquran.

  1. Jika tidak didapati penafsiran dari Alquran maupun Sunah, opsi selanjutnya adalah mencari penafsiran dari sahabat Nabi Saw. Ini dikarenakan sahabat Nabi menyaksikan turunnya Alquran dan mengetahui konteks bagaimana Alquran diperbincangkan saat itu.
  2. Jika tidak ditemukan penafsiran dengan opsi di atas, maka bisa dilakukan dengan mencari tahu penafsiran dari para tabi’in (orang yang hidup setelah sahabat). Ini bisa dilakukan dengan merujuk beberapa tokoh tabi’in yang kerap kali berkomentar menyoal penafsiran Alquran, di antaranya adalah Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah Maula Ibn ‘Abbas, ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Hasan Bashri, Masru’ bin Ajda’, dan banyak lagi yang lainnya.
  3. Mengetahui bahasa Arab dan cabang-cabangnya. Syarat ketujuh ini tidak bisa ditawar lagi, sebab Alquran turun dengan bahasa Arab. Untuk memahaminya, seseorang harus menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu terkait. Tabi’in bernama Mujahid pernah mengatakan terkait hal ini:

لا يحل لأحد يؤمن بالله واليوم الآخر أن يتكلم في كتاب الله إذا لم يكن عالما بلغات العرب

Tidak dihalalkan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara tentang Kitabullah (Alquran) sedangkan ia tidak mengetahui bahasa-bahasa Arab.”

  1. Mengetahui dasar-dasar ilmu yang berhubungan dengan Alquran. Seperti ilmu qiraat untuk mengetahui ragam bacaan Alquran, ilmu dasar-dasar penafsiran seperti ilmu nasikh-mansukh, asbabun nuzul, dan lain sebagainya.
  2. Memililki kedalaman pemahaman (diqqah al-fahm). Hal ini penting karena seorang mufassir perlu untuk melakukan istinbath, melakukan tarjih dan banyak lagi yang lainnya.
Baca Juga :  Apakah Melihat ke Langit Ketika Berdoa Dianjurkan?

Dari sembilan syarat di atas, bisa disimpulkan bahwa melakukan proses penafsiran terhadap Alquran tidaklah gampang. Seseorang harus memiliki kemampuan bahasa Arab yang kuat, pemahaman terhadap hadis, mengetahui banyak pendapat sahabat dan tabi’in, memiliki kemampuan analisis yang baik.

Di samping itu, syarat yang tidak kalah penting adalah tidak terbawa hawa nafsu ketika memberikan penafsiran serta memiiki akidah yang benar sehingga hasil penafsirannya tidak melenceng dari pendapat mayoritas yang benar.

Dengan syarat yang begitu padat berisi sebagaimana tersebut di atas, maka sebagai orang yang baru belajar agama sudah selayaknya mempelajari atau membaca kitab-kitab tafsir yang telah ada ketika hendak memahami isi Alquran. ini bisa dilakukan dengan membaca kitab-kitab tafsir seperti tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Mishbah karya Quraish Shihab, atau jika memiliki kemampuan lebih dalam bahasa Arab bisa merujuk ke Tafsir al-Thabari, Tafsir Ibn Katsir dan banyak lagi yang lainnya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here