Jamal Khashoggi dan Akhir Hayatnya

4
977

BincangSyariah.com – Media internasional sedang dikejutkan dengan peristiwa tewasnya Jamal Khashoggi (Arab: Jamāl Khāshuqjī). Dia memang bukan pejabat dari negara tertentu seperti Presiden atau Menteri. Namun, ia adalah wartawan kawakan asal Arab Saudi yang kini tinggal Amerika Serikat. Nahasnya, diperkirakan sejak tanggal 2 Oktober lalu, ia ditahan kemudian disiksa sampai meninggal setelah pergi ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki untuk mengurus dokumen persiapan pernikahannya. Persoalan ini mencuat ke media setelah Turki – seperti dikutip reuters – berkeyakinan bahwa Khasshoggi disiksa oleh “pembunuh” yang diterbangkan langsung dari arab Saudi sebanyak 15 orang. Penyiksaannya pun direkam dan jenazahnya dimutilasi kemudian dikeluarkan diam-diam dari dalam konsulat. Persoalan ini semakin meluas ketika Amerika Serikat menyatakan terus mengawal kasus ini. Meskipun Donald Trump – seperti dilansir Detik – membuat pernyataan bahwa ia telah menelpon Pangeran Muhammad bin Salman untuk melakukan penyeledikan kasus ini dan meminta pihak yang menekan Arab Saudi untuk tidak segera menyalahkan Pangeran dan Kerajaan Arab Saudi.

Wartawan Senior Arab Saudi

Jamal Khashoggi memang bukan orang sembarangan. Ia sejak lama bekerja di berbagai media di Arab Saudi. Kelahiran Madinah, 13 Oktober 1958 ini adalah cucu dari Muhammad Khashoggi, pria asal Turki yang menikah dengan perempuan Arab Saudi. Muhammad adalah dokter pribadi Raja Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi Arabiia. Jamal masih sepupu dengan dengan Dodi al-Fayed, anak Muhammad al-Fayed yang meninggal bersama kekasihnya Putri Diana (setelah bercerai dengan Pangeran Charles) dalam sebuah kecelakaan mobil di Paris pada tahun 1986.

Setelah menempuh pendidikan di bidang Bisnis Administrasi di Indiana State University, Amerika Serikat, ia mulai karirnya sebagai manager toko Buku Tihama selama setahun (1983-1984). Selanjutnya, ia bekerja sebagai koresponden untuk koran Saudi Gazette dan asisten manajer koran Okaz. Keduanya sejak tahun 1985-1987. Setelah tahun 87-an sampai tahun 1990, ia menjadi reporter untuk beberapa harian di Arab Saudi seperti Asharq al-Awsat, al-Majalla dan al-Muslimoon.

Pada tahun 1991, ia menjadi manajer editor untuk koran al-Madina tahun 1991 sampai 1999. Di tahun-tahun itu, ia juga dikenal sebagai koresponden untuk beberapa negara seperti Afganistan, Aljazair, Kuwait, Sudan, dan negara Timur Tengah lainnya. Ia bahkan diklaim bekerja untuk intelijen Arab Saudi dan Amerika Serika selama Perang Afganistan. Karena itu, wajar kalau ia satu-satunya wartawan yang bisa mewawancarai Osama bin Laden di tahun 80-90an. Saat itu, Osama menjadi tokoh utama al-Qaeda untuk menyerukan jihad melawan Uni Soviet. Di tahun 1995, sekali lagi Jamal Khashoggi dapat mewawancarai Osama di Sudan.

Baca Juga :  Mengapa Islam Anjurkan Umatnya Memiliki Sifat Malu?

Tahun 2003, saat ia menjadi Kepala Reditor redaksi al-Watan, ia dipecat oleh Kementerian Informasi Arab Saudi saat baru dua bulan bekerja. Penyebabnya adalah karena ia mengizinkan tulisan seorang kolumnis yang mengkritik Ibn Taimiyah. Setelah dipecat, ia atas keinginannya sendiri diasingkan ke London. Disana, ia membantu Pangeran Turki al-Faisal di bidang Media. Pangeran kemudian menjadi Duta Besar Saudi di Amerika Serikat. April, 2007, Kashshoggi kembali menjadi kepala editor di al-Watan.

Ia kembali dipecat dari al-Watan tahun 2010 karena mengizinkan puisi yang mengkritik Salafi karya Ibrahim al-Almaee dimuat. Ia resmi dipecat pada tahun 2010. Saudi menyatakan bahwa Khasshoggi ingin fokus pada proyek pribadinya.

Dari Orang Dekat Keluarga Kerajaan sampai Kolumnis Kritis

Meski sudah tidak secara resmi bekerja di media Saudi, ia masih sering diminta menjadi komentator politik untuk televisi Saudi dan saluran internasional seperti MBC, BBC, al-Jazeera, dan Dubai TV. Secara rutin dari 2012-2016, Al Arabiya memuat opininya.

2017, Khashoggi pindah ke Amerika Serikat dan menjadi kolumnis The Washington Post. Media The Independent di tahun 2016 menyatakan bahwa Khasshoggi telah dilarang pemerintah Saudi untuk mempublikasikan dan muncul di televise untuk mengkritik Donald Trump.

Di The Washington, Khashoggi mengkritik beberapa kebijakan Arab Saudi. Diantaranya soal pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi terhadap Qatar dan penangkapan Loujain al-Hathlout, aktivis hak perempuan Arab Saudi yang ditangkap setelah melakukan gerakan “wanita menyetir” dengan membuat video menyetir melewati perbatasan Saudi menuju Uni Emirat Arab. Perlu diketahui Loujain di tahun 2015, masuk sebagai Top 100 Most Powerful Arab Women 2015. Selain Loujain, ada aktivis-aktivis perempuan lain yang juga ditangkap.

Baca Juga :  Akankah Raja Salman Mampu Singkirkan Wahabisme dari Arab Saudi?

Dalam wawancara di al-Jazeera oleh Mehdi Hasan, Khashoggi menyatakan pada prinsipnya ia setuju dengan gagasan-gagasan reformis Muhammad bin Salman. Namun, ia menyayangkan mengapa Arab Saudi masih melakukan penangkapan para aktivis. Menurutnya, transformasi itu harus menyeluruh. Itu tidak akan terjadi jika Saudi masih sering melakukan penangkapan aktivis atau intelektual.

Kolom Terakhir

Beberapa hari sebelum dia wafat, redaksi The Washington Post menerima kolom terakhir Jamal yang dikirim oleh penerjemahnya sehari setelah dia diberitakan hilang di Istanbul. Kolom tersebut berjudul “What The Arab world needs most is free expression”. Beberapa artikelnya atas inisiatif The Washington Post diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ia mengatakan bahwa dunia Arab saat ini benar-benar membutuhkan kebebasan berekspresi. Dengan kebebasan berekspresi, masyarakat biasa akan bisa menyampaikan problem struktural yang mereka hadapi sehari-hari.

Berita terakhir, Saudi Arabia menyatakan bahwa benar Kasshoggi meninggal di Konsulat namun akibat perkelahian dengan sejumlah orang yang berjumlah 15. Setelah itu, Saudi memecat dua pejabat seniornya, Saud al-Qahtani selaku Penasihat Istana Kerajaan dan Wakil Kepala Intelijen Ahmed al-Assiri. Merespon sejumlah usaha Dunia Internasional untuk menjatuhkan sanksi terhadap Saudi, Saudi mengatakan akan membalas lebih berat terhadap siapa saja yang mencoba melakukan sanksi ekonomi, politik, dan tuduhan palsu.

Perlu diketahui, Saudi Arabia saat ini memiliki kontrak pembelian senjata dengan Amerika Serikat sebesar 110 Miliar Dollar (1.600 Triliun Rupiah) diantaranya untuk keperluan menghadapi gerakan di Yaman.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here