Jaga Kesehatan dan Kebersihan; Dua Kunci Ajaran Islam Menangkal Covid-19

0
1001

BincangSyariah.Com – Serangan wabah pandemi covid-19 yang menyerang Indonesia semakin hari semakin meningkat. Hingga pada tanggal 27 Maret 2020, data menunjukan 1046 kasus, 87 orang meninggal dan 46 orang sembuh. Selain teknologi dan pelayanan kesehatan, agama memiliki peran dalam meminimalisasi penyebaran virus pandemi ini. Sebagaimana tesis Max Weber, agama memiliki peran yang cukup signifikan dalam proses perubahan sosial.

Di tengah umat Islam masih banyak yang memaksakan kehendaknya pergi ke masjid dengan alasan ibadah, bahkan ada tulisan di WAG (WhatsApp Group) yang menyebutkan ada upaya konspirasi agar masjid menjadi sepi dengan dalih penyebaran virus ini. Sungguh tuduhan yang tidak berdasar yang menyakiti saudara-saudara kita, para tenaga medis, yang sedang berjuang dalam jihad melawan covid-19.

Wabah semacam Covid-19 tentu bukanlah hal yang baru di dunia. Bahkan Nabi pernah menyerukan untuk tetap tinggal jika terjadi wabah di daerahya dan jangan pergi ke wilayah yang terdampak wabah. Prinsip pencegahan, dengan demikian, sangat dijunjung tinggi oleh Nabi. Prinsip ini sangat tepat diterapkan dalam situasi seperti saat ini. Pun dengan Umar yang menghindari wabah dengan membatalkan perjalanannya saat menuju Syam.

Sebagai agama mayoritas di Indonesia, Islam mempunyai peran dan tanggung jawab moral atas penekanan laju penyebaran covid-19. Masih banyak umat Islam yang belum memiliki kesadaran atas bahaya virus ini. Mereka lupa bahwa Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga kesehatan tubuhnya sendiri. Misalnya dalam sebuah hadis disebutkan:

وَ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu”. (HR. Muslim; No:1967)

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran; Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, hadis ini menunjukan bahwa Nabi Muhammad menegur para sahabatnya yang terlalu bersemangat dalam beribadah. Hingga akhirnya mereka melupakan kesehatan jasmaninya. Islam dengan demikian memiliki perhatian yang serius dalam persoalan kesehatan. Karena tanpa tubuh yang sehat, ibadah justru tidak dapat dilaksanakan dengan optimal.

Baca Juga :  Siapakah Orang yang Paling Buruk di Hari Kiamat?

Selain menjaga kesehatan, hal lain yang perlu diperhatikan ialah menjaga kebersihan. Para ulama tasawuf juga selain memperhatikan kesucian batin, sebagaimana lazimnya ajaran tasawuf, juga sangat memperhatikan kebersihan dan keseharan jasmani. Sayyid Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad dalam kitab Risalatul Muawwanah misalnya, beliau mengutip hadis Nabi Muhammad tentang agama dibangun di atas pondasi kebersihan untuk memulai bab tentang kebersihan. Betapa tanpa kebersihan, agama kehilangan pondasinya.

Menurut Sayyid Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad, Islam telah menganjurkan umatnya untuk menjaga wudu (tajdidul wudhu) dalam menjaga kesehatan dan kebersihan diri. Bagi beliau, wudu merupakan senjatanya orang beriman. Dengan keberadaan senjata, musuh tidak akan berani mendekat. Wudu dengan demikian menjadi simbol menjaga kebersihan dalam Islam dan senjata untuk terhindar dari kotoran, bakteri dan penyakit yang menyerang badan yang membuat seseorang tidak dapat beribadah dengan maksimal. (Baca: Tiga Keutamaan Memperbarui Wudhu)

Begitupun saat perang melawan covid-19. Orang yang enggan menjaga kebersihan dirinya dan tidak melengkapi dirinya dengan ‘senjata’ akan sangat mudah dikalahkan oleh covid-19. Tanpa menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seseorang akan terpapar serangan virus ini. Islam telah mengajarkan tentang pentingnya merawat kesehatan dan menjaga kebersihan. Tanpa keduanya, pondasi Islam rapuh. (Baca: Lima Kondisi Dianjurkan Memperbarui Wudhu?)

Dalam situasi sepert ini, bukankah menjaga diri dan beribadah di rumah agar tetap menjadi sehat sehingga mampu beribadah secara konsisten lebih utama daripada beribadah di masjid yang berakibat buruk pada kesehatan kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here