Jadikan Momen Perpisahan Lebih Bermakna

0
503

BincangSyariah.Com – Perpisahan seringkal imenjadi “dagangan” utama bagi para pujangga. Konsumennya pun banjir tumpah ruah dari segala lini, khususnya anak-anak muda. Saat ini, media sosial menjadi menjadi salah satu saksi betapa manisnya sebuah kata yang terukir akibat sebuah perpisahan.

Para penyair begitu mendalam dalam mengartikan momen perpisahan, mereka menyebutkan bahwa hakikat perpisahan merupakan bentuk harapan untuk kembali. Karena dalam bahasa Arab, kata al-wadaa’ yang memiliki arti perpisahan, jika dibalik kata dasarnya, maka akan menjadi ‘aaduu yang berarti kembali. Seorang penyair berkata

لا تأس يا قلب من وداع** فإن قلب الوداع عادوا

Janganlah berputus asa wahai hati yang sedang berpisah

Sejatinya hati yang berpisah kelak akan kembali

Hal ini menjadi sangat lumrah dikarenakan perpisahan selalu identik dengan tumpahan air mata bagi setiap pelakunya, menangisi jarak yang akan terbuat diantara orang yang dikasihi.

Maka tak jarang pada setiap momen perpisahan selalu diliputi suasana syahdu, haru, penuh untaian air mata. Hal ini pula yang menjadikan salah satu sebab akan dikabulkannya doa seorang hamba oleh Allah Swt.

Oleh karena itu syariat menuntun kita sedemikian rupa agar senantiasa menyambut perpisahan dengan hal-hal yang positif, seperti dengan nasihat, berwasiat, dan guyuran do’a demi keselamatan bersama.

Rasululllah bersabda,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ قَزَعَةَ، قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ هَلُمَّ أُوَدِّعْكَ كَمَا وَدَّعَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ»رواه أبو داود

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah meceritakan kepada kami Abdullah bin Daud, dari Abdul ‘Aziz bin Umar, dari Ismail bin jarir, dari Qaza’ah, ia berkata: berkata kepadaku Ibnu Umar: Kemarilah aku akan mengantarmu sebagaimana Rasulullah mengantarku kemudian ia mengucapkan :Aku titipkan kepada Allah Agamamu, amanahmu dan akhir dari amalanmu.)HR. Abu Daud)

Baca Juga :  Habib Bahar Pertentangkan Hukum Fikih dan Hukum Nasional, Apakah Hukum Nasional bukan Hukum Islam?

Bahwasanya doa tersebut dipanjatkan untuk mengharap kepada Allah agar kita senatiasa menjaga batas-batas agama dari segala bentuk kerusakan yang ada, yang terkadang manusia terkecoh di dalamnya.Karena dalam sebuah perjalanan selalu ada hambatan rintangan yang terkadang membuat manusia lalaiakan perkara agama. Allah Swt berfirman,

أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.

Ayat diatas menjelaskan betapa rapuhnya hati seseorang, kapan saja bias terjerumus dalam lubang keburukan. Oleh karena itu sangat dianjurkan saat berpamitan dengan seseorang disunnahkan untuk saling mendoakan dan saling berwasiat dalam kebaikan. Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِي. قَالَ: زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى، قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: وَغَفَرَ ذَنْبَكَ قَالَ: زِدْنِي بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، قَالَ: وَيَسَّرَ لَكَ الخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ.(رواه الترمذي)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhutelah datang seseorang kepada Nabi Muhammad Saw dan berkata: wahai rasulullah sesungguhnya aku ingin bersafar, maka berilah aku bekal. Rasulullah bersabda :Semoga Allah memberikanmu bekal ketakwaan. Orang-orang tersebut berkata :tambahlah. Beliau mengatakan: dan semoga Dia mengampuni dosamu. Ia berkata: tambahlah. Beliau pun menjawab: semoga Dia memudahkan untukmu segala kebaikan dimana pun engkau berada. (HR. Tirmidzi)

Dari hadis ini menunjukan betapa vitalnya peran doa dalam diri seorang hamba, menyerahkan segala perkara duniawi dan ukhrowi kepada Allah ta’ala, agar senantiasa meridhai segala perbuatan kita. Maka dari itu ketika sahabat berpamitan dengan rasulullah, beliau memberikan doa yang terbaik yaitu agar senantiasa ketakwaan menyertai mereka. Allah Swt berfirman dalam surah al-Baqarah [2]: 197,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Baca Juga :  Pohon Pindah Ke Tanah Orang Lain Akibat Longsor, Bagaimana Hak Miliknya?

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Doa yang diajarkan Nabi ini merupakan doa yang mencakup semua perkara dunia dan akhirat. Dengan landasan takwa segala niat baik tidak akan tercemar dengan riya, selalu berbuat baik dalam segala hal dimanapun berada, dan segala amal perbuatan pasti diridhai dan diterima Allah Swt. Allah Swt Berfirman dalam surah al-Ma’idah [5]: 27,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya akan menerima dari orang yang bertakwa.

Takwa merupakan harta pokok bagi umat muslim, dimana di dalamnya wujud keagungan yang begitu besar sebagai pembuka gerbang kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika Allah telah berkehendak mengabulkan agar hati kita dibekali dengan ketakwaan, niscaya Allah akan menerima amal perbuatan baik kita, melapangkan rizki kita dari hal yang tak terduga, dan melancarkan setiap permasalah hidup kita. Allah Swt berfirman dalam surah at-Thalaq: 2-3,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan jalan keluar baginya dan memeberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan segala hajatnya.

Dari segala uraian diatas, seyogyanya kita lebih dewasa dalam menghadapi perpisahan. Jangan biarkan momen-momen perpisahan hanya terisi dengan untaian air mata yang berlarut-larut. Akan tetapi, isilah momen perpisahan dengan hal-hal yang bermakna, seperti doa atau nasihat. Harapannya agar segala hajat diijabah dan diridhai oleh Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here