Jadi Mualaf, Haruskah Mengganti Nama? Ini Fatwa Syaikh bin Baz

0
673

BincangSyariah.Com – Ketika seseorang yang sebelumnya tidak beragama Islam, biasanya ia memiliki nama yang boleh jadi tidak lazim menunjukkan kalau ia adalah seorang muslim. Hari ini, biasanya umat Muslim menamainya dengan nama-nama yang bersumber dari bahasa Arab dan memiliki makna-makna yang direstui oleh agama. Misalnya, Husain, Abdullah (hamba Allah), dan sebagainya. Lalu, apakah ketika seseorang memeluk agama Islam harus mengganti nama dengan nama yang “islami”?

Jawabnya, memang Islam menganjurkan agar kita memberikan nama-nama yang baik kepada keturunan kita. Ini didasarkan oleh hadis Nabi Saw. dari Abu ad-Darda’ Ra.

إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم، فحسّنوا أسماءكم

kalian akan dipanggil di hari kiamat dengan nama kalian dan nama ayah kalian. Maka perbaguslah nama kalian.

Karena itu, prinsipnya adalah jika nama tersebut sudah memiliki makna yang baik dan tidak ada kesan membenarkan kekufuran agama yang sebelumnya ia anut, maka nama tersebut bisa terus dipakai. Memang ada perbedaan pendapat soal itu. Ada yang mengatakan lebih baik diganti,dan ada juga yang tidak. Seorang ulama besar Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Baz pernah berpendapat soal ini,

إذا كان اسمه ليس بحسن شرع له تغيير اسمه بعد الإسلام، ولأن تغييره أيضاً يعطي انطباعاً واضحاً وظاهراً عن انتقاله للإسلام، وأنه قد انتقل إلى الإسلام؛ لأنه يسأل عن أسباب التغيير، فيعرف الناس أنه أسلم، وأيضاً في الغالب أن أسماءهم في الكفر قد لا تكون مناسبة، فيغير بأسماء إسلامية: كصالح وأحمد وعبد الله وعبد الرحمن ومحمد ونحو ذلك، وأما إن كان اسمه معبداً لغير الله كعبد المسيح، أو عبد الزهرة، أو عبد موسى أو عبد عيسى، هذا يجب تغييره، لأنه لا يعبد إلا لله سبحانه وتعالى، فإذا كان اسمه معبداً لغير الله وجب أن يغير، بعبد الله وبعبد الرحمن أو نحو ذلك، أما إذا كان ما عبد لغير الله، ولكن أسماء معروفة عند الكفرة ومن عادة الكفرة، فالأولى تغييرها والأفضل تغييرها إلى أسماء إسلامية.

Baca Juga :  11 Istri Nabi Muhammad Saw ini adalah Janda, Hanya Satu yang Tidak

Jika namanya tidak baik (menurut agama), maka disyariatkan untuk merubah namanya setelah masuk Islam. Karena, perubahan nama ini menjadi penanda yang jelas telah berpindah agamanya ia menjadi Islam. Karena, ia (boleh jadi) akan ditanya kenapa mengganti namanya, maka diketahuilah kalau ia masuk islam. Kemudian, nama yang ia miliki saat masih kafir (belum beriman) boleh jadi tidak sesuai (dengan ciri keislaman), maka digantilah dengan nama-nama yang “islami”, seperti Shalih, Ahmad, Abdullah, Abdurrahman, Muhammad dan sebagainya. Jika namanya menunjukkan kalau ia “menghamba” kepada selain Allah, misal ‘Abd al-Masih, ‘Abd az-Zahrah, ‘Abd Musa, ‘Abd Isa, ini wajib diubah karena tiada yang disembah kecuali Allah. Maka wajib diubah dengan nama semisal Abdullah, Abdurrahman, dan semacamnya. Adapun jika namanya tidak mengandung unsur menghamba kepada selain Allah, namun nama-nama itu dikenal sebagai nama-nama orang non-muslim, maka yang lebih baik adalah menggantinya.

 Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here