Isyarat-Isyarat dari Nasihat Luqman al-Hakim

0
733

BincangSyariah.com – Salah satu ciri khas Syaikh ‘Ali al-Shabuni dalam karya tafsirnya, Tafsīr Āyāt al-Aḥkām adalah menjelaskan kelompok ayat kemudian membedahnya secara rinci. Dimulai dari makna kebahasaan dari kata-kata yang dianggap asing/gharīb, kemudian makna kelompok ayat secara umum, sebab turunnya ayat (sabab al-nuzūl), dimensi-dimensi menarik dan mendalam dari tafsir kelompok ayat (laṭāif al-tafsīr), ragam qirā’at, hingga poin-poin hukum (al-aḥkām al-shar’iyyah).

Saya akan mencoba mengutipkan bagai laṭāif ketika mengulas kelompok ayat tentang pentingnya berakhlak menurut Luqman al-Hakim. Ayat tersebut terdapat dalam surah Luqman: 12-15. Meskipun, sebenarnya poin-poin tentang nasihat Luqman kepda anaknya sampai ayat ke-19.

Menurut beliau, al-Shabuni, ada beberapa laṭāif yang terdapat dalam kelompok ayat 12-15 dari surah Luqman,

Pertama, setelah Allah Swt. menasihati kita untuk berbakti kepada orangtua (birr al-walidain), Allah secara khusus membicarakan soal ibu. Inilah yang masuk kedalam kategori dzikr al-khāṣ ba’da al-‘ām. Tujuannya adalah untuk memberikan perhatian yang lebih besar lagi. Karena hak berbakti kepada ibu itu lebih tinggi lagi dari berbakti kepada bapak.

Kedua, ketika Allah Swt. memerintahkan kita untuk bersyukur terhadap orang tua, Allah Swt. memulainya dengan bersyukur kepada dirinya terlebih dahulu. Mendahulukan Tuhan sebelum orangtua ini adalah isyarat bahwa haqqullāh (hak untuk Allah) itu lebih besar daripada kedua orangtua. Karena itulah, bersyukur kepada Tuhan jauh lebih diharuskan. Karena Allah adalah Tuhan Pemberi nikmat yang sejati, menganugerahi para hamba-Nya dengan aneka nikmat, diantaranya adalah nikmat bersyukur kepada orangtua.

Ketiga, penyebutan redaksi ilayya al-mashir atau tsumma ilayya marji’ukum (kemudian kepadaku kalian akan kembali) menunjukkan makna al-hashr (pengkhususan tujuan). Ini artinya kita semua memang pada akhirnya kembali kepada haribaan Tuhan. Bukan kepada yang lain. Dan itu berlaku untuk seluruh makhluk Allah.

Baca Juga :  Hukum Menjarah dalam Islam

Keempat, penyebut kata fi al-dunya dalam ayat …wa ṣāhibhumā fi al-dunyā ma’rūfā mengisyaratkan tentang perkara sebentarnya kita bersama dengan makhluk. Maksudnya, durasi kita hidup bersama makhluk ciptaan Allah yang lain, termasuk orang tua kita, itu sebentar saja. Karena itulah, kita tidak perlu menganggap terlalu sulit kehidupan di dunia. Cukup melakukannya sebaik mungkin termasuk berbakti pada orangtua.

Kelima, ayat wattabi’ sabīla man anāba ilayya mengisyaratkan kita bahwa dalam berbuat baik termasuk kepada orangtua, kita sedang mengikuti jalan orang-orang yang dekat, dan mau kembali kepada Tuhan. Mereka inilah yang termasuk golongan orang sholih dan para ulama terdahulu (al-salaf). Sebagian penafsir langsung menunjuk bahwa kata man anāba ditafsirkan sebagai Abu Bakar As-Shiddiq.

Semoga kita diberikan rahmat Allah Swt. untuk mampu meresapi makna-makna Alquran dengan baik. Wallahu al-Musta’ān.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here