Isyarat Al-Quran tentang Mengolah Hasil Bumi

0
28

BincangSyariah.Com – Kurma dan anggur adalah salah satu komoditas pertanian di negeri Arab pada masa kenabian yang cukup banyak memberikan pemasukan rejeki.

Namun uniknya ayat Al-Quran turun justru memberi isyarat agar hasil bumi itu perlu diolah jadi produk baru yang punya nilai jual lebih baik. Maka seperti hasil panen buah kurma dan anggur jangan dijual begitu saja, tapi silahkan diolah terlebih dahulu, menjadi khamar yang memabukkan, maka nilai jualnya akan berkali lipat.

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. (QS. An-Nahl : 67)

Hampir semua kitab tafsir menceritakan bahwa ayat ini turun di periode Mekkah, saat dimana keharaman khamar belum diberlakukan.

Isyarat Al-Quran tentang mengolah hasil bumi ini menarik kita terapkan hari ini, dalam konteks Indonesia sebagai negeri yang punya banyak potensi hasil bumi, baik pertanian atau pertambangan. Produk agro industri sebaiknya jangan dijual apa adanya, tapi sebaiknya diolah dulu agar nilainya jadi berlipat, baru dijual untuk ekspor Minyak yang ada di negeri kita seharusnya jangan dijual dalam bentuk minyak mentah, tapi silahkan diolah dulu biar nilainya jadi berlipat ganda, baru diekspor.

Tentang Nikel

Minyak bumi mungkin sudah terlambat, tapi ke depan nikel masih jadi potensi luar biasa. Karena negeri kita ternyata punya banyak kandungan nikel, padahal ke depan nikel ini akan menjadi komoditas yang dicari-cari seluruh dunia, menggantikan posisi minyak bumi yang sudah diramalkan mau habis.

Nikel? Nikel jadi bahan bakar alternatif? Bukan, bukan jadi bahan bakar tapi jadi media penyimpanan arus listrik. Ke depan kita tidak lagi pakai bahan bakar minyak, tapi pakai listrik. Sumber pembangkit listrik cukup banyak, entah itu energi surya, panas bumi, cold fushion, dan lain-lain. Dan bisa dari sumber-sumber yang terbarukan. Tidak usah khawatir dengan sumber energi yang berlimpah.

Baca Juga :  Penjelasan tentang Zakat untuk Hasil Pertanian

Tapi semuanya akan disimpan dalam bantuk tenaga listrik. Media penyimpanannya adalah baterai, aki atau apapun lah istilahnya. Bahan baku baterai itu macam-macam, tapi yang paling efisien, ekonomis, hemat dan powerful adalah: nikel. Dan bahan bakunya cukup banyak di negeri kita. Selama ini kita ekspor mentah-mentah begitu saja.

Padahal kalau pakai surat An-Naml [16]: 67 di atas, hasil tambang nikel sebaiknya jangan langsung dijual, tapi diolah dulu jadi baterai, baru diekspor. Bukan hanya HP dan alat elektrotik yang doyan listrik, bahkan industri otomtotif dunia sudah mulai berpindah dari membakar fosil ke arah mesin bertenaga listrik.

Ada banyak sumber daya listrik, bahkan lewat sumber daya yang terbarukan. Namun masalahnya bukan di bahan baku sebagaimana minyak bumi, masalahnya ada di media penyimpanan listrik alias baterai. Percuma revolusi perpindahan dari mesin berbahan bakar minyak ke berbahan baku listrik, kalau tidak ada baterai.

Maka ke depan, yang lebih kita butuhkan tidak lagi industri pengolahan minyak bumi, tapi industri yang memproduksi baterai. Sebab listrik itu butuh tempat penampungan dan benda yang mampu menampungnya disebut baterai. Bahan bakunya adalah nikel. Nikel itu adanya di dalam bumi, harus ditambang lalu diolah biar jadi baterai.

Di masa mendatang, negara kaya bukan lagi yang berlimpah dengan minyak bumi, tapi yang kaya dengan nikel, atau lebih tepatnya yang mampu memproduksi baterai terbaik tapi murah dan terjangkau. Yang menang dipastikan hanya yang punya sumber tambang nikel itu. Dan alhamdulillah negeri kita termasuk negeri kaya nikel. Masalahnya selama ini nikel kita jual mentah-mentah ke berbagai negeri produsen baterai. Begitu sudah jadi baterai, barulah kita impor dengan harga puluhan kali lipat.

Baca Juga :  Kota Valencia; Lumbung Pertanian Masyarakat Muslim Spanyol

Solusi

Kuncinya sebenarnya sederhana saja, setidaknya di atas kertas, yaitu kenapa kita tidak bikin industri pengolahan nikel sendiri? Tapi kenyatannya solusi itu justru sulit sekali diwujudkan di alam nyata, karena beberapa alasan:

Pertama, kita belum punya modal, teknologi, para ahli dan juga sistem alur pengolahan dan distribusinya. Teknologinya benar-benar baru. Coba bandingkan baterai handphone di tahun 2000 yang segede gajah dengan baterai HP kita di masa sekarang. Yang sekarang ini jauh lebih tipis, ringan tapi muatnya banyak. Sayangnya teknologinya masih perlu dipelajari dari negeri produsennya.

Kedua, ternyata sadar atau tidak sadar, banyak pihak yang tidak suka kalau kita punya industri baterai sendiri. Misalnya negeri produsen baterai yang selama ini impor bahan mentah nikel murah meriah dari Indonesia. Mereka tentu tidak suka kalau kita produksi sendiri. Mereka maunya beli bahan baku dari kita semurah-murahnya. Ya, wajarlah. Namanya juga orang usaha. Pasti berpikir mencari untung besar.

Selain itu masalah muncul dari para pengusaha lokal yang terlibat bisnis ekspor nikel mentah. Mereka otomatis kehilangan sumber mata pencaharian, kalau sampai kita punya industri baterai sendiri. Menurut sebagian kalangan, perang di masa mendatang bukan lagi perang karena rebutan minyak tapi perang rebutan nikel, bahan baku industri baterai. Meski mendalami tafsir, tapi kita juga perlu membaca realitas (waqi’), khususnya di bidang sains. Biar tafsir ayat Al-Quran bisa tetap implementatif di hari ini, meski ayatnya sudah turun sejak 1400 tahun yang lalu.

Tulisan ini bersumber dari akun Facebook Ustz. Ahmad Sarwat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here