Istri Berpakaian Tipis di Depan Suami, Bolehkah?

0
1047

BincangSyariah.Com – Seorang istri dianjurkan untuk berhias di depan suaminya. Begitupun sebaliknya, suami berhias bagi istrinya. Baik dengan pakaian, wangi-wangian dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 228:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوف

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS al-Baqarah: 228)

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata lahunna dengan arti “bagi para wanita,” berarti mereka para wanita memiliki hak yang harus ditunaikan suaminya. Sebagaimana laki-laki mendapatkan hak yang harus ditunaikan istrinya.

Jika berhias itu merupakan hak bagi keduanya, maka istri dibolehkan mengenakan pakaian tipis, ketat, dan pendek di hadapan suaminya. Karena tidak ada batasan aurat antara suami dengan istri, begitupun dengan budaknya. Allah Swt berfirman:

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ

Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka. Kecuali di hadapan istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka mereka dalam hal ini tidaklah tercela (bila menampakkannya).” (QS al-Mukminun: 56)

Dalil kebolehan istri berpakaian tipis dan menampakkan aurat kepada suaminya sebagaimana hadis dari Aisyah r.a. Beliau menceritakan,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ

Aku pernah mandi bersama Nabi saw dari satu bejana dan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian hadis dari Mu’awiyyah bin Haidah alQusyairi:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنَ حَيْدَةَ الْقُشَيْرِيّ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ : عَوْرَاتُنَا مَا نَأتِي مِنْهَا وَمَا نَذَرُ ؟ قَالَ ‏:‏ احْفَظْ عَوْرَتَكَ إلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ ، أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ الْقَوْمُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ ، قَالَ : إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَرَيَنَّهَا أَحَدٌ فَلَا يَرَيَنَّهَا  قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ أَحَدُنَا خَالِياً ، قَالَ : اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنْ النَّاسِ

“Dari Mu’awiyyah bin Haidah al-Qusyairi berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw: wahai Rasulullah, aurat mana saja yang harus saya tutupi dan yang boleh saya buka? Beliau menjawab: jagalah auratmu kecuali di hadapan istrimu atau budak wanitamu. Aku bertanya lagi: wahai Rasululah, bagaimana jika seseorang berada di tempat umum, berkumpul banyak orang? Beliau menjawab: jika engkau mampu menutupi auratmu agar tak ada satupun dari mereka yang melihatnya maka mereka tidak akan melihat auratmu. Aku bertanya lagi: bagaimana jika salah seorang di antara kami berada ditempat sepi? Beliau menjawab: seharusnya engkau lebih malu kepada Allah daripada kepada manusia.” (HR at-Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

Baca Juga :  Hukum Menyetubuhi Istri Lewat Jalan Belakang


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here