Ismail Fajrie Alatas: Dinasti Umayyah dan Abbasiyah Belajar dari Imperium Persia dan Romawi

0
104

BincangSyariah.Com – Ismail Fajrie Alatas, Assistant Professor Kajian Islam dan Timur Tengah di New York University menyatakan di Geolive bahwa banyak pelajaran tentang keterbukaan yang penting dari zaman keemasan Islam.

Sayangnya, konsep zaman keemasan Islam cukup problematik. Konsep zaman keemasan Islam yang sering digaungkan dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah wacana setelah pertemuan dengan imperialisme Barat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak perkembangan infrastruktur yang baik, mekanisme birokrasi yang luar biasa. Adanya wakaf-wakaf dari para penguasa untuk institusi-institusi pendidikan, riset, perpustakaan, universitas dan lain-lain sehingga Baghdad digambarkan sebagai kosmopolit yang hebat, majemuk, dan sangat heterogen.

Ada kekayaan yang luar biasa sehingga ada institusi dan infrastruktur yang luar biasa. “Tetapi yang harus kita pahami adalah yang memungkinkan itu terjadi Ada keterbukaan orang-orang Arab pada elemen-elemen asing.” Jelasnya.

Dinasti Abbasiyah ada 300 tahun setelah zaman Nabi Muhammad Saw. Orang-orang Arab dari padang pasir kota Mekkah memang merupakan satu kota yang cukup maju, tapi bukan seperti Konstantinopel atau Alexandria.

Dalam kurun waktu yang begitu singkat, mereka bisa membangun Damaskus yang luar biasa dan bisa membangun Baghdad yang luar biasa. Di situ ada opened yang luar biasa. Orang-orang Arab tidak mempunyai konsep imperium pada saat mereka melakukan perluasan yang luar biasa.

Sepeninggal Nabi Muhammad Saw., mereka melihat orang-orang Persia yang hebat sebab mempunyai imperium yang berumur ratusan tahun, berkembangnya peradaban yang ribuan tahun. Mereka lihat Byzantium yang merupakan suksesor dari Roman Empire yang memiliki tatanan hukum dan art yang luar biasa.

Hebatnya, orang-orang Arab kuat secara militer tapi tidak punya peradaban. Mereka tidak segan-segan untuk mengadopsi kemajuan yang terjadi. Saat kita melihat Dinasti Umayyah, birokratnya pada umumnya di Khilafah adalah non-muslim. Kebanyakan orang Armenia, orang-orang Yahudi, orang Greek yang mana mereka sudah terbiasa. They know how to run empire.

Mereka tidak anti terhadap orang-orang non-muslim yang masuk ke dalam sistem. Mereka tahu kalau tidak mengerti sistemnya. Zaman dulu, orang yang menjadi birokrat biasanya anaknya menjadi birokrat, cucunya menjadi birokrat dan ada sistem stratifikasi sosial.

Baca Juga :  Ayat-Ayat Alquran tentang Malu dan Tafsir Singkatnya

Orang Arab tidak paham birokrasi. Mereka lihat orang-orang Yunani yang paham tentang birokrasi. Salah satu karakter dasar imperium pre modern adalah pada saat mereka menaklukkan satu wilayah, mereka biasanya hanya mengganti top leadershipnya saja. Sistemnya, birokrasinya, sampai ke bawah itu tetap dijaga. Sebab mereka menginginkan kontinuitas, stabilitas.

Begitu juga dengan Abbasiyah di Irak dan Persia. Mereka lihat orang-orang Persia sudah sangat maju, mempunyai hukum dan lain sebagainya. Secretarial culture yang luar biasa, sastra, mereka gunakan untuk membangun imperium atau peradaban.

Bahkan kalau kita lihat salah satu kitab fiqih yaitu kitab hukum Islam yang kita sebut sebagai hukum Islam sekarang awalnya bernama Al-Kharaj, hukum perpajakan yang ditulis oleh muridnya Abu Hanifah, Abu Yusuf.

Saat ini, kitab tersebut dibaca sebagai hukum Islam. Padahal, kalau dibaca dan kita lihat misalnya dengan kitab-kitab Hukum Pajak Imperium adalah copy-paste. Hanya kemudian ditambah-tambahkan saja, artinya disesuaikan.

Mereka bisa membangun imperium yang kemudian disebut sebagai zaman keemasan karena mereka mempunyai sedikit keterbukaan yang luar biasa terhadap apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu baik yang ada di berbagai daerah dan asalnya kelompok-kelompok yang lebih dalam kultur lain.

Walaupun misalnya kelompok yang lebih puritan suka marah juga. Nama Khilafah hanya pencatutan, ada mirroring proses seperti empire. Ismail menambahkan, “Jadi, kalau kita mau jadi empire, kita harus seperti mereka juga. Orang-orang yang pro khilafah dan sebagainya tidak bisa mengimajinasikan hal seperti itu.”

Sejarawan besar Islam bernama Ibnu Khaldun menulis Muqaddimah, introduction history. Dia berbicara tentang ilmu sejarah. Bukunya dianggap sebagai salah satu foundation text in historiography.

Dia bilang salah satu karakter dasar tradisi kesarjaan Islam abad pertengahan adalah mereka berasumsi bahwa yang namanya hikmah adalah sesuatu yang netral dan bisa ditemukan di  mana-mana.[]

Baca Juga :  Apa Arti Ungkapan Ramadan Karim?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here